Daging Kurban di Tengah Ancaman Cacing Hati, Begini Penjelasan Dokter Hewan

Distomatosis merupakan infeksi parasit yang menyerang organ hati hewan ternak seperti sapi dan kambing. Penyakit ini disebabkan oleh cacing trematoda, salah satunya fasciola hepatica, yang dapat merusak hati dan mengganggu fungsi pencernaan

06 Jun 2025 - 15:14
Daging Kurban di Tengah Ancaman Cacing Hati, Begini Penjelasan Dokter Hewan
Sapi yang dibawa pedagang di pasar Selasaan Kabupaten Bondowoso (Foto : Rizqi/SJP)

SURABAYA, SJP – Hari Raya Iduladha atau hari raya kurban, memang selalu identik dengan meningkatnya konsumsi daging di kalangan masyarakat. Biasanya, yang diterima warga adalah daging sapi dan kambing.

Namun, perlu diketahui, di tengah semarak perayaan Iduladha, penyakit cacing hati atau distomatosis mengintai menjadi ancaman kesehatan karena dapat menurunkan kualitas daging kurban dan berisiko bagi kesehatan jika daging terkontaminasi tersebut dikonsumsi oleh manusia.

Distomatosis merupakan infeksi parasit yang menyerang organ hati hewan ternak seperti sapi dan kambing. Penyakit ini disebabkan oleh cacing trematoda, salah satunya fasciola hepatica, yang dapat merusak hati dan mengganggu fungsi pencernaan.

Dokter hewan, drh Aditya Yudhana, menyebutkan distomatosis berdampak besar pada kualitas produksi ternak, terutama sapi karena infeksi cacing ini menyebabkan penyerapan nutrisi dari tubuh inang berkurang secara signifikan.

“Cacing hati merupakan endoparasit yang menyerap nutrisi dari dalam tubuh inang. Semakin banyak jumlah cacingnya, semakin besar pula nutrisi yang hilang hingga menyebabkan malnutrisi,” jelas drh Aditya di Surabaya, Jumat (6/6/2025).

Berkurangnya nutrisi pada hewan sapi, dikatakan drh Aditya, menyebabkan penurunan produksi susu. Sementara pada sapi potong, bobot daging yang dihasilkan akan menurun drastis, sehingga mempengaruhi nilai ekonomi hewan tersebut.

Lebih lanjut drh Aditya Yudhana mengatakan, masyarakat tidak perlu khawatir. Daging sapi yang berasal dari hewan terinfeksi cacing fasciola tetap aman dikonsumsi karena parasit tersebut tidak hidup di jaringan otot atau daging.

Penularan hanya terjadi jika manusia mengonsumsi tumbuhan atau sayuran yang terkontaminasi larva cacing (metacercaria) dan tidak diolah dengan benar.
Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk mengolah makanan dengan benar sehingga higienis untuk dikonsumsi.

“Cacing ini menempel di saluran empedu di dalam hati, bukan di daging. Bahkan jika cacing dewasa tidak sengaja termakan, tidak akan menyebabkan infeksi pada manusia,” ujarnya.

Sapi yang terinfeksi cacing hati dapat dikenali lewat body condition scoring (BCS). Nilai BCS sapi sehat biasanya berkisar 3 sampai 5, sedangkan sapi terinfeksi turun menjadi 1 atau 2. Meski daging aman, bagian hati yang terinfeksi harus segera dibuang atau dipotong sebagian.

“Sapi terinfeksi tampak kurus dengan tulang menonjol dan rambut kusam. Dalam kasus parah bisa terjadi anemia yang ditandai gusi atau selaput mata pucat. Bagian hati yang sehat masih aman dikonsumsi, tapi bagian terinfeksi harus dibuang untuk mencegah konsumsi jaringan rusak,” tegas drh Aditya.

Masyarakat diimbau untuk memilih daging yang memenuhi prinsip aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH) dengan ciri-ciri daging segar antara lain warna merah cerah, lemak kekuningan, tekstur kenyal, bau khas daging, serta tidak berlendir atau berair. (**)

Editor : Rizqi Ardian
Sumber : Beritasatu.com

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow