Cuaca Ekstrem, Ribuan Nelayan Prigi Trenggalek Terpaksa Tidak Melaut di Tengah Musim Panen Ikan

Cuaca buruk yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir, memaksa nelayan pantai Prigi untuk berhenti melaut. Hal itu menyebabkan harga ikan laut naik drastis.

08 Jul 2025 - 17:43
Cuaca Ekstrem, Ribuan Nelayan Prigi Trenggalek Terpaksa Tidak Melaut di Tengah Musim Panen Ikan
Kapal nelayan parkir berjajar di teluk Prigi, Trenggalek. (Beny/SJP)

TRENGGALEK, SJP - Ribuan nelayan di kawasan pesisir Prigi, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, terpaksa menghentikan aktivitas melaut akibat cuaca ekstrem yang terjadi sejak beberapa bulan terakhir. Ironisnya, cuaca buruk ini datang justru di tengah musim panen raya ikan yang seharusnya menjadi puncak penghasilan bagi para nelayan.

Mamad, salah seorang nelayan Pantai Prigi, mengatakan bahwa kondisi cuaca di wilayah Teluk Prigi mulai memburuk sejak empat bulan terakhir. Namun, dua bulan terakhir yakni Mei hingga Juni, menjadi periode paling ekstrem.

"Di Teluk Prigi, cuaca memburuk sudah 4 bulan ini. Yang paling ekstrem dua bulan terakhir dari sekarang, bulan Mei - Juni. Semua tidak bisa melaut," ujar Mamad saat ditemui, Selasa (8/7/2025).

Menurut Mamad, pada bulan Maret dan April, nelayan juga sempat tidak melaut, namun bukan karena cuaca ekstrem, melainkan karena nihilnya hasil tangkapan.

"Dua bulan sebelumnya sudah tidak melaut, bukan karena cuaca ekstrem. Bulan Maret - April cuaca tidak terlalu ekstrem, tapi karena memang tidak ada ikan," jelasnya.

Seharusnya, lanjut Mamad, periode bulan Juni dan Juli menjadi masa panen raya ikan, seperti tongkol dan cakalang, yang biasa dimanfaatkan nelayan untuk memperoleh hasil tangkapan melimpah.

"Biasanya di bulan-bulan ini cuaca tidak ekstrem, tapi justru bulan 6 dan 7 itu masa panen raya ikan. Tapi entah kenapa di tahun ini cuacanya sangat ekstrem. Gelombang dan anginnya luar biasa," ungkap Mamad.

Ia menambahkan bahwa pola musim ikan biasanya berlangsung konsisten setiap tahun, dengan tanda-tanda ikan mulai muncul sejak April dan Mei, kemudian puncaknya pada bulan Juni hingga Oktober, sebelum berkurang drastis pada bulan November. Namun tahun ini, pola tersebut tidak terlihat karena cuaca laut yang tidak bersahabat.

Cuaca ekstrem menyebabkan gelombang laut mencapai ketinggian 4 hingga 5 meter, kondisi yang sangat membahayakan keselamatan nelayan, terutama mereka yang menggunakan kapal kecil atau peralatan sederhana.

"Jumlah kapal purse seine disini ada 137. Nelayan purse seine itu kapalnya dua, satu untuk alat tangkap bawa jaring, satu lagi untuk bawa ikan. Yang lainnya ada nelayan pancing tonda, itu juga tidak bisa melaut. Nelayan tonda biasanya itu luar biasa, mereka bisa sampai di lintang 9, tapi sekarang semua berhenti," terang Mamad.

Kondisi ini berdampak besar pada ekonomi masyarakat pesisir. Mayoritas nelayan Prigi kini menganggur dan tidak memiliki sumber pendapatan lain. Sebagian kecil di antaranya mencoba bertahan dengan mengelola lahan pertanian sambil menunggu cuaca membaik.

Selain itu, terbatasnya pasokan ikan akibat tidak adanya aktivitas melaut membuat harga ikan di pasaran melambung tinggi. Ikan tongkol misalnya, kini dijual hingga Rp25 ribu per kilogram. Padahal, saat musim panen normal, harganya hanya berkisar Rp4 ribu hingga Rp10 ribu per kilogram. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow