Ciptakan Rumah Ramah Anak dari Keluarga, Dinsos P3AKB Bondowoso Ajak Orang Tua Tinggalkan Pola Asuh dengan Kekerasan

Dinsos P3AKB Bondowoso mengedukasi warga Desa Ampelan tentang pentingnya Rumah Ramah Anak melalui pola asuh positif, komunikasi efektif, dan budaya literasi keluarga sebagai upaya mencegah kekerasan terhadap anak dan stunting.

20 Jul 2026 - 21:01
Ciptakan Rumah Ramah Anak dari Keluarga, Dinsos P3AKB Bondowoso Ajak Orang Tua Tinggalkan Pola Asuh dengan Kekerasan
Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Dinsos P3AKB Bondowoso, Hafidhatullaily saat menjadi pemateri dalam eminar edukasi keluarga bertajuk "Dari Rumah untuk Masa Depan".yang digelar mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 224 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) (Foto : Rizqi/SJP)

BONDOWOSO, SJP – Rumah yang ramah anak tidak ditentukan oleh luas bangunan atau kemewahan fasilitas, melainkan dari sejauh mana orang tua mampu menghadirkan rasa aman, kasih sayang, dan pengasuhan yang bebas dari kekerasan. Lingkungan keluarga yang sehat dinilai menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter anak sekaligus mendukung tumbuh kembangnya secara optimal.

Pesan tersebut mengemuka dalam seminar edukasi keluarga bertajuk "Dari Rumah untuk Masa Depan".yang digelar mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 224 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya dengan menghadirkan pemateri dari Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AKB) Bondowoso di Balai Desa Ampelan, Kecamatan Wringin, Senin (20/7/2026).

Kegiatan yang diikuti para orang tua, kader masyarakat, tokoh masyarakat, dan warga setempat itu, peserta dibekali pemahaman mengenai pola asuh positif, komunikasi efektif dalam keluarga, penguatan budaya literasi, hingga pentingnya menciptakan rumah yang aman dan nyaman bagi anak.

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Dinsos P3AKB Bondowoso, Hafidhatullaily, menegaskan, membangun rumah ramah anak merupakan investasi jangka panjang dalam menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan berkarakter.

Menurutnya, pencegahan kekerasan terhadap anak maupun stunting tidak hanya bergantung pada pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kualitas pengasuhan dan keharmonisan di dalam keluarga.

Hafidhatullaily menegaskan, rumah yang ramah anak tidak diukur dari kemewahan bangunan, melainkan dari rasa aman, kasih sayang, dan penghargaan yang diterima anak setiap hari.

"Rumah Ramah Anak adalah rumah yang memberikan perlindungan, kasih sayang, ruang bagi anak untuk menyampaikan pendapat, serta pengasuhan tanpa kekerasan. Di lingkungan keluarga inilah karakter anak pertama kali dibentuk," ujarnya.

Ia menjelaskan, orang tua merupakan teladan utama bagi anak. Karena itu, pola asuh positif harus menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, orang tua dapat memulainya melalui langkah sederhana, yakni memeluk anak, mendengarkan setiap cerita mereka, membiasakan perilaku baik, menjelaskan alasan di balik setiap aturan, dan selalu mendampingi proses tumbuh kembang anak.

Sebaliknya, wanita yang karib disapa Leli ini mengingatkan agar orang tua menghentikan berbagai bentuk kekerasan verbal maupun fisik terhadap anak. Membentak, menghina, membanding-bandingkan anak dengan orang lain, hingga memberikan hukuman fisik dinilai hanya akan meninggalkan dampak psikologis yang dapat memengaruhi perkembangan anak dalam jangka panjang.

"Komunikasi yang baik akan membuat anak merasa aman untuk bercerita kepada orang tuanya. Saat anak didengarkan tanpa dihakimi, kepercayaan dalam keluarga akan tumbuh dengan sendirinya," katanya.

Selain pola asuh, seminar tersebut juga menyoroti pentingnya membangun budaya literasi sejak dini. Kabid PPPA mengatakan, literasi bukan sekadar kemampuan membaca, tetapi juga kebiasaan berdiskusi, bertanya, dan berpikir kritis yang dimulai dari lingkungan keluarga.

Ia mendorong orang tua membiasakan membaca bersama anak selama 10 hingga 15 menit setiap hari, mengurangi penggunaan gawai, serta mengajak anak berdiskusi mengenai berbagai hal sederhana di rumah. Kebiasaan tersebut diyakini mampu meningkatkan kemampuan berpikir, memperkaya wawasan, membangun rasa percaya diri, sekaligus mempererat hubungan emosional antara orang tua dan anak.

"Anak akan lebih mudah mencintai kegiatan belajar apabila melihat langsung teladan dari orang tuanya. Karena itu, budaya literasi harus dimulai dari rumah, bukan hanya di sekolah," ungkapnya.

Mewakili Kepala Dinsos P3AKB, Hafidhatullaily mengajak seluruh keluarga membiasakan enam langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari, yakni meluangkan waktu berkualitas bersama anak, mendengarkan cerita mereka setiap hari, membatasi penggunaan gawai, membiasakan membaca bersama, menghindari segala bentuk kekerasan, serta memberikan teladan yang baik.

"Anak yang tumbuh dalam kasih sayang akan belajar mencintai dirinya sendiri dan orang lain. Perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil di rumah. Mari bersama mewujudkan rumah aman, anak nyaman, dan keluarga bahagia," pungkasnya. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow