Bupati Bondowoso Buka UNESA ICD 2026, Wujud Nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi
Pembukaan UNESA ICD 2026 di Bondowoso menjadi momentum kolaborasi global untuk penguatan desa, pengembangan Geopark Ijen, pertanian unggulan, serta peningkatan kapasitas UMKM dan SDM lokal.
BONDOWOSO, SJP – Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid secara resmi membuka kegiatan International Community Development (ICD) 2026 yang digelar Universitas Negeri Surabaya (UNESA) di Kabupaten Bondowoso, Kamis (5/2/2026).
Kegiatan ini diikuti delegasi akademisi dan mahasiswa internasional dari berbagai negara serta menjadi momentum penguatan kolaborasi pembangunan berbasis desa.
Dalam sambutannya, Bupati Abdul Hamid Wahid menyampaikan apresiasi atas kepercayaan UNESA yang menjadikan Bondowoso sebagai mitra strategis dalam program ICD 2026 yang didukung pendanaan EQUITY-LPDP.
Menurutnya, kehadiran sivitas akademika UNESA merupakan wujud nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang mampu mendorong pembangunan daerah.
“Pemerintah Kabupaten Bondowoso sangat bangga menjadi bagian dari program ini. Kolaborasi akademik dan internasional seperti ini tidak hanya memperkuat pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga menjadi mesin penggerak pembangunan daerah,” ujarnya.
Bupati juga memperkenalkan potensi Bondowoso sebagai bagian dari Ijen Geopark yang telah diakui UNESCO. Ia menyebut fenomena Blue Fire Kawah Ijen, kekayaan bentang alam pegunungan, serta situs-situs megalitikum sebagai modal besar pengembangan pariwisata berbasis lingkungan dan riset internasional.
Selain sektor pariwisata, Abdul Hamid Wahid menegaskan, Bondowoso memiliki ketahanan pangan yang kuat. Kabupaten ini dikenal sebagai sentra pertanian dan perkebunan, khususnya kopi Arabika Ijen Raung yang telah mengantongi Sertifikat Indikasi Geografis (IG) dengan branding Bondowoso Republik Kopi.
“Pertanian, hortikultura, padi organik, dan peternakan adalah fondasi ekonomi masyarakat kami. Kemandirian pangan harus dimulai dari penguatan petani di tingkat desa,” tegas bupati yang karib disapa Ra Hamid ini.
Lebih lanjut, Ra Hamid menekankan pentingnya pembangunan masyarakat berbasis desa melalui perbaikan tata kelola pemerintahan desa yang akuntabel serta penguatan literasi digital bagi generasi muda. Menurutnya, pemuda desa harus mampu menjadi pelaku utama dalam memasarkan potensi lokal di era ekonomi digital.
Dalam kesempatan tersebut, Abdul Hamid Wahid menitipkan sejumlah harapan kepada peserta ICD 2026, antara lain adanya transfer pengetahuan yang aplikatif, lahirnya solusi inovatif dan berkelanjutan bagi permasalahan desa, serta dukungan promosi potensi Bondowoso di tingkat internasional.
“Saya berharap para delegasi internasional dapat menjadi duta Bondowoso di negaranya masing-masing setelah melihat langsung keindahan alam dan keramahan masyarakat kami,” katanya.
Rangkaian kegiatan International Community Development 2026 dijadwalkan berlangsung selama tiga hari. Selain kegiatan pengabdian dan diskusi akademik, para peserta juga diajak mengunjungi sejumlah destinasi wisata unggulan di Bondowoso.
“Semoga kegiatan ini memberikan kesan mendalam dan menjadi awal dari banyak kolaborasi hebat di masa depan,” harapnya.
Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (BAPPERIDA) Bondowoso, Anisatul Hamidah, mengatakan, kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Bondowoso dan Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menjadi langkah strategis dalam memperkuat riset dan pengabdian kepada masyarakat.
“Dalam rangkaian UNESA International Community Development (ICD) 2026 ini, terdapat dua agenda utama. Pertama adalah pembukaan program ICD yang pelatihannya dipusatkan di Kecamatan Ujen dengan sasaran empat segmen, yakni ibu-ibu, anak muda, petani, dan peternak,” ujar Anisatul Hamidah.
"Agenda kedua, , adalah kolaborasi pengabdian kepada masyarakat yang mencakup 12 tema, di antaranya penguatan ekonomi masyarakat, sertifikasi halal, sekolah ramah anak, penguatan sumber daya manusia, serta berbagai program pemberdayaan lainnya," pungkasnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

