BKKBN Jatim Tantang Kota Batu Percepat Kampung KB, Heli Siapkan Strategi Baru Tekan Stunting
Dengan kombinasi penguatan kader posyandu, layanan kesehatan berbasis ILP, serta pengawasan bantuan nutrisi yang lebih ketat, Plt Wali Kota Batu Heli Suyanto optimistis target prevalensi stunting satu digit di Kota Batu dapat tercapai dalam beberapa tahun ke depan.
KOTA BATU, SJP – Upaya penurunan stunting di Kota Batu mendapat apresiasi sekaligus tantangan baru dari pemerintah pusat. Hal itu mengemuka saat Plt Wali Kota Batu, Heli Suyanto sebelumnya telah menerima kunjungan dan berdiskusi langsung dengan Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Timur, Shodiqin, dalam audiensi yang membahas program kependudukan dan pembangunan keluarga.
Diwawancarai pada Sabtu (30/5/2026) Heli menguraikan dalam pertemuan tersebut BKKBN Jawa Timur menilai koordinasi lintas sektor di Kota Batu berjalan cukup baik. Sinergi antarorganisasi perangkat daerah dinilai menjadi modal penting dalam menjalankan berbagai program pembangunan keluarga dan percepatan penurunan stunting.
“Koordinasi di Kota Batu sudah berjalan baik. Dukungan lintas sektor juga cukup solid. BKKBN juga mengingatkan agar Kota Batu tidak cepat berpuas diri. BKKBN mendorong pemerintah daerah segera mempercepat pembentukan Tim Pembina Kampung Keluarga Berkualitas (Kampung KB) agar program kependudukan dan pembangunan keluarga dapat berjalan lebih terintegrasi hingga tingkat dusun," urainya.
Penguatan Kampung KB menjadi salah satu instrumen penting untuk memastikan berbagai program pemerintah benar-benar menjangkau masyarakat hingga lapisan paling bawah.
Tak hanya membahas stunting melalui Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting), pertemuan tersebut juga menyoroti sejumlah program strategis lainnya. Mulai dari Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), penyediaan daycare ramah keluarga di lingkungan perkantoran pemerintah, hingga penguatan Sekolah Lansia Tangguh (Selantang).
“Kami berkomitmen mendukung program yang berdampak langsung bagi masyarakat, khususnya dalam upaya penurunan stunting dan penguatan ketahanan keluarga,” tegas Heli.
Di sisi lain, Heli mengungkapkan bahwa strategi penanganan stunting di Kota Batu saat ini mulai bergeser dari sekadar pemantauan berat badan menjadi pengawasan menyeluruh terhadap pola pertumbuhan anak.
Melalui Dinas Kesehatan Kota Batu, seluruh kader posyandu kini didorong untuk lebih cermat membaca grafik pertumbuhan balita, bukan hanya mencatat kenaikan berat badan semata.
Menurutnya, banyak orang tua merasa kondisi anak baik-baik saja ketika berat badannya bertambah. Padahal, kenaikan tersebut belum tentu sesuai standar pertumbuhan berdasarkan usia.
“Kalau berat badan naik tetapi tidak mencapai target minimal kelompok umur, itu sudah menjadi lampu kuning menuju stunting,” ujarnya.
Heli juga menyoroti faktor cuaca ekstrem yang belakangan menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pencegahan stunting. Perubahan cuaca yang tidak menentu membuat balita lebih rentan terserang batuk dan pilek berulang.
Kondisi tersebut dinilai dapat menghambat pertumbuhan anak karena energi yang seharusnya digunakan untuk tumbuh justru habis untuk melawan penyakit.
“Orang tua harus lebih peka terhadap pemicu sakit pada anak, termasuk pola jajan yang tidak sehat,” katanya.
Untuk mencegah munculnya kasus stunting baru, Pemkot Batu kini memperkuat layanan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP). Melalui sistem tersebut, proses skrining kesehatan balita di tingkat desa dilakukan lebih ketat sehingga anak yang terdeteksi berisiko dapat segera memperoleh intervensi.
Selain itu, distribusi bantuan nutrisi seperti susu subsidi juga mulai diawasi menggunakan sistem digital agar tepat sasaran dan benar-benar diterima keluarga yang membutuhkan.
“Kami ingin setiap anak yang berisiko bisa terdeteksi lebih cepat sehingga penanganannya juga lebih cepat. Itu yang sedang kami perkuat saat ini,” pungkasnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

