Bidik PAD, Disporabudpar Nganjuk Fokus Kembangkan Lima Destinasi Wisata Unggulan
Langkah strategis ini diambil guna mengoptimalkan potensi kekayaan wisata Nganjuk sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.
NGANJUK, SJP – Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk secara ambisius membidik lima objek wisata potensial sebagai upaya untuk mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Langkah strategis ini diambil guna mengoptimalkan potensi kekayaan wisata Nganjuk sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.
Kepala Disporabudpar Nganjuk, Gunawan Widagdo, menyatakan bahwa kelima destinasi ini dipilih karena memiliki daya tarik yang unik dan beragam, mencakup wisata alam hingga wisata budaya.
“Kami melihat potensi yang sangat besar dari kelima objek wisata ini. Dengan tata kelola yang profesional dan strategi promosi yang tepat, kami optimistis dapat menarik jumlah kunjungan wisatawan yang signifikan,” ujar Gunawan saat ditemui di kantornya, Sabtu (15/11/2025).
Kelima objek wisata yang kini menjadi fokus utama pengembangan Disporabudpar Nganjuk adalah:
1. Air Terjun Sedudo: Ikon wisata alam Nganjuk yang populer. Disporabudpar berencana meningkatkan fasilitas pendukung, termasuk pengembangan tambahan seperti Pancuran Songo.
2. Air Terjun Roro Kuning: Destinasi bersejarah dengan nilai budaya tinggi. Pengembangan akan difokuskan pada peningkatan aksesibilitas dan optimalisasi retribusi pengunjung (karcis).
3. Goa Margo Tresno: Objek wisata alam dan petualangan. Upaya peningkatan keamanan, kenyamanan, serta optimalisasi pendapatan melalui retribusi pengunjung menjadi perhatian utama.
4. Pemandian Sri Tanjung (Sri Tanjung Wisata Tirta): Destinasi rekreasi keluarga yang terkenal dengan suasana sejuk dan rindang.
5. Taman Rekreasi Anjuk Ladang (TRAL): Setelah dikelola kembali oleh Disporabudpar, nama objek wisata ini dikembalikan menjadi TRAL dari sebelumnya The Carnival.
Gunawan menambahkan bahwa selama masa jabatannya, upaya pengembangan dilakukan terbatas pada Sedudo dengan penambahan Pancuran Songo, dan Roro Kuning dengan Pancuran Pitu, kendati dilakukan dengan anggaran yang minim.
Untuk mewujudkan potensi wisata yang lebih besar, Gunawan menekankan pentingnya kolaborasi. Pihaknya berencana menggandeng berbagai pemangku kepentingan, termasuk investor swasta dan masyarakat setempat.
“Kami percaya, melalui kerja sama yang sinergis, kita dapat memajukan sektor pariwisata Nganjuk,” ungkap dia.
Terkait inovasi, Gunawan menjelaskan bahwa pihaknya lebih banyak meneruskan program pendahulu dengan keterbatasan anggaran yang ada, berfokus pada pemolesan destinasi utama seperti Sedudo dan Roro Kuning. Ia juga menegaskan pandangan Disporabudpar yang menganggap objek wisata kelolaan swasta bukan sebagai kompetitor, melainkan sebagai kolaborator.
Mantan Kepala Dinas PUPR ini mengungkapkan adanya wacana untuk meniru model daerah lain, yaitu menerapkan retribusi kawasan wisata.
“Kami telah mengumpulkan para pelaku usaha di Sedudo, termasuk pemilik Jolotundo, untuk membahas wacana retribusi kawasan ini,” jelas Gunawan.
Dia melanjutkan, wacana ini dinilai strategis. Jika dapat diterapkan secara menyeluruh—bahkan melibatkan kawasan wisata swasta—diharapkan objek-objek tersebut dapat memberikan kontribusi berupa retribusi kepada pemerintah daerah.
“Langkah ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian Kabupaten Nganjuk, meningkatkan citra Nganjuk sebagai destinasi menarik, dan tentu saja, menambah pemasukan PAD,” tutup Gunawan. (*)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

