Gerakan “Bicara Baik” di KHI 2025 Surabaya, Perhumas Dorong Etika Komunikasi Humanis di Era AI
Di tengah derasnya arus AI dan banjir informasi, Perhumas menggaungkan gerakan “Bicara Baik” sebagai kompas etika humas nasional dalam Konvensi Humas Indonesia.
SURABAYA, SJP - Berbicara adalah aktivitas paling sederhana yang dilakukan manusia setiap hari. Namun di tengah derasnya arus informasi, teknologi kecerdasan buatan, dan ruang digital yang kian bising, setiap kata kini memiliki dampak besar membangun kepercayaan atau justru meruntuhkannya.
Kesadaran itulah yang melandasi gerakan “Bicara Baik”, sebuah ajakan untuk menempatkan etika, empati, dan tanggung jawab sebagai fondasi utama komunikasi publik Indonesia.
Gerakan tersebut secara tegas dikampanyekan oleh Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas) dalam Konvensi Humas Indonesia (KHI) 2025 yang digelar di Hotel Bumi Surabaya, Sabtu (13/12/2025).
Mengusung tema “Inovasi Bersama untuk Indonesia Berdaya Saing Global”, konvensi tersebut menjadi panggung konsolidasi nasional profesi humas dalam merespons tantangan komunikasi di era teknologi yang kian canggih.
KHI Sebagi Forum Strategis Profesi Humas Nasional
KHI 2025 dihadiri ratusan praktisi humas dari sektor pemerintah, swasta, akademisi, dan komunitas dari berbagai daerah di Indonesia. Pemilihan Surabaya sebagai tuan rumah bukan tanpa alasan.
Kota Pahlawan dinilai merepresentasikan semangat inovasi, transformasi, serta kesinambungan nilai sejarah dan modernitas, sejalan dengan visi pembangunan komunikasi Indonesia ke depan.
Konvensi itu tidak hanya menjadi ajang diskusi dan refleksi, tetapi juga momentum strategis bagi Perhumas untuk meluncurkan berbagai inisiatif penting, mulai dari pemutakhiran kode etik profesi hingga penguatan peran humas sebagai penjaga kepercayaan publik.
“Bicara Baik” sebagai Pilar Etika dan Strategi Komunikasi
Ketua Umum DPP Perhumas, Boy Kelana Soebroto, menegaskan bahwa profesi kehumasan telah berevolusi jauh melampaui fungsi teknis penyampaian informasi. Di tengah akselerasi teknologi, humas kini memegang peran strategis dalam menjaga harmoni sosial dan membangun optimisme bangsa.
“Saat ini dalam mengemban profesi kehumasan kita bukan hanya berbicara tentang komunikasi saja tetapi juga mengenai persatuan narasi, menjaga kedaulatan dan martabat bangsa serta daya saing Indonesia di kancah global,” ujar Boy, Sabtu (13/12/2025).
Ia menyoroti tantangan serius yang dihadapi dunia komunikasi saat ini, termasuk disrupsi teknologi, otomatisasi informasi, serta penggunaan kecerdasan buatan yang berpotensi mengikis nilai kemanusiaan jika tidak diimbangi etika.
"Di dalam kode etik ini tertanam prinsip kebenaran, transparansi, akurasi, tanggung jawab, dan keberpihakan pada kepentingan publik. Dan tentu saja sudah memasukkan unsur-unsur terkait teknologi terkini yaitu artificial intelligence," tegas Boy.
Pemutakhiran Kode Etik Perhumas tersebut menjadi bukti komitmen organisasi untuk memastikan bahwa inovasi komunikasi tetap berpijak pada nilai-nilai manusiawi dan tanggung jawab sosial.
Sejalan dengan Perhumas, Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Fifi Aleyda Yahya yang turut hadir dalam pembukaan konvensi, menegaskan bahwa teknologi tidak boleh menghilangkan peran sentral manusia dalam komunikasi publik.
"Teknologi memang boleh cepat Ibu Bapak tapi manusia yang memberikan sentuhan, memberikan arah begitu. Jadi tetap unsur manusia ini sungguh sangat penting," kata Fifi.
Menurutnya, kecerdasan buatan memang mampu membantu pengolahan dan penyaringan data, namun empati, rasa, dan kebijaksanaan tetap menjadi domain manusia, khususnya profesi humas.
"Bapak Ibu Humas bukan hanya penyampai informasi tapi Bapak Ibu semua adalah penafsir hasil kebijakan, penjaga etika dan kurator kepercayaan publik," imbuhnya.
Jatim Sambut Positif Gerakan "Bicara Baik"
Konvensi Humas Indonesia 2025 secara resmi dibuka oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Ia menyambut positif gerakan “Bicara Baik” sebagai energi kolektif untuk membangun optimisme nasional, terlebih dimulai dari Bumi Majapahit.
"Kata Allah, ‘Aku akan memberikan apa yang dipersepsikan oleh hambaku.’ Tetaplah berprasangka yang baik. Tetaplah berprasangka yang positif, tetaplah berprasangka bahwa Indonesia kuat," pesan Khofifah.
Khofifah juga menekankan pentingnya inovasi dalam tata kelola pemerintahan, seraya mengungkapkan bahwa Jawa Timur baru saja meraih penghargaan sebagai provinsi dengan Indeks Inovasi terbaik di Indonesia, sejalan dengan tema besar KHI 2025.
Sebagai informasi, selain kampanye “Bicara Baik” dan peluncuran kode etik terbaru, KHI 2025 yang digelar dua hari hingga Minggu (14/12/2025) besok, juga menghadirkan sejumlah agenda penting lainnya, meliputi:
- Perhumas Indicators 2025 sebagai alat ukur kepercayaan publik
- Peluncuran tiga paket buku kolaborasi praktisi humas yang membahas ESG, reputasi nasional, dan komunikasi krisis digital, serta penyelenggaraan Anugerah Humas 2025.
Melalui KHI 2025, Perhumas menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat nation branding Indonesia dan membangun reputasi bangsa melalui komunikasi yang etis, inovatif, dan berorientasi global yang dimulai dari "berbicara dengan baik". (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

