Benarkah Puasa Ramadan Membantu Atasi GERD dan Maag?

Puasa Ramadan disebut dapat membantu mengurangi gejala GERD dan maag. Namun para ahli menilai manfaatnya bergantung pada pola makan dan kondisi tubuh masing-masing.

15 Mar 2026 - 11:48
Benarkah Puasa Ramadan Membantu Atasi GERD dan Maag?
Ilustrasi seorang wanita mengalami gangguan asam lambung atau GERD yang dapat memicu rasa tidak nyaman pada perut dan dada. (Foto Freepik/Jcomp)

JAKARTA, SJP — Puasa kerap dikaitkan dengan berbagai manfaat kesehatan, mulai dari membantu menurunkan berat badan hingga memperbaiki metabolisme tubuh. Namun muncul pertanyaan di masyarakat, apakah puasa benar-benar dapat membantu mengatasi gastroesophageal reflux disease (GERD) dan maag.

Sebagian orang meyakini bahwa menahan makan dan minum dalam jangka waktu tertentu dapat memberikan waktu istirahat bagi sistem pencernaan. Kondisi tersebut dinilai dapat membantu mengurangi keluhan asam lambung. Meski begitu, para ahli menilai hubungan antara puasa dan kesehatan lambung tidak sesederhana yang dibayangkan.

Mengenal GERD dan Maag

Sebelum memahami pengaruh puasa terhadap kesehatan lambung, penting mengetahui perbedaan antara GERD dan maag.

  • GERD terjadi ketika asam lambung naik ke kerongkongan akibat melemahnya katup yang memisahkan lambung dan esofagus. Kondisi ini biasanya ditandai dengan gejala seperti sensasi terbakar di dada (heartburn), rasa asam di mulut, mual, perut kembung, hingga nyeri pada ulu hati.
  • Sementara itu, maag atau gastritis merupakan peradangan pada lapisan lambung yang dapat dipicu oleh berbagai faktor, seperti infeksi bakteri Helicobacter pylori, pola makan tidak teratur, penggunaan obat tertentu, hingga stres.

Meskipun sama-sama berkaitan dengan sistem pencernaan, kedua kondisi tersebut memiliki mekanisme dan penanganan yang berbeda.

Pengaruh Puasa terhadap GERD

Sejumlah penelitian internasional menunjukkan bahwa puasa, khususnya puasa Ramadan yang memiliki pola serupa dengan intermittent fasting, dapat membantu mengurangi gejala GERD pada sebagian orang.

Selama dan setelah Ramadan, beberapa pasien melaporkan berkurangnya keluhan seperti sensasi terbakar di dada maupun regurgitasi atau naiknya asam lambung ke kerongkongan.

Para peneliti menyebut puasa dapat menjadi salah satu bentuk perubahan gaya hidup yang berpotensi membantu mengurangi gejala GERD. Meski demikian, mekanisme biologis yang mendasari manfaat tersebut masih terus diteliti lebih lanjut.

Mengapa Puasa Bisa Membantu Pencernaan

Puasa dinilai dapat memberikan beberapa manfaat bagi kesehatan sistem pencernaan, di antaranya:

1. Memberikan waktu istirahat bagi organ pencernaan ketika tubuh tidak terus-menerus mencerna makanan.

2. Membantu mengatur pola makan karena jadwal sahur dan berbuka membuat waktu makan lebih teratur.

3. Berpotensi menekan peradangan pada saluran pencernaan karena adanya periode tanpa asupan makanan.

Puasa Tidak Selalu Aman untuk Semua Orang

Meski memiliki potensi manfaat, respons tubuh terhadap puasa dapat berbeda pada setiap orang. Dalam beberapa penelitian disebutkan bahwa perubahan pola makan selama Ramadan justru dapat memicu gangguan pencernaan seperti dispepsia, terutama pada lansia dan perempuan.

Selain itu, kebiasaan makan berlebihan saat berbuka juga dapat meningkatkan risiko refluks asam lambung.

Karena itu, penderita GERD dianjurkan menghindari makanan berlemak dan pedas, tidak langsung tidur setelah makan, serta menjaga porsi makan agar tidak berlebihan. Kondisi psikologis juga perlu dijaga agar tidak memicu stres yang dapat memperparah gangguan lambung.

Jika keluhan tetap muncul atau semakin berat, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Tips Aman Berpuasa bagi Penderita GERD dan Maag

Agar puasa tetap nyaman, penderita GERD dan maag dapat menerapkan beberapa langkah berikut:

1. Tidak melewatkan sahur agar lambung tidak terlalu lama kosong.

2. Memilih makanan yang mudah dicerna seperti nasi, sayur, dan protein rendah lemak.

3. Menghindari kopi, gorengan, serta makanan pedas.

4. Mengonsumsi makanan berbuka secara bertahap dan tidak langsung dalam porsi besar.

5. Tidur dengan posisi kepala lebih tinggi untuk mencegah naiknya asam lambung.

Dengan pengaturan pola makan dan gaya hidup yang tepat, penderita GERD dan maag tetap dapat menjalankan puasa Ramadan dengan lebih aman dan nyaman.

Meskipun puasa berpotensi membantu mengurangi gejala GERD pada sebagian orang, hal tersebut bukan merupakan pengobatan permanen. Efektivitasnya tetap bergantung pada kondisi tubuh, pola makan, serta gaya hidup masing-masing individu. Oleh karena itu, menjaga pola makan dan berkonsultasi dengan tenaga medis tetap penting agar kesehatan lambung tetap terjaga selama menjalani puasa Ramadan. (**)

Sumber: beritasatu.com

Penulis: Rainila Otek, Mahasiswa Magang Unitri Malang 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow