Belasan Orang Suspek Campak, Dinkes Kota Probolinggo Imbau Warga Waspada Gejala Awal
Kementerian Kesehatan Indonesia mencatat sebanyak 8.224 kasus suspek campak secara nasional dengan empat kasus kematian. Sementara itu, di Kota Probolinggo hingga Februari 2026 tercatat belasan warga masuk kategori suspek penyakit tersebut dan masih dalam pemantauan lebih lanjut.
KOTA PROBOLINGGO, SJP - Kementerian Kesehatan Indonesia mencatat sebanyak 8.224 kasus suspek campak secara nasional dengan empat kasus kematian. Sementara itu, di Kota Probolinggo hingga Februari 2026 tercatat belasan warga masuk kategori suspek penyakit tersebut dan masih dalam pemantauan lebih lanjut.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan dan P2KB Kota Probolinggo, drg. Asri Wahyuningsih, mengungkapkan bahwa tren kasus campak di daerahnya sejak tahun lalu tergolong cukup tinggi dan perlu diwaspadai bersama.
“Untuk tahun 2025 kemarin terdapat 22 kasus, sedangkan untuk tahun 2026 ini terdapat suspek 17 orang, namun masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium,” katanya.
Ia menjelaskan, suspek campak merupakan pasien yang menunjukkan gejala klinis mengarah pada infeksi virus campak, meski kepastian diagnosis tetap harus melalui uji laboratorium. Hingga kini, 17 orang yang masuk kategori suspek masih dalam proses pemeriksaan untuk memastikan apakah positif campak atau tidak.
Menurut drg. Asri, gejala campak umumnya diawali dengan demam tinggi yang disertai batuk kering atau pilek, nyeri tenggorokan, serta mata merah. Kondisi tersebut kerap membuat penderita merasa lemas dan tidak nyaman dalam beraktivitas.
Selain itu, tanda khas campak adalah munculnya bercak merah yang terasa gatal. Ruam biasanya bermula dari area belakang telinga, lalu menyebar ke wajah, sebelum akhirnya menjalar ke seluruh tubuh. Penyebaran ruam ini menjadi indikator penting dalam identifikasi awal kasus di fasilitas layanan kesehatan.
“Untuk penularan campak sendiri bisa melalui droplet atau percikan air liur, bersin hingga batuk,” ujarnya.
Penularan yang sangat mudah melalui udara membuat penyakit ini cepat menyebar, terutama di lingkungan padat penduduk atau pada kelompok dengan cakupan imunisasi yang belum optimal. Karena itu, kewaspadaan masyarakat dinilai menjadi kunci untuk menekan lonjakan kasus.
Sebagai langkah pencegahan, Dinas Kesehatan dan P2KB Kota Probolinggo terus mengintensifkan edukasi kepada masyarakat.
Melalui unit pencegahan penyakit, pihaknya aktif memberikan penyuluhan tentang bahaya campak serta pentingnya penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Edukasi tersebut menyasar sekolah, posyandu, hingga lingkungan permukiman warga.
“Selain itu, bagi yang bergejala campak untuk segera melakukan pemeriksaan baik di puskesmas ataupun rumah sakit, dan selalu gunakan alat pelindung diri seperti masker, disamping kami tetap melakukan imunisasi campak pada balita," imbuhnya.
Masyarakat juga diimbau tidak menyepelekan gejala awal serta tetap menjaga kebersihan diri dan lingkungan guna memutus rantai penularan.
Dengan kolaborasi antara pemerintah dan warga, diharapkan kasus campak di Kota Probolinggo dapat ditekan dan tidak berkembang menjadi kejadian luar biasa. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

