Belajar Psikologi dari Tanaman dan Saluran Air: Mahasiswa Thailand Temukan Inspirasi Mental Sehat di KBA Kampoeng Oase Ondomohen

Di Kampung sempit tengah kota, mahasiswa Thailand belajar bahwa got bersih, tanaman pakcoy, dan tas kain bekas bisa menyehatkan pikiran dan jadi pelajaran psikologi nyata.

22 Jun 2025 - 22:07
Belajar Psikologi dari Tanaman dan Saluran Air: Mahasiswa Thailand Temukan Inspirasi Mental Sehat di KBA Kampoeng Oase Ondomohen
Seorang mahasiswa SLC Thailand antusias memegang lobster hasil budidaya warga saat kunjungan ke KBA Kampoeng Oase Ondomohen, Surabaya (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP - Di kelas, mahasiswa psikologi belajar tentang bagaimana pikiran manusia dipengaruhi oleh lingkungan. Tapi tak banyak dari mereka yang pernah benar-benar melihat bagaimana drainase yang bersih, tanaman yang rimbun, dan mesin daur ulang plastik bisa secara nyata menciptakan suasana batin yang lebih baik.

Di Kampung Berseri Astra (KBA) Kampoeng Oase Ondomohen Surabaya, hubungan itu tak cuma jadi teori. Ia tumbuh dalam pot, mengalir di saluran air, dan terpancar dari senyuman warganya.

Itulah yang dirasakan oleh rombongan dosen dan mahasiswa dari Saint Louis College (SLC), Bangkok, Thailand, saat mereka menginjakkan kaki di gang-gang sempit yang hijau dan bersih di kampung yang terletak di jantung kota Surabaya itu.

Selama kurang lebih dua minggu, mereka sedang berkeliling Indonesia bersama Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) untuk belajar kebudayaan dan keberagaman untuk dibawa kembali ke Bangkok.

Psikologi yang Turun Langsung ke Masyarakat

Fransiska Desi Christanti, Koordinator Bidang Psikologi Sosial dan Ketua Senat Fakultas Psikologi UKWMS, adalah orang di balik keputusan untuk membawa tamu asing ke KBA Kampoeng Oase Ondomohen. 

Baginya, KBA Kampoeng Oase Ondomohen adalah contoh terbaik tentang bagaimana masyarakat bisa diberdayakan, dan bagaimana lingkungan yang sehat bisa jadi sumber kesehatan mental juga.

"Fakultas kami memang kedatangan tamu dari St. Louis College, Thailand. Dan kami berpikir untuk mengajak ke sini, ke Kampoeng Oase Ondomohen itu karena untuk melihat bagaimana pemberdayaan masyarakat di Kampung ini, terutama terkait dengan lingkungan," ucap Desi, Ahad (22/6/2025).

Ia menyebut kampung itu tidak hanya hijau dan asri, tapi juga inovatif. Ada drainase yang dimanfaatkan untuk pemeliharaan ikan, ada urban farming, dan ada pemanfaatan sampah dengan maggot atau larva BSF. Semua itu, menurutnya, menunjukkan bagaimana komunitas bisa mengubah ruang hidup menjadi lebih sehat secara fisik dan mental.

"Ini memang kedua kalinya kami mengajak tamu dari SLC ke Kampoeng Oase Ondomohen. Dua tahun lalu, sambutan dari SLC sangat baik. Mereka anggap ini unik dan inspiratif. Jadi kami putuskan untuk datang lagi," ujarnya.

Mahasiswa UKWMS pun dilibatkan. Salah satunya adalah Gracius Randy Wahyu, yang menjadi penerjemah selama kegiatan untuk membantu komunikasi antara pohak SLC dengan warga kampung.

"Kegiatannya tadi membuat eco bag dari kain sisa, lalu keliling kampung melihat urban farming, pengelolaan sampah dengan maggot, dan menanam tanaman kampung. Dibanding kunjungan tahun 2023, sekarang sudah banyak perkembangan, inovasi terbarunya adalah budidaya lobster," ucap Desi.

Adapun Sylvia Kurniawati Ngonde, dosen UKWMS yang juga ikut mendampingi dalam kegiatan, mengatakan bahwa kunjungan SLC merupakan bagian dari kerja sama tahunan antar institusi.

"Kegiatan ini merupakan kerja sama antara Fakultas Psikologi UKWMS dan SLC. Mahasiswa dan dosen SLC ikut hadir di kelas, dosen memberi kuliah, lalu ada diskusi riset dan kunjungan ke beberapa institusi termasuk komunitas seperti Kampoeng Oase Ondomohen," ucap Sylvia.

Mental yang Sehat Berawal dari Lingkungan yang Sehat

Bagi Thirawarin Bunyapipat, dosen SLC, pengalaman di KBA Kampoeng Oase Ondomohen bukan sekadar studi lapangan. Ia menyebut kunjungan tersebut membuka wawasan baru, khususnya tentang bagaimana komunitas bisa mandiri secara energi, pangan, dan lingkungan, sebuah hal yang jarang ditemui di tengah kota metropolitan seperti Bangkok.

"Pengalaman di sini sangatlah wow. Kami belajar hal-hal baru tentang ekonomi. Karena Anda tahu bahwa komunitas ini tidak begitu besar, tetapi mereka memiliki semua sistem," ucap Thirawarin.

Ia menyebut keberadaan sel surya, pengolahan bensin dari plastik, sistem air untuk budidaya ikan, dan urban farming sebagai bentuk kemandirian yang menginspirasi.

"Jika kita tinggal di komunitas yang baik, suasana yang baik, itu baik untuk hati, baik untuk pikiran, baik untuk mental," terangnya.

Mahasiswa-mahasiswanya pun tak kalah takjub. Chananya Sathansap, salah satu dari tiga mahasiswa yang ikut, sangat terkesan dengan teknologi daur ulang plastik di KBA Kampoeng Oase Ondomohen.

Mahasiswa yang akrab disapa Palmy itu terkesan dengan adanya mesin crusher untuk merajang sampah plastik menjadi ukuran lebih kecil yang kemudian diproses diproses melalui mesin Phyrolis untuk menjadi bahan bakar alternatif seperti solar, minyak tanah dan bensin

"Pembahasan mesin crusher plastik sangat memorable. Plastik diubah jadi bensin. Itu sangat baru bagi saya," ucap Palmy.

Adapun Natnicha Nitikornsettawut atau yang akrab disapa Cicha, mahasiswi lain dari SLC, menyebut sistem air dan budidaya ikan di kampung ini sangat mengagumkan.

"Mereka juga punya lobster untuk memperbaiki sistem air. Itu keren bagi saya."

Sementara Sa San Htoo Lin menyoroti nilai kebersamaan dan kerja sama antarwarga.

"Saya kagum dengan teamwork. Kita melakukan banyak hal bersama, dan kita melakukannya dengan lebih baik," ucap mahasiswa yang punya panggilan Steven itu.

Ketiganya sepakat bahwa keberadaan kampung ditengah kota sangatlah menginspirasi, mengingat kondisi Bangkok yang merupakan Kota Metropolitan yang mereka gambarkan sangalh ramai dan tidak hijau.

"Di sini lebih segar. Di Bangkok banyak penyakit, banyak orang, sangat ramai. Jika kita bisa mengadaptasi sistem seperti ini, kita bisa mengembangkan kota kita. Kita juga akan rekomendasikan tempat ini terutama kepada teman-teman yang lain," ucap mereka.

Inovasi Lokal dengan Skala Global

Dari pihak kampung, Adi Candra, Local Champion KBA Kampoeng Oase Ondomohen, mengungkapkan rasa bangganya. Ia menyebut kunjungan tersebut adalah tahun kedua mereka dipercaya menjadi lokasi kunjungan internasional.

"Kami sangat mengapresiasi bahwa ternyata di dunia internasional saja, kampung kami juga sudah mendapatkan kepercayaan, bahkan sampai tahun kedua," ucap Adi.

Ia menyebut para tamu asing tidak hanya melihat, tapi juga ikut menjahit eco-bag dari kain perca, sebagai simbol semangat mengurangi plastik.

"Kami selalu akan bergerak membuat terobosan baru, bagaimana kita mengintegrasikan pengelolaan urban farming, sampah, lingkungan, supaya bisa mencapai target SDGs," imbuhnya.

Ia merinci beberapa target Sustainable Development Goals (SDG's) yang dijalankan di kampung ini:

SDG's 2 (Zero Hunger): lewat pertanian lokal dan budidaya ikan

SDG's 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan): lewat tata lingkungan kampung

SDG's 17 (Kemitraan): lewat kolaborasi dengan kampus dan lembaga luar negeri

Setelah budidaya lobster yang disorot oleh para tamu, Adi juga mengungkapkan bahwa KBA Kampoeng Oase Ondomohen selanjutnya akan meluncurkan budidaya kepiting dan memperkuat program Gerakan Sedekah Sampah Indonesia (GRADASI).

"Kami punya produk minuman telang, sinom, kemaruk, wedang pokak, juga kue basah dan souvenir seperti tas eco-bag, dompet koin, dan biobriket dari ranting pohon. Ini bagian dari upaya zero waste kami," sebutnya.

Sebagai penutup, Adi menyampaikan pesannya kepada warga kampung untuk terus melakukan inovasi dan bergerak bersama, karena jika kampung guyub maka segala ide dalam berinovasi akan beragam dan tidak akan terhenti.

Kegiatan itu sendiri mendapat dukungan penuh dari HPAI (Himpunan Penggiat Adiwiyata Indonesia) DPW Kota Surabaya, YLBA (Yayasan Lestari Bumi Abadi) Kota Surabaya, Kampoeng Oase Suroboyo Group , PERBANUSA (Perkumpulan Pengelola Sampah dan Bank Sampah Nusantara) DPD I Jawa Timur , Forum GRADASI (Gerakan Sedekah Sampah Indonesia) Jawa Timur dan DPP IFTA (Indonesian Fighter Tourism Association) Jelajah Indonesia.

Jika psikologi mengajarkan bahwa lingkungan memengaruhi mental, maka KBA Kampoeng Oase Ondomohen adalah ruang belajar yang nyata. Di sinilah psikologi turun ke masyarakat dan belajar dari rumput, ikan, dan senyum warga. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow