Belajar Jadi Garam dan Terang, Siswa Kristen SMAN 9 Surabaya Ikuti Pondok Kasih
Belajar menjadi “garam dan terang”, puluhan siswa Kristen SMAN 9 Surabaya ditempa melalui Pondok Kasih untuk membawa pengaruh baik, menebar kasih, dan menjadi teladan di tengah kehidupan masyarakat.
SURABAYA, SJP - Bulan Ramadan kerap identik dengan beragam kegiatan religius bagi umat Muslim, mulai dari pesantren kilat hingga berbagai agenda ibadah lainnya. Di banyak sekolah, momen itu biasanya lebih terasa bagi siswa Muslim.
Namun suasana berbeda terlihat di SMAN 9 Surabaya, di mana siswa dari berbagai keyakinan tetap mendapat ruang untuk memperdalam iman masing-masing.
Saat siswa Muslim mengikuti kegiatan Pondok Ramadan di pesantren, siswa Kristen di sekolah tersebut mengikuti program serupa bernama Pondok Kasih. Kegiatan itu digelar di lingkungan sekolah sebagai wadah pembinaan iman bagi siswa Kristen dan non-Muslim.
Guru Agama Kristen Aminahati Baene menjelaskan bahwa Pondok Kasih diselenggarakan sebagai bentuk kegiatan ibadah bagi siswa Kristen, agar mereka tetap memiliki ruang pembinaan rohani di waktu yang sama dengan kegiatan keagamaan siswa Muslim.
“Di mana yang beragama muslim mereka mengikuti kegiatan pondok Ramadan di pesantren, sedangkan kita yang Kristen dan non-muslim lain mengadakan pondok kasih yang berlokasi di SMA Negeri 9 Surabaya," ucap guru yang akrab disapa Mina itu, Kamis (12/3/2026).
Kegiatan tersebut dirancang tidak hanya berupa ibadah formal. Berbagai aktivitas interaktif turut disisipkan agar siswa dapat mengikuti kegiatan dengan suasana yang lebih santai dan menyenangkan.
"Di pondok kasih ada beberapa kegiatan, mulai dari ice breaking, ada juga permainan supaya tidak terlalu kaku anak-anak mengikuti ibadah, dan juga ada ceramah atau khutbah dari seorang pendeta yang kita undang dari luar," imbuhnya.
Dalam kegiatan tersebut, sekolah juga menghadirkan pendeta dari luar sebagai pembicara. Pendeta yang diundang adalah Julio Kristano Andreautra, yang berasal dari Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Andhika.
Pondok Kasih tahun ini diikuti oleh sekitar 30 siswa Kristen Protestan dari kelas 10 dan 11 yang digabung dalam satu kegiatan sehari. Jika digabung dengan siswa Katolik, jumlah siswa non-Muslim di sekolah tersebut mencapai lebih dari 50 orang.
“Untuk kegiatan di pondok kasih hanya cukup satu hari saja digabung kelas 10 sama kelas 11. Dengan total pesertanya ada 30 anak," sebut Mina.
Meski durasinya lebih singkat dibanding Pondok Ramadan yang berlangsung tiga hari, kegiatan Pondok Kasih tetap dirancang agar memberikan pengalaman spiritual yang bermakna bagi para peserta.
Belajar Menjadi “Garam dan Terang”
Lebih dari sekadar kegiatan ibadah, Pondok Kasih juga dimaksudkan sebagai bekal spiritual bagi siswa dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Mina berharap para siswa dapat semakin mengenal jati diri mereka dan membawa nilai-nilai kebaikan di tengah masyarakat.
“Harapan kami sebagai guru, anak-anak ini semakin mengenal pribadi mereka dan jati diri mereka ke depan, sehingga mereka bisa menjadi terang dan garam di tengah-tengah orang yang belum mengenal Tuhan," ucap Mina.
Konsep “garam dan terang” sendiri berasal dari ajaran dalam Injil, tepatnya metafora dalam Matius 5:13–16 di mana Yesus menyebut pengikut-Nya sebagai garam dan terang dunia.
Itu bermakna umat harus memberi dampak positif, membawa pengaruh baik, menyebarkan kasih, dan menjadi teladan melalui perbuatan baik di tengah masyarakat, bukan hanya di dalam gereja.
"Jadi saya harap, Pondok Kasih bisa mengajak anak-anak untuk menjadi teladan dan membawa pengaruh positif bagi lingkungan sekitarnya," tandasnya.
Ruang Iman yang Setara di Sekolah
Kepala sekolah Tri Kurniawati menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk komitmen sekolah dalam memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh siswa untuk memperdalam iman masing-masing.
“Pada intinya kita memberikan porsi yang sama untuk meningkatkan keimanan masing-masing. Baik yang Islam maupun yang non-Islam, semuanya mendapatkan porsi yang sama," ujar Tri.
Menurutnya, Pondok Kasih merupakan agenda rutin tahunan yang dilaksanakan bersamaan dengan Pondok Ramadan. Keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu memperkuat spiritualitas siswa.
“Sama layaknya Pondok Ramadan, Pondok Kasih juga acara rutin tahunan. Jadi sama-sama mereka mendapatkan porsi yang sama," ungkapnya.
Bagi pihak sekolah, keberadaan kegiatan seperti ini bukan sekadar program tahunan, tetapi juga bagian dari komitmen untuk memastikan setiap siswa memperoleh hak pendidikan yang setara, termasuk dalam pembinaan keagamaan.
“Harapan saya semua anak mendapatkan hak pendidikan yang sama dan kegiatan keagamaan yang sama pula, hanya bentuknya saja yang berbeda," pungkas Tri. (*)
Riz
What's Your Reaction?

