Begini Rahasia Eko Prasetiyo Pedagang Hewan Kurban Asal Lamongan yang Viral
Menjelang Hari Raya Idul Adha 1446 Hijriah, para pedagang hewan kurban mulai berlomba-lomba menawarkan layanan ekstra. Di Lamongan, Jawa Timur, Eko Prasetyo, 36 tahun, punya cara tersendiri menarik hati pembeli.
LAMONGAN, SJP—Di sebuah sudut Jalan Pahlawan, Kota Soto Lamongan, Jawa Timur, di antara lalu-lalang kendaraan dan debu jalanan yang beterbangan di sebagian ruas jalan berlubang, puluhan kambing tampak duduk tenang dalam kandang-kandang bambu.
Aroma khas hewan ternak menyeruak. Di sana, seorang lelaki bertubuh kekar dengan peci miring di kepala tengah menyuapi rumput ke mulut seekor kambing jantan berbulu putih tebal.
“Yang ini sudah laku,” ujarnya sambil tersenyum, Jumat (30/5/2025).
Namanya Eko Prasetyo. Usianya 36 tahun. Setiap tahun, menjelang Hari Raya Iduladha, dia meninggalkan pekerjaan hariannya sebagai petani dan fokus menjadi pedagang kambing musiman.
Tapi Eko bukan pedagang kambing biasa. Dia membawa pendekatan yang lebih halus, lebih manusiawi: memberi perawatan gratis dan pengiriman tanpa biaya ke rumah pembeli.
"Kalau ditaruh di sini, kita rawat. Kirim juga gratis," kata Eko.
Kalimat itu dia ucapkan ringan, tapi di baliknya ada strategi dagang yang terencana. Dia tahu betul, berjualan kambing menjelang Iduladha bukan cuma soal harga dan berat badan.
“Kepercayaan pembeli itu yang mahal,” ujarnya.
Lapaknya berdiri sepuluh hari lalu, beralas terpal dan berdinding bambu, hanya dibatasi jaring tali plastik dari jalan raya. Tapi geliat pembeli langsung terasa.
Hingga akhir Mei, sebagian besar kambing yang dia datangkan dari Lumajang sudah berpindah tangan. Total ada sekitar 60 ekor—dari jenis Joper, Texel, Australia, hingga kambing lokal Jawa. Harga bervariasi, dari Rp1,8 juta hingga Rp6 juta per ekor.
Yang paling laris? “Domba,” kata Eko. “Bentuknya bagus, bulunya putih, dan banyak orang suka.” Dia tak bicara soal tren pasar global atau statistik konsumsi daging kambing, tapi pengamatan kasarnya tajam. Dia membaca perilaku pembeli seperti petani membaca cuaca.
Setiap kambing yang masuk ke lapaknya diperiksa kesehatan oleh Dinas Kesehatan Hewan Lamongan. Dia menyimpan dokumen pemeriksaan itu rapi, siap ditunjukkan kapan pun.
“Kesehatan hewan kurban itu syarat mutlak,” katanya.
Tahun-tahun sebelumnya, Eko hanya menjual kambing tanpa layanan tambahan. Tapi makin ke sini, dia sadar pembeli berubah. Banyak yang sibuk, tak sempat memilih, apalagi mengurus pengangkutan. Maka lahirlah layanan rawat dan kirim gratis itu.
“Orang tinggal tunjuk, kami yang urus sampai rumah,” ucapnya.
Puncak penjualan biasanya terjadi dua hari sebelum Iduladha. Saat itulah lapak bisa berubah seperti pasar kaget, penuh orang, suara tawar-menawar, dan sorotan lampu senter.
“Kadang malam-malam pun masih ada yang datang,” katanya.
Tapi Eko siap. Baginya, satu pembeli puas bisa jadi jembatan bagi sepuluh pembeli berikutnya.
Bila semua kambingnya laku tahun ini, dia berniat memperbesar skala usaha tahun depan: menambah lapak, menggandeng lebih banyak peternak dari berbagai daerah, dan mungkin—kalau cukup modal—mendirikan kandang sendiri.
“Saya ingin orang yang lewat Jalan Pahlawan langsung ingat: kalau cari kambing, ke tempat Eko saja,” ujarnya, setengah bercanda.
Di tengah bisnis musiman yang sering digarap asal-asalan, Eko Prasetyo justru merawat usahanya dengan sepenuh hati. Bukan sekadar menjual kambing, tapi juga membangun reputasi dan kepercayaan—barang dagangan yang nilainya tak bisa ditimbang dengan timbangan digital. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

