Bedah Buku #ResetIndonesia di Jombang: Ungkap Ketimpangan Kebijakan hingga Krisis Lingkungan
Forum ini menjadi ruang refleksi bersama untuk mengevaluasi arah pembangunan Indonesia dan mencari formula masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan.
JOMBANG, SJP – Diskusi dan Bedah Buku #ResetIndonesia yang digelar Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Kabupaten Jombang, Jumat (26/12/2025), mengungkap serangkaian fakta kritis mulai dari ketimpangan kebijakan hingga krisis lingkungan yang mengancam. Kegiatan ini menegaskan bahwa masalah-masalah struktural masih membelit arah pembangunan nasional.
Acara yang berlangsung di Rumah Merdeka (Rudeka) Indonesia, Kelurahan Jombatan, diikuti ratusan peserta dari berbagai lapisan. Forum ini menjadi ruang refleksi bersama untuk mengevaluasi arah pembangunan Indonesia dan mencari formula masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan.
Fakta Ketimpangan dan Kegagalan Reforma Agraria
Penulis utama buku #ResetIndonesia, Farid Gaban, mengungkap fakta bahwa ketimpangan penguasaan lahan dan lemahnya perlindungan bagi masyarakat kecil masih menjadi persoalan akut di berbagai daerah. Hasil Ekspedisi Indonesia Baru yang dilakukannya menunjukkan, reforma agraria belum menunjukkan perbaikan signifikan.
"Penguasaan lahan masih didominasi korporasi skala besar, sementara akses masyarakat untuk bertani dan tempat tinggal sangat terbatas. Inilah akar dari banyak masalah sosial-ekonomi di pedesaan," papar Farid dalam keterangan diterima wartawan, Ahad (28/12/2025).
Ia juga mengkritik model pembangunan ekonomi yang masih bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam, khususnya pertambangan, yang mengabaikan potensi keanekaragaman hayati sebagai fondasi ekonomi berkelanjutan.
Fakta Krisis Lingkungan dan Pencemaran Sungai yang Masif
Fakta lain yang terungkap adalah krisis lingkungan yang akut, khususnya pencemaran sungai. Amirudin, aktivis Ecoton, memaparkan temuan mengkhawatirkan dari Ekspedisi Sungai Nusantara. Pencemaran di sungai-sungai besar seperti Brantas, Bengawan Solo, dan Citarum terjadi secara merata dari hulu ke hilir.
"Penelitian bio-monitoring di Sungai Brantas menunjukkan, dari sekitar 14 jenis serangga air sensitif di hulu, hanya tersisa 2 jenis yang tahan polusi dalam jarak 2 kilometer ke hilir. Ini bukti pencemaran yang sangat cepat dan masif," jelas Amirudin.
Lebih mengkhawatirkan lagi, ia mengungkapkan fakta bahwa 68 sungai strategis nasional telah tercemar mikroplastik, dengan Sungai Brantas sebagai yang tertinggi. Meski protes dan rekomendasi telah berkali-kali disampaikan, langkah konkret penanganan dinilai belum signifikan.
Fakta Kelemahan Sistemik: Koperasi, Pendidikan, dan Otonomi Daerah
Farid Gaban juga mengungkap fakta kelemahan di berbagai sektor lainnya. Fungsi koperasi sebagai pilar ekonomi rakyat dinilai mandul karena digerakkan secara top-down dan penuh intervensi.
Di bidang pendidikan, sistem yang ada dinilai kurang kontekstual. Pendidikan dasar dianggap gagal menumbuhkan rasa ingin tahu, terutama terhadap alam, sementara pendidikan tinggi kurang menjawab persoalan riil masyarakat melalui riset berbasis alam.
"Alam adalah gudang ilmu pengetahuan. Tapi kita justru merusaknya," tegas Farid.
Fakta lain yang disoroti adalah otonomi daerah yang lemah. Kepala daerah dianggap tidak memiliki kewenangan nyata karena sentralisasi kebijakan strategis di pusat, sehingga menghambat inovasi dan responsivitas terhadap kebutuhan lokal.
Dukungan Pemerintah Daerah dan Harapan ke Depan
Penyelenggara acara, Luqman Hakim (Ketua FTBM Jombang), menyatakan kegiatan ini dirancang sebagai ruang refleksi bersama, termasuk bagi pemerintah daerah. FTBM sengaja mengundang perwakilan pemerintah seperti Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Bunda Literasi, dan kelurahan untuk menghindari kesalahpahaman.
Perwakilan pemerintah daerah yang hadir menyambut baik diskusi semacam ini. Prince Dindah (Plt. Kabid Perpustakaan) berharap kegiatan serupa dapat berkelanjutan untuk meningkatkan minat baca generasi muda. Sementara Sri Kusumaningati Saleh (Bunda Literasi) menegaskan peran FTBM sebagai ujung tombak gerakan literasi dasar.
Kesimpulannya, buku #ResetIndonesia dan diskusi ini dihadirkan sebagai ajakan berhenti sejenak untuk bercermin dan mengoreksi arah bangsa. Jika tidak dilakukan dari sekarang, ancaman kerusakan struktural dan ekologis akan menjadi beban berat bagi generasi mendatang. (*)
Editor:
What's Your Reaction?

