Anak-Anak di Jombang Isi Libur Panjang dengan Latihan Kesenian Jaranan Dor
Latihan ini digelar hampir setiap hari selama masa liburan sekolah.
JOMBANG, SJP – Liburan sekolah dimanfaatkan secara berbeda oleh anak-anak di Desa Banjarsari, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang. Alih-alih bermain gawai atau berwisata, mereka justru mengisi waktu dengan berlatih kesenian tradisional jaranan dor yang sarat nilai budaya.
Suara gamelan, tabuhan gendang, bas, dan jidor terus mengalun dari halaman rumah warga. Di sana, puluhan anak tampak serius memainkan alat musik dan mengendalikan jaran kepang dengan penuh semangat. Latihan ini digelar hampir setiap hari selama masa liburan sekolah.
Salah satu peserta adalah Fernando Febriansyah (14), siswa SMP asal Desa Banjarsari. Fernando bertugas sebagai penabuh gendang dalam kelompok tersebut.
“Biar mengisi waktu libur sekolah,” kata Fernando, Ahad (28/12/2025).
Ia beralasan, berwisata memerlukan biaya, sedangkan latihan jaranan dilakukan secara gratis. “Kalau di sini gratis, terus senang,” ujarnya.
Selain menyenangkan, Fernando mengaku tertarik karena ingin melestarikan budaya daerah. Ia mengungkapkan, latihan digelar hampir setiap hari selama liburan.
Fernando juga sudah beberapa kali tampil di pentas, terutama saat perayaan Hari Kemerdekaan di bulan Agustus. Dari setiap pementasan, ia dan teman-temannya mendapat bayaran sekitar Rp30.000 per anak. “Buat jajan,” katanya sambil tersenyum.
Ia mengaku telah menguasai banyak lagu jaranan dan menyebut bahwa mempelajarinya tidak memerlukan waktu yang lama.
Kegiatan ini didampingi oleh pegiat seni setempat, Samiaji Mijek, atau yang akrab disapa Cak Mijek. Ia sengaja memfokuskan latihan untuk anak-anak agar liburan mereka lebih bermanfaat.
“Dari pada main gadget, kita latih kesenian jaranan dor,” ujar Cak Mijek.
Menurut dia, ketertarikan anak-anak muncul secara alami karena sejak kecil mereka sudah sering menyaksikan orang dewasa memainkan kesenian ini. “Dari dalam hati mereka memang sudah senang. Sudah terbiasa melihat, jadi kepingin ikut,” tambahnya.
Jadwal latihan disesuaikan dengan waktu luang anak. Saat sekolah, latihan digelar seminggu sekali atau pada malam minggu. Sementara saat liburan, latihan bisa berlangsung hampir setiap hari.
Harapan utama kegiatan ini, kata Samiaji, adalah menjaga kelestarian kesenian tradisional sekaligus mengurangi ketergantungan anak pada gawai. “Satu, kesenian tetap lestari. Kedua, anak-anak punya kegiatan positif saat liburan,” jelasnya.
Meski sebagian besar latihan dilakukan di lingkungan desa, anak-anak juga kerap tampil di panggung bersama kelompok jaranan dewasa saat ada undangan atau tanggapan. Samiaji menegaskan, kelompok anak-anak ini pada dasarnya masih dalam tahap latihan, meski sudah cukup berpengalaman tampil.
Di tengah arus modernisasi dan gempuran hiburan digital, semangat anak-anak Desa Banjarsari dalam menjaga warisan budaya menjadi pemandangan yang menyejukkan. Melalui tabuhan gendang dan gerak jaran kepang, mereka membuktikan bahwa liburan yang bermakna tidak harus pergi jauh—cukup dengan menjaga dan melestarikan budaya sendiri. (*)
Editor: Danu
What's Your Reaction?

