Baru 7,19 Persen, Cakupan Cek Kesehatan Gratis Tulungagung Masih Jauh dari Target

Dinkes Tulungagung menargetkan cakupan cek kesehatan gratis 35 persen pada 2025. Saat ini capaian baru 7,19 persen, dengan hipertensi dan diabetes jadi temuan terbanyak.

21 Aug 2025 - 23:51
Baru 7,19 Persen, Cakupan Cek Kesehatan Gratis Tulungagung Masih Jauh dari Target
Grafik data capaian CKG di Tulungagung. (Foto: Istimewa)

TULUNGAGUNG, SJP — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tulungagung menargetkan cakupan program cek kesehatan gratis (CKG) masyarakat umum bisa mencapai 35 persen pada akhir 2025.

Hingga Rabu (20/8/2025), capaian dari 19 kecamatan baru mencapai 7,19 persen. Target tersebut diakui cukup menantang karena membutuhkan partisipasi masyarakat yang lebih tinggi.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Tulungagung, Aris Setiyawan, mengatakan peningkatan kesadaran masyarakat menjadi faktor utama keberhasilan target cakupan pemeriksaan kesehatan tersebut.

“Kalau masyarakat semakin sadar dan tertarik, target 35 persen di akhir 2025 masih mungkin dicapai,” jelas Aris.

Aris menuturkan, program CKG untuk masyarakat umum lebih sulit dijalankan dibandingkan CKG bagi anak sekolah. Hal itu disebabkan cakupan yang luas dan tanpa ikatan sistem sekolah.

“Kalau di sekolah anak-anak tidak bisa menolak, sementara untuk masyarakat umum kami hanya bisa mengundang. Banyak yang kurang menyadari manfaat CKG,” imbuhnya.

Dari pelaksanaan yang sudah berjalan, penyakit terbanyak ditemukan adalah hipertensi dan diabetes. Keduanya termasuk penyakit tidak menular yang berpotensi mengganggu kesehatan generasi berikutnya.

“Misalnya pasien hipertensi, tindak lanjutnya bisa ke pemeriksaan jantung. Jadi ini bukan sekadar pemeriksaan sementara, tapi menyangkut kesehatan masyarakat jangka panjang,” tegas Aris.

Cakupan tertinggi CKG saat ini berada di Kecamatan Bandung dengan 4.487 orang bersedia diperiksa. Capaian terendah tercatat di Kecamatan Tanggunggunung dengan 1.190 orang.

Untuk memperluas cakupan, Dinkes Tulungagung telah melakukan pemeriksaan di sejumlah instansi dan perusahaan, termasuk PO Bagong, PO Harapan Jaya, serta RSUD dr. Iskak.

Aris menambahkan, hambatan lain dalam pelaksanaan adalah rendahnya kejujuran masyarakat saat pemeriksaan, terutama terkait pola hidup sehari-hari.

“Ketika ditanya berapa batang rokok sehari, seringkali tidak dijawab jujur. Padahal data itu penting untuk mengantisipasi potensi penyakit di masa depan,” ujarnya.

Selain untuk masyarakat umum, Dinkes Tulungagung juga melaksanakan CKG khusus anak sekolah. Program ini menyasar seluruh siswa SD, SMP, hingga SMA sederajat.

Namun, pelaksanaan masih terkendala perubahan sistem pelaporan dari Kementerian Kesehatan yang terus berganti sehingga progres capaian belum dapat dievaluasi secara pasti.

“Pelaksanaan di lapangan tetap berjalan, tetapi pencatatan pelaporan belum optimal karena aplikasi pusat masih bermasalah. Akibatnya progres capaian belum bisa kami evaluasi secara pasti,” ungkap Aris.

Meski begitu, tim puskesmas di wilayah tetap menjalankan pemeriksaan dengan pencatatan manual. Dari temuan sementara, gangguan kesehatan yang banyak muncul adalah kelainan visus, kotoran telinga, dan anemia pada remaja putri.

“Gangguan visus cukup sering muncul, dipengaruhi faktor genetik maupun kebiasaan anak terlalu lama menatap layar gawai. Pemeriksaan dini ini penting agar anak bisa diarahkan sejak awal, termasuk bila ada kasus buta warna,” jelasnya.

Pemeriksaan CKG anak sekolah juga berfungsi sebagai skrining dini penyakit berisiko, seperti hipertensi pada remaja serta anemia yang berdampak pada kesehatan reproduksi di masa depan.

“Harapan kami, pemeriksaan ini bukan sekadar data jangka pendek, tapi proteksi risiko kesehatan yang bisa muncul lima sampai sepuluh tahun ke depan,” pungkas Aris. (*)

Editor: Ali Wafa

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow