Bansos Pemuda Disabilitas Jombang Masih Aktif, Keluarga Ungkap Bantuan Tak Pernah Diterima

Pihak Dinsos menyatakan bahwa Arifin masih terdaftar sebagai penerima beberapa bantuan sosial (bansos).

27 Nov 2025 - 22:54
Bansos Pemuda Disabilitas Jombang Masih Aktif, Keluarga Ungkap Bantuan Tak Pernah Diterima
Saat petugas Dinsos mengunjungi Arifin Pemuda disabilitas di kediaman kakaknya daerah Desa Menganto, Kecamatan Mojowarno. (Ist/SJP)

JOMBANG, SJP – Setelah mendapat perhatian dari tim kesehatan RSUD Jombang, Mohamad Arifin, seorang pemuda disabilitas dengan kondisi lumpuh asal Desa Mojokrapak, Kecamatan Tembelang, kini juga mendapat kunjungan dari Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Jombang.

Petugas Dinsos menemui Arifin yang saat ini dirawat oleh kakak iparnya, Elik Narodo, di Desa Menganto, Kecamatan Mojowarno, pada Kamis (27/11/2025). Namun, kunjungan itu justru mengungkap fakta mengejutkan.

Menurut Elik yang telah merawat Arifin lebih dari setahun tanpa bantuan, pihak Dinsos menyatakan bahwa Arifin masih terdaftar sebagai penerima beberapa bantuan sosial (bansos).

“Kata mereka, Mas Arifin masih menerima BLT yang cair setiap tiga bulan sekali, bantuan rutin sebesar Rp200 ribu per bulan, Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang masih aktif, serta bantuan lain senilai Rp900 ribu yang masih berjalan,” ujar Elik.

Namun, seluruh bantuan tersebut menguap begitu saja. Elik mengaku tidak pernah menerima sepeser pun dari bansos yang dimaksud.

“Semuanya ternyata sudah dicairkan, tapi saya sama sekali tidak menerimanya. Saya juga tidak memegang KTP, KK, atau kartu-kartu lainnya,” tegasnya.

Saat ditanya siapa yang selama ini mengambil bantuan tersebut, Elik mengaku tidak mendapat jawaban yang jelas.

“Dinsos menyuruh saya konfirmasi ke Desa Mojokrapak. Mereka sendiri juga belum tahu siapa yang mengambilnya. Intinya, semua bansos atas nama Mas Arifin masih aktif,” tambahnya.

Dinsos berjanji akan membantu mengurus kartu BLT baru jika dokumen lama hilang atau dipegang pihak lain. Kunjungan tersebut hanya dihadiri dua petugas dan belum memberikan bantuan langsung selain pengecekan administrasi.

Meski pemerintah akhirnya turun tangan setelah kasus ini viral di media, Elik berharap tindak lanjut yang diberikan bukan sekadar formalitas.

“Saya berharap ada bantuan nyata, baik medis maupun sosial. Mas Arifin butuh terapi, perawatan, dan biaya hidup sehari-hari. Selama ini, saya merawat beliau tanpa bantuan sama sekali,” ungkapnya.

Kondisi Elik sendiri tidak mudah. Ia sedang menjalani pengobatan rutin di RSUD Dr. Soetomo Surabaya, sementara suaminya bekerja di luar kota. Setiap kali harus keluar rumah, ia harus membayar orang lain untuk menjaga Arifin.

Sebelumnya, Kasus pilu yang menimpa Mohamad Arifin (34), warga disabilitas asal Jombang, akhirnya mendapat perhatian dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jombang, namun respons tersebut datang hanya berselang sehari setelah kisah keterlantarannya diangkat oleh sejumlah media massa. 

Keterlibatan RSUD yang terkesan reaktif ini memunculkan pertanyaan tentang fungsi pengawasan dan jaringan kesehatan publik daerah dalam menjangkau warganya yang paling rentan.

Arifin, warga Desa Mojokrapak, Kecamatan Tembelang, yang menderita disabilitas sejak lahir, dilaporkan terkulai lemah di tempat tidur selama setahun terakhir setelah kedua orang tuanya meninggal dunia. 

Dalam kondisi ekonomi yang serba terbatas, Arifin sempat terlantar hingga akhirnya dirawat oleh kakak iparnya, Elik Narodo (39), sejak September 2025. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow