Askot PSSI Probolinggo Protes Keras Pemakaian Stadion untuk Acara Hari Jadi Kota ke-666
Askot PSSI Probolinggo menolak keras penggunaan Stadion Bayuangga untuk acara Hari Jadi ke-666 Kota Probolinggo. Mereka khawatir rumput stadion rusak dan mengganggu jadwal latihan para atlet sepak bola.
KOTA PROBOLINGGO, SJP — Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Probolinggo menggelar perayaan Hari Jadi ke-666 di Stadion Bayuangga pada 4 September 2025 menuai penolakan keras dari asosiasi sepak bola.
Asosiasi Kota Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (Askot PSSI) Probolinggo bersama sejumlah suporter dan 20 klub sepak bola menolak stadion digunakan untuk acara non-olahraga.
Ketua Askot PSSI Probolinggo, Eko Purwanto, menyatakan penolakan resmi dalam konferensi pers di sekretariat Askot PSSI setempat pada Kamis (28/8/2025).
Dia didampingi Wakil Ketua Abdurrahman Sunjoto dan perwakilan suporter Kurvasud, Nur Ali. Mereka menilai, pemerintah mengabaikan aspirasi yang sudah disampaikan dalam forum resmi.
Meski diundang rapat koordinasi oleh Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Dispora) pada Selasa (26/8/2025), Eko menilai pertemuan itu sekadar formalitas karena keputusan telah ditetapkan lebih awal.
“Jadi buat apa dilakukan rakor jika memang sudah diputuskan? Artinya pendapat kita tidak didengarkan,” tegas Eko.
Eko menuturkan alasan penolakan. Pertama, kekhawatiran kerusakan rumput stadion dan sampah yang menumpuk. Kedua, terganggunya pembinaan atlet yang membutuhkan fasilitas latihan.
“Baru kemarin para atlet tidak bisa latihan. Padahal ada Inpres yang menetapkan sepak bola sebagai cabang olahraga prioritas. Minimal jangan merusak fasilitas yang sudah ada,” katanya.
Penolakan ini, lanjut Eko, telah didukung resmi seluruh 20 klub anggota Askot PSSI. Sebanyak 16 klub mengirim surat tertulis, sisanya menyatakan sikap secara lisan.
Perwakilan Kurvasud, Nur Ali, menyebut penolakan ini bagian konsistensi mereka mencintai sepak bola di Kota Probolinggo, meski suara suporter sering kali diabaikan.
“Dari tahun ke tahun kami tidak pernah sepakat dan sudah melayangkan protes. Meski suara kami kerap tak didengar, kami akan terus menyuarakan ini,” ujar Nur Ali.
Menanggapi penolakan tersebut, Kepala Bidang (Kabid) Olahraga Dispora Kota Probolinggo, Ananto, mengakui stadion telah disewa PSSI setahun. Namun, pihaknya tetap menyiapkan langkah antisipasi kerusakan.
Ananto menyebut, pihaknya meminta uang jaminan sebesar Rp30 juta dari penyelenggara acara sebagai tanggung jawab atas potensi kerusakan yang ditimbulkan pascaacara.
“Dispora intinya mendukung program pemerintah, tapi di sisi lain wajib menjaga stadion. EO wajib bertanggung jawab penuh, jaminan dikembalikan jika tidak ada kerusakan,” ujarnya. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

