Asal-Usul Rujak Cingur, Kuliner Ikonik Surabaya
Rujak cingur, kuliner khas Surabaya, memiliki sejarah panjang sejak awal abad ke-20. Hidangan unik berbumbu petis udang ini kini jadi identitas kuliner Jawa Timur dan daya tarik wisata.
SURABAYA, SJP – Rujak cingur, makanan khas Surabaya dan Jawa Timur, ternyata memiliki sejarah panjang yang terkait dengan mobilitas pendatang dan adaptasi budaya lokal.
Dilansir dari berbagai sumber, menurut beberapa pegiat sejarah, rujak cingur mulai muncul di Surabaya pada tahun 1930-an, dibawa oleh para pendatang dari Pulau Madura yang kemudian mencoba bertahan hidup di kota besar dengan berdagang kuliner.
Komposisinya khas: sayuran rebus seperti kangkung, tauge, kacang panjang, buah-buahan seperti timun, mangga muda, nanas, kedondong, lontong, serta cingur (bagian mulut sapi yang direbus), semua dicampur dengan bumbu petis udang.
Nama “cingur” berasal dari bahasa Jawa, yang artinya ‘mulut’. Dalam sumber lain disebut “cengor” dalam bahasa Madura.
Dalam perkembangan selanjutnya, ada variasi penyajian rujak cingur, yaitu versi biasa dan matengan. Versi matengan hanya memakai bahan‐bahan matang saja (lontong, tahu, tempe, sayur yang telah direbus/ dikukus), sedangkan versi biasa juga mencampurkan buah-buah mentah dan bahan segar lainnya.
Rujak cingur bukan hanya sekadar kuliner, tetapi juga identitas budaya Kota Surabaya. Ia menjadi daya tarik wisata kuliner dan simbol keterhubungan sosial antar komunitas pendatang dan masyarakat asli Surabaya. (**)
Editor: Danu S
What's Your Reaction?

