Antara Masjid Megah dan Pencuri Kotak Amal

Seorang anak yatim piatu membeli nasi bungkus dari uang kotak amal yang ia curi. Di sisi masjid megah yang selalu ramai jamaah, gubuk reyot tempat ia tinggal mengingatkan kita pada ketimpangan yang sering terabaikan. Ketika ibadah ramai dan kemakmuran terlihat, siapa yang benar-benar menjaga nurani?

23 Jan 2026 - 11:00
Antara Masjid Megah dan Pencuri Kotak Amal
Ilustrasi (AI)

SUARAJATIMPOST.COM — Seorang anak yatim piatu tampak memenuhi kebutuhan perutnya manyantap sebungkus nasi yang ia beli dari uang kotak amal yang ia curi.

Sementara Masjid megah yang selalu ramai jamaah itu berdiri anggun di samping gubuk reyot tempat ia tinggal.

Malam itu, sambil terlelap, sebuah pertanyaan terlintas."Siapakah yang paling berdosa di antara mereka, ya Tuhan?"

Jika jamaah kenyang dan masjid makmur, namun tetangganya kelaparan, maka yang patut diperiksa bukan hanya tangan si pencuri, melainkan hati para pemilik kemakmuran.

Anak itu tidak sedang rakus. Ia sedang bertahan hidup. Apa yang ia lakukan memang salah, namun rasa lapar kemudian menyantap nasi bungkus itu jujur.

Sementara bisa jadi: Ada yang bersedekah sambil memamerkan; ada yang rajin berjamaah namun hatinya kikir; ada yang membangun masjid megah tetapi membiarkan empati runtuh.

Dan itu lebih berbahaya. Sebab kejahatan yang dibungkus ibadah sering kali tak terasa sebagai dosa.

Kini pertanyaannya bukan lagi:" Siapa yang paling berdosa?" Melainkan: "Di posisi mana kita berdiri dalam cerita ini?"

Apakah kita yang merasa cukup dengan shalat? Apakah kita merasa aman karena tidak mencuri? Apakah kita lupa bahwa zakat, infak, dan kepedulian adalah kewajiban, tak hanya bonus pahala?

Karena bisa jadi, anak itu berdosa karena lapar, sementara kita berdosa karena kenyang, namun lupa berbagi. (**) 

Penulis: Ketua Komunitas Noto Roso Tumpang Malang, Habib Abdullah Bin Idrus Bin Agil Assegaf. 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow