Pulau Jawa Dikepung Banjir, Perajin Perahu Paralon di Lamongan Banjir Pesanan

Sebuah bukti nyata bahwa di tengah bencana yang menenggelamkan daratan, kreativitas manusia tidak akan pernah ikut tenggelam.

23 Jan 2026 - 09:00
Pulau Jawa Dikepung Banjir, Perajin Perahu Paralon di Lamongan Banjir Pesanan
Prajin perahu PVC atau paralon di Lamongan saat mengerjakan pesanan. (Beritasatu.com)

LAMONGAN, SJP — Di saat awan hitam bergelayut manja di langit Jawa Timur, sebuah anomali teknologi lahir dari tangan-tangan kreatif di pesisir Lamongan. 

Bukan kapal baja, bukan pula sampan kayu legendaris yang kini membelah genangan banjir, melainkan pipa Polyvinyl Chloride (PVC) yang disulap menjadi tanker penyelamat nyawa.

Di Desa Kuluran, Kecamatan Kalitengah, deru mesin gerinda dan aroma plastik yang dipanaskan menjadi simfoni baru. Di sinilah, Suratno dan para perajin jenius lainnya sedang menulis ulang sejarah transportasi air. 

Mereka mengubah instalasi saluran air menjadi lambung kapal yang diklaim tak tertandingi oleh ganasnya zaman.

Era perahu kayu konvensional tampaknya sedang berada di ambang kepunahan. Kelangkaan material kayu berkualitas yang harganya kini setinggi langit memaksa warga bertekuk lutut pada inovasi. 

Kayu yang dahulu dianggap perkasa, kini mulai ditinggalkan karena sifatnya yang rentan melapuk, keropos dimakan usia, dan pengap ketika terendam air dalam waktu lama.

"Mendapatkan kayu berkualitas sekarang sulitnya bukan main. Harganya pun mencekik leher," ungkap Suratno pada Kamis (22/1/2026).

Sebagai gantinya, perahu pipa paralon muncul sebagai bahan baru di pasar transportasi air. 

Material plastik ini disebut-sebut sebagai tahan benturan, anti-lapuk, dan mampu menantang maut di perairan selama puluhan tahun tanpa perlu perawatan ekstra.

Fenomena ini bukan sekadar tren lokal. Ketika intensitas hujan memicu banjir yang melumpuhkan aktivitas, pesanan perahu paralon di bengkel Suratno melonjak drastis hingga 50 persen. Antrean pemesan memular, menciptakan daftar tunggu yang panjang dan melelahkan.

Kualitas Pipa Ajaib dari Kuluran ini telah terdengar hingga seantero negeri. Konsumen tidak hanya datang dari tetangga terdekat seperti Tuban, Gresik, atau Jombang. Perahu-perahu ini telah melintasi batas provinsi menuju Demak dan Pati, bahkan menyeberangi lautan menuju Batam.

"Pesanan datang bertubi-tubi. Mulai dari petani yang terisolasi, instansi pemerintah, hingga para relawan kemanusiaan yang membutuhkan armada tempur di medan banjir," tambah Suratno.

Dalam keriuhan produksi yang dibantu tiga karyawan setianya, Suratno mampu melahirkan satu unit perahu hanya dalam waktu satu hingga tiga hari. Sebuah kecepatan produksi yang mustahil dicapai oleh industri perahu kayu tradisional.

Namun, kualitas premium ini tentu memiliki nilai investasi yang setimpal. Satu unit perahu paralon dibanderol mulai dari Rp 5.700.000 hingga menembus angka puluhan juta rupiah. Harga tersebut bergantung pada dimensi raksasa dan ketebalan dinding pipa yang digunakan.

Kini, di wilayah-wilayah yang menjadi langganan kepungan air, perahu paralon bukan lagi sekadar alat transportasi. Ia adalah simbol resiliensi masyarakat Lamongan, sebuah bukti nyata bahwa di tengah bencana yang menenggelamkan daratan, kreativitas manusia tidak akan pernah ikut tenggelam. (**) 

Sumber: Beritasatu.com

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow