Angka Kematian dan Kasus Baru HIV di Kota Batu Menurun Secara Signifikan
Tren penurunan kasus ini, Dinkes Kota Batu optimistis upaya pencegahan dan pengendalian HIV dapat semakin efektif, asalkan didukung kesadaran masyarakat untuk menghilangkan stigma dan berani memeriksakan diri sejak dini
KOTA BATU, SJP – Penanganan HIV di Kota Batu menunjukkan hasil menggembirakan. Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu mencatat, jumlah kematian Orang dengan HIV (ODHIV) pada periode Januari–Agustus 2025 turun menjadi 1 kasus, dari sebelumnya 4 kasus pada periode yang sama tahun 2024. Artinya terjadi penurunan sebanyak 3 kasus atau sekitar 75 persen.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit serta Penanganan Kebencanaan Dinkes Kota Batu, Susana Indahwati pada Rabu (17/9/2025) menegaskan kasus baru ODHIV juga tercatat menurun cukup signifikan.
Jika sepanjang 2024 ditemukan 95 kasus, pada Januari–Juli 2025 jumlahnya hanya 42 kasus. Artinya ada penurunan 53 kasus atau sekitar 55,7 persen dibanding tahun lalu.
"Capaian ini tidak lepas dari penguatan program Antiretroviral Therapy (ART), edukasi kesehatan, serta pendampingan pasien oleh tenaga kesehatan. Konsistensi pasien dalam menjalani terapi ART menjadi kunci keberhasilan menekan angka kematian," urainya.
Selain pengobatan, Dinkes Kota Batu juga gencar melakukan langkah pencegahan. Berbagai upaya dilakukan, mulai dari sosialisasi kesehatan reproduksi, penyuluhan HIV di sekolah dan perguruan tinggi, hingga memperkuat layanan konseling dan tes HIV di puskesmas. Program Voluntary Counseling and Testing (VCT) juga digalakkan agar masyarakat tidak ragu memeriksakan diri sejak dini.
Meskipun saat ini tantangan terbesar tetap terletak pada stigma sosial. Banyak pasien yang enggan terbuka karena khawatir mendapat diskriminasi, bahkan sebagian gagal melakukan follow up pengobatan. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena bisa memicu putus obat dan berdampak pada penularan baru.
“Edukasi kepada masyarakat terus kami lakukan agar pemahaman tentang HIV meningkat. Kami ingin menghapus anggapan keliru bahwa HIV identik dengan aib. Kesadaran untuk tes dan pengobatan sangat penting agar pasien bisa hidup sehat dan produktif,” tandasnya. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

