Angka Kecelakaan di Jombang Menurun Namun Kematian Justru Melonjak Tajam

Perbandingan data menunjukkan adanya peningkatan efektivitas penanganan frekuensi kecelakaan, namun gagal menekan angka kematian di lapangan.

07 Jan 2026 - 10:50
Angka Kecelakaan di Jombang Menurun Namun Kematian Justru Melonjak Tajam
Kasatlantas Polres Jombang Iptu Rita Puspitasari bersama Kapolres Jombang AKBP Ardi Kurniawan saat berinteraksi dengan pengemudi Ojek Online. (Ist/SJP)

JOMBANG, SJP — Jalan raya di Kabupaten Jombang semakin mematikan. Meski secara kuantitas jumlah kejadian kecelakaan lalu lintas (lakalantas) mengalami penurunan dalam setahun terakhir, tingkat fatalitas atau angka kematian justru menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. 

Data resmi Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Jombang menyebutkan, terjadi anomali statistik antara tahun 2024 dan 2025. 

Perbandingan data menunjukkan adanya peningkatan efektivitas penanganan frekuensi kecelakaan, namun gagal menekan angka kematian di lapangan.

Sepanjang tahun 2025, angka kematian akibat lakalantas tercatat naik sebesar 4,18 persen dibandingkan tahun sebelumnya. 

Angka kecelakaan tahun 2024 tercatat sebanyak 1.116 Kasus, sementara di tahun 2025 tercatat 928 Kasus. Hal itu mengalami penurunan sebesar 16,8%.

Sementara untuk korban meninggal dunia tahun 2024 tercatat 239 jiwa dan tahun 2025 tercatat 249 jiwa, naik sebesar 4,18%. 

Untuk data luka ringan 2024 tercatat sebanyak 1.863 orang dan 2025 tercatat sebanyak 2.002 orang, naik 7,4%.

Kerugian materiil akibat kecelakaan tahun 2024 berjumlah Rp1,62 Miliar, sementara untuk tahun 2025 sebesar Rp2,17 Miliar, naik sebanyak 34,5%.

"Secara angka kasus memang turun, namun fatalitas atau angka kematian justru mengalami kenaikan sebesar 4,18 persen," tegas Kepala Satlantas Polres Jombang, Iptu Rita Puspitasari, Rabu (7/1/2026).

Pihak kepolisian menegaskan bahwa kecelakaan yang terjadi di Jombang didominasi oleh faktor kelalaian manusia (human error). 

Tingginya kerugian materiil yang mencapai lebih dari Rp2,1 miliar pada tahun 2025 juga mengindikasikan bahwa intensitas atau keparahan tabrakan yang terjadi semakin tinggi.

Iptu Rita menjelaskan bahwa faktor utama pemicu petaka di jalan raya adalah perilaku pengemudi yang tidak bertanggung jawab.

"Pelanggaran lalu lintas masih menjadi akar masalah. Mulai dari pengemudi ugal-ugalan, mengabaikan konsentrasi karena kelelahan atau kantuk, hingga hilangnya kesadaran saat berkendara," tambah perwira yang telah mengabdi di kepolisian sejak tahun 2002 tersebut.

Menyikapi tren mematikan ini, Kapolres Jombang AKBP Ardi Kurniawan menyatakan bahwa pihaknya kini memperketat pengawasan dan masif melakukan edukasi, terutama pada kelompok usia produktif yang dinilai paling rentan.

Edukasi keselamatan (road safety education) kini difokuskan pada institusi pendidikan, mulai dari sekolah menengah hingga pondok pesantren di seluruh penjuru Jombang. 

Langkah ini diambil mengingat besarnya populasi pelajar dan santri di wilayah tersebut.

"Kami terus mengingatkan masyarakat bahwa keselamatan adalah prioritas utama. Jangan sampai Anda menjadi korban, apalagi menjadi pelaku penyebab hilangnya nyawa orang lain di jalan raya," tutup AKBP Ardi Kurniawan. (*) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow