Alarm Bahaya dari Lereng Batu, Bencana Alam Melonjak 70 Persen Sepanjang 2025
Tercatat, sebanyak 209 peristiwa bencana terjadi dalam setahun terakhir, meroket tajam dibandingkan tahun 2024 yang berjumlah 122 kejadian.
KOTA BATU, SJP — Kota Batu berada dalam bayang-bayang kerentanan ekologis yang kian mengkhawatirkan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu melaporkan lonjakan drastis intensitas bencana alam sepanjang tahun 2025.
Tercatat, sebanyak 209 peristiwa bencana terjadi dalam setahun terakhir, meroket tajam dibandingkan tahun 2024 yang berjumlah 122 kejadian.
Kenaikan signifikan ini menjadi sinyal merah bagi manajemen mitigasi bencana di wilayah yang dikenal dengan kontur perbukitan curam tersebut.
Plt. Kepala Pelaksana BPBD Kota Batu, Suwoko, mengungkapkan bahwa tanah longsor tetap mendominasi potret bencana di Kota Wisata ini.
"Data kami menunjukkan terjadi 127 peristiwa longsor selama 2025. Angka ini naik lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebanyak 56 kejadian," ujar Suwoko, Rabu (7/1/2026).
Tingginya curah hujan yang mulai ekstrem sejak November 2025 dituding sebagai pemicu utama.
Kondisi geografis Batu yang memiliki kemiringan lereng terjal mempercepat kejenuhan air pada tanah, yang kemudian memicu pergerakan tanah secara masif di berbagai titik.
Selain longsor, BPBD juga merinci klasifikasi bencana lainnya, yakni cuaca ekstrem (angin kencang) tercatat 46 kejadian, naik dari 28 kejadian di tahun 2024.
Bencana banjir tercatat ada 25 kejadian, kebakaran bangunan ada 10 kejadian, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tercatat ada 1 kejadian.
Distribusi spasial bencana menunjukkan ketimpangan risiko yang nyata. Kecamatan Bumiaji kembali mengukuhkan posisinya sebagai wilayah paling rawan dengan catatan 99 peristiwa bencana.
Posisi kedua ditempati Kecamatan Batu dengan 78 kejadian, disusul Kecamatan Junrejo dengan 32 kejadian.
Tingginya angka bencana di Bumiaji menuntut perhatian serius pemerintah daerah terkait tata ruang dan pelestarian kawasan hulu yang kian tergerus.
Meski frekuensi bencana meningkat secara eksponensial, BPBD mengonfirmasi tidak ada korban jiwa dalam seluruh rangkaian peristiwa sepanjang 2025. Namun, dampak material dan sosial tetap signifikan.
"Sebanyak 281 warga terdampak secara langsung, dengan 24 orang terpaksa mengungsi dan satu warga mengalami luka-luka," tambah Suwoko.
Kerusakan infrastruktur pun tidak terhindarkan. Sebanyak 59 rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan dengan berbagai kategori.
Selain hunian, sejumlah fasilitas pendidikan dan infrastruktur dasar juga mengalami gangguan, yang berpotensi menghambat aktivitas sosial-ekonomi masyarakat jika tidak segera ditangani secara komprehensif. (*)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

