200 Pembecak Lansia di Tulungagung Bakal Terima Becak Listrik Hibah Presiden

Dengan estimasi harga per unit mencapai Rp22 juta, total nilai hibah yang digelontorkan untuk wilayah Tulungagung menyentuh angka Rp4,4 miliar.

08 Jan 2026 - 15:30
200 Pembecak Lansia di Tulungagung Bakal Terima Becak Listrik Hibah Presiden
Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, mencoba mengendarai becak listrik bantuan Presiden Prabowo. (Beny/SJP)

TULUNGAGUNG, SJP — Sebanyak 200 pengemudi becak di Kabupaten Tulungagung kini memasuki babak baru dalam mata pencaharian mereka. 

Melalui Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN), Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyalurkan bantuan berupa becak listrik hasil produksi PT Pindad untuk meningkatkan taraf hidup dan meringankan beban kerja para pengayuh becak konvensional.

Langkah modernisasi moda transportasi tradisional ini diawali dengan sosialisasi dan pelatihan teknis yang digelar di Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso, Kamis (8/1/2026).

Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, menegaskan bahwa pengadaan 200 unit becak listrik ini tidak menggunakan dana APBN, melainkan murni bersumber dari dana pribadi Presiden Prabowo Subianto. 

Dengan estimasi harga per unit mencapai Rp22 juta, total nilai hibah yang digelontorkan untuk wilayah Tulungagung menyentuh angka Rp4,4 miliar.

"Ini murni dari anggaran pribadi Bapak Presiden, keluar dari hati nurani beliau. Saya tegaskan, bantuan ini gratis. Jika ada oknum yang memungut biaya sepeser pun, mereka akan berhadapan langsung dengan saya," ujar Gatut Sunu. 

Mengingat keterbatasan kuota, yakni hanya 200 unit dari estimasi lebih dari 1.000 pengemudi becak di Tulungagung. Pemkab memberlakukan kriteria seleksi yang ketat. 

Penerima manfaat diprioritaskan bagi pengemudi berusia minimal 60 tahun yang terdaftar dalam data kemiskinan ekstrem (Desil 1 hingga Desil 5).

Untuk menjamin transparansi dan mencegah penyalahgunaan aset, Pemkab Tulungagung menerapkan dua mekanisme proteksi. Pertama yakni pakta integritas, penerima wajib menandatangani surat pernyataan untuk tidak menjual atau memindahtangankan unit becak.

Kedua adalah verifikasi lapangan, tim khusus diterjunkan untuk melakukan pengecekan faktual guna memastikan bantuan tepat sasaran dan bebas dari praktik pungli.

"Jangan dijual, meskipun sedang terdesak kebutuhan ekonomi. Ini adalah amanah untuk meningkatkan penghasilan panjenengan," pesan bupati.

Pemerintah Kabupaten Tulungagung juga telah menyiapkan skema mitigasi pasca-penyerahan. 

Jika terjadi kerusakan pada sistem kelistrikan, koordinator lapangan akan memfasilitasi perbaikan dengan tim teknis dari produsen (PT Pindad) yang ditunjuk pihak kepresidenan.

Menariknya, hibah ini memiliki sifat kepemilikan jangka panjang. Jika penerima meninggal dunia, unit becak dapat diwariskan kepada ahli waris selama tetap digunakan untuk operasional transportasi dan tidak diperjualbelikan.

Suyanto (71), salah satu pengemudi becak asal Desa Serut yang telah bekerja sejak 1981, mengaku optimis dengan bantuan ini. 

"Fisik saya sudah tidak kuat mengayuh jarak jauh. Bantuan ini adalah bukti janji yang terealisasi," ucapnya.

Meskipun kuota saat ini belum mencakup seluruh pengemudi becak di Tulungagung, Bupati Gatot Sunu berjanji akan mengupayakan solusi bagi pengemudi usia produktif (50-60 tahun) agar mendapatkan dukungan serupa di masa mendatang melalui skema pemberdayaan daerah lainnya. (*) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow