Tahun 2025, Tercatat 326 Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Probolinggo
Sepanjang tahun 2025, tercatat ada 326 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Probolinggo, dengan 4 orang dilaporkan meninggal dunia. Meskipun angka ini menunjukkan penurunan dari tahun sebelumnya, kita tidak boleh lengah!
KOTA PROBOLINGGO, SJP - Kota Probolinggo mencatatkan angka kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang cukup signifikan sepanjang tahun 2025.
Berdasarkan data yang dihimpun hingga pengujung Desember, terdapat total 326 warga yang terjangkit penyakit akibat gigitan nyamuk Aedes aegypti tersebut.
Dari angka tersebut, dilaporkan empat pasien meninggal dunia yang tersebar di beberapa kelurahan, yakni Mayangan, Mangunharjo, Tisnonegaran, dan Kebonsari Kulon.
Sebaran Kasus Per Kecamatan
Dinas Kesehatan, Pemberdayaan Perempuan, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) merinci distribusi kasus di lima kecamatan sebagai berikut:
- Kecamatan Kanigaran: 103 kasus (wilayah tertinggi)
- Kecamatan Mayangan: 84 kasus
- Kecamatan Ketapang: 60 kasus
- Kecamatan Kedopok: 57 kasus
- Kecamatan Wonoasih: 22 kasus
Meskipun terdapat korban jiwa, otoritas kesehatan setempat menegaskan bahwa situasi ini belum dikategorikan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Hal ini dikarenakan tren total kasus di tahun 2025 sebenarnya mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Upaya Pencegahan dan Edukasi Masyarakat
Drg. Asri Wahyuningsih, selaku Kepala Bidang P2P Dinkes PPKB Kota Probolinggo, memberikan penekanan khusus pada strategi pencegahan yang mandiri. Beliau menekankan, tindakan pengasapan atau fogging bukanlah solusi utama yang bersifat permanen. Sebaliknya, partisipasi aktif warga dalam menjaga sanitasi lingkungan jauh lebih efektif.
“Pencegahan agar terhindar dari DBD yang paling utama adalah gerakan 3M Plus, yaitu menguras, menutup, dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Selain itu, gunakan lotion atau obat anti nyamuk, pasang kawat kasa pada ventilasi rumah, serta biasakan memakai pakaian lengan panjang.” Kata Drg. Asri Wahyuningsih, Senin (19/1/2026).
Tantangan Faktor Cuaca
Pihak Dinkes juga menyoroti korelasi antara curah hujan dengan siklus hidup nyamuk. Pada fase awal musim penghujan, tingginya intensitas air menyebabkan banyaknya genangan yang menjadi lokasi ideal bagi nyamuk untuk bertelur. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak lengah terhadap barang-barang bekas yang dapat menampung air di sekitar hunian.
Kesadaran akan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dianggap sebagai kunci utama. Jika masyarakat konsisten menjalankan prinsip kebersihan, risiko penularan dapat ditekan seminimal mungkin.
Pemerintah berharap warga proaktif dalam melakukan deteksi dini terhadap gejala demam dan segera membawa anggota keluarga ke fasilitas kesehatan jika ditemukan indikasi klinis DBD, guna mencegah keterlambatan penanganan yang berakibat fatal. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

