Ketika Mahasiswi Jepang Ikut Ambil Bagian Dalam Jamasan Arca Totok Kerot
Merti Cagar Budaya "Jamasan Tothok Kerot" tidak hanya menarik perhatian masyarakat lokal, tapi juga mancanegara. Di pelaksanaan tahun kedua ini, tampak seorang WNA asal Jepang ikut melakukan jamasan.
KEDIRI, SJP - Merti Cagar Budaya "Jamasan Tothok Kerot" tidak hanya menarik perhatian masyarakat lokal, tapi juga mancanegara. Di pelaksanaan tahun kedua ini, tampak seorang WNA asal Jepang ikut melakukan jamasan. WNA bernama Saki Maeta itu mengaku senang bisa mengikuti prosesi jamasan di peninggalan sejarah yang berada di Jalan Totok Kerot, Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri itu.
Kedatangan mahasiswa Kobe University itu dikarenakan ia tertarik dengan budaya yang ada di Kediri dan ingin melihat bagaimana masyarakat Kediri menjaga peninggalan sejarah tersebut.
"Saya ke Kediri karena saya memang tertarik budaya-budaya yang ada di Kediri, terutama bagaimana masyarakat melestarikan peninggalan zaman dahulu. Saya juga sudah ke Pamuksan Sri Aji Joyoboyo dan Goa Selomangleng," ungkap Saki, Kamis (9/7/2026).
Sementara itu, Merti Cagar Budaya "Jamasan Tothok Kerot" merupakan inisiatif para juru pelihara (jupel) cagar budaya yang secara mandiri menggelar kegiatan jamasan.
Kepala Bidang Sejarah dan Kepurbakalaan (Jakala) Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri Eko Priatno, menuturkan jamasan bukan sekadar membersihkan arca, tetapi juga menjadi bentuk perawatan cagar budaya sekaligus sarana introspeksi diri dan ungkapan syukur menyambut datangnya Tahun Baru Jawa.
Dalam prosesi tersebut, masyarakat diperbolehkan ikut terlibat membersihkan arca bersama para juru pelihara. Namun, proses pembersihan dilakukan dengan teknik khusus agar tidak merusak benda cagar budaya. Eko menegaskan, perawatan arca hanya menggunakan air bersih dan sikat berbahan lembut berwarna hijau. Penggunaan sabun, bahan kimia maupun sikat kawat sama sekali tidak diperbolehkan.
Air yang digunakan dalam prosesi jamasan juga bukan air biasa. Air tersebut diambil dari tujuh sumber mata air di Kecamatan Pagu, yakni Sumber Tanjung, Sumber Gundi, Sumber Sumberjo, Sumber Towo, Sumber Soko, Sumber Bendo, dan Sendang Tirto Kamandanu. Prosesi turut dilengkapi bunga setaman dan kembang telon sebagai bagian dari tradisi adat Jawa.
"Jadi untuk pembersihan cagar budaya ini teman-teman jupel memang sudah memiliki kemampuan untuk melakukan perawatan," tuturnya.
Lebih jauh, Eko menuturkan bahwa nilai utama dari jamasan bukanlah mengejar kejayaan masa lalu, melainkan mengambil pelajaran dari warisan leluhur.
"Kalau jamasan itu kan sifatnya melakukan perawatan, melakukan perawatan sekaligus sebagai introspeksi. Jadi melalui jamasan merawat cagar budayanya, selamatannya sebagai bentuk introspeksi, mengingat leluhur, leluhur kita telah memberikan banyak hal," jelasnya.
Sebelum prosesi dimulai, juga dilakukan doa keselamatan serta pembacaan legenda Tothok Kerot. Menurut Eko, kisah mengenai Tothok Kerot memiliki dua sudut pandang, yakni versi ilmiah dan versi legenda, yang keduanya tetap harus dilestarikan.
"Tapi yang penting adalah makna, nilainya. Kita mencari piwulang leluhur, apa yang sudah diajarkan oleh leluhur kita tentang kebaikan, tentang gotong royong, itu yang harus kita jaga bersama-sama," tambah Eko.
Secara arkeologis, Totok Kerot merupakan Arca Dwarapala, yaitu arca penjaga yang biasa ada di pintu atau gerbang candi. Namun di tengah masyarakat berkembang legenda mengenai asal-usul nama Tothok Kerot yang dikaitkan dengan kisah seorang putri dari daerah selatan, anak seorang pertapa sakti, yang jatuh hati kepada Sri Aji Joyoboyo.
Dalam legenda tersebut, sang putri terus mengejar Sri Aji Joyoboyo meski telah diperingatkan. Karena merasa terganggu, Sri Aji Joyoboyo menyebut perilakunya seperti raksasa hingga sang putri berubah menjadi buto. Ketika terus mengejar, ia kembali mendapat sabda hingga akhirnya berubah menjadi batu. Dari kisah inilah lahir legenda yang melekat pada Arca Totok Kerot hingga kini, berdampingan dengan penjelasan ilmiah mengenai fungsi arca sebagai penjaga kawasan pada masa lampau. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

