Warga Jombang Diresahkan oleh Komunitas Gay dengan Ribuan Pengikut di Facebook
Kemunculan komunitas gay di Facebook mengingatkan warga Jombang pada kasus Ryan Jagal yang memutilasi sejumlah orang pada tahun 2007 silam
JOMBANG, SJP—Keberadaan komunitas pria penyuka sesama jenis dalam hal orientasi seksual membuat resah warga Kabupaten Jombang. Komunitas tersebut seakan ingin menunjukkan eksistensi dengan menampakkan dalam grup media sosial Facebook.
Pantauan hingga Selasa (8/7/2025), lebih dari empat grup Facebook dengan jumlah pengikut ratusan sampai ribuan anggota. Salah satunya grup “Komunitas Waria & Gay Mojokerto & Jombang” dengan jumlah pengikut 4.892 anggota. Kemudian grup “Gay Jombang” dengan jumlah pengikut 1.423 anggota.
Kemudian “Grup Gay Jombang” dengan jumlah pengikut 13.901 anggota. Lalu ada grup “Komunitas Gay Jombang” dengan pengikut 1.387 anggota. Kemudian ada juga grup “New Komunitas Gay Jombang Kota”.
Grup Facebook tersebut terpantau aktif dalam menjalin komunikasi antaranggota. Namun sayangnya, beberapa obrolan sangat tendensius mengarah kepada hal-hal yang berbau seksualitas menyimpang.
Setiawan (42), mengaku resah dengan keberadaan grup Facebook tersebut. Tidak hanya soal orientasi seksual menyimpang, namun kemunculan komunitas gay mengingatkan kepada kasus Ryan Jagal Jombang dan sejumlah kasus lainnya.
"Jangan terulang lagi kayak kasus Ryan Jagal. Gara-gara orientasi seksual, malah mengarah kepada aksi pembunuhan," ucapnya, Selasa (8/7/2025).
Setelahnya, kata Setiawan, pada tahun 2022 ada kasus oknum jaksa yang melakukan pencabulan kepada anak laki-laki di sebuah hotel di Jombang. Lalu terbaru, pembina Pondok Pesantren (Ponpes) di Kecamatan Kesamben melakukan pencabulan kepada santri laki-lakinya dan tengah dalam penyidikan Kasi Pidum Kejaksaan Negeri (Kejari) Jombang.
"Itu yang bikin saya resah dengan keberadaan grup gay di media sosial," bebernya.
Hal senada juga disampaikan Ayu. Dia mengaku resah dengan keberadaan komunitas tersebut. Menurutnya, keberadaan komunitas seperti itu muncul karena adanya kebutuhan kasih sayang dan hasrat yang tidak tersalurkan dengan baik.
"Menurutku, grup seperti itu lebih banyak mudaratnya. Bahkan bisa mencoreng nama Kabupaten Jombang yang dikenal sebagai Kota Santri," ujarnya.
Semestinya, kata Ayu, sejak awal keluarga memberi edukasi sedini mungkin. Kalau pun sudah terlanjur, harus ada arahan agar tidak sampai terlalu jauh melenceng. Dia berpesan kepada anggota grup agar memanfaatkan wadah komunitas untuk hal lebih positif.
"Gunakan untuk diskusi yang bermanfaat. Bukan sebagai tempat menyalurkan hasrat. Apalagi yang sesama jenis," tegasnya. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

