Wanita Pekerja Sampah di Gresik Terpapar Mikroplastik, Akademisi Ingatkan Pemerintah Tak Abai
Temuan itu diketahui dalam kolaborasi riset bersama Laboratorium Green Hospital Korea Selatan milik Wonjin Institute for Occupational Environmental Health. Penelitian dilakukan terhadap 32 sampel perempuan pemilah sampah di Gresik, Jawa Timur, terdiri dari 27 pekerja pemilah sampah dan 5 perempuan nonpekerja sebagai kontrol
GRESIK, SJP - Wanita pekerja sampah yang dalam risetnya positif terpapar mikroplastik di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, tidak hanya menyebabkan gangguan kesehatan tubuh, tetapi juga dapat mengancam kelangsungan bagi generasi yang akan datang. Hal tersebut terungkap dalam penelitian dari Ecological Observation and Wetland Conservations (Ecoton) bersama Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair).
Temuan itu diketahui dalam kolaborasi riset bersama Laboratorium Green Hospital Korea Selatan milik Wonjin Institute for Occupational Environmental Health. Penelitian dilakukan terhadap 32 sampel perempuan pemilah sampah di Gresik, Jawa Timur, terdiri dari 27 pekerja pemilah sampah dan 5 perempuan nonpekerja sebagai kontrol. Analisis dilakukan terhadap 65 jenis bahan kimia dalam darah dan urin.
Akademisi UNAIR, dr Lestari Sudaryanti, menilai temuan ini sebagai sinyal bahaya masalah kesehatan dalam tubuh. Pemerintah diharapkan tidak abai dan memberi perhatian lebih bagi wanita pekerja sampah.
"Saya berharap ada perhatian lebih, karena memang mereka hidup dalam kondisi lingkungan paparan plastik tinggi. Maka pemerintah ada kewajiban untuk perlindungan dan pengawasan kesehatan agar lebih bagus lagi," kata Lestari, Selasa (2/12/2025).
Lestari mengatakan, bahwa jumlah perempuan terpantau lebih banyak di dalam populasi lingkungan kerja. Ia mengaku, perlindungan pemerintah terhadap pekerja perempuan masih sangat minim. Dibandingkan sosok laki-laki, ia mengungkap pekerja perempuan memiliki fisik yang lebih rentan.
Hendaknya pemerintah memberikan perhatian serius terkait kesejahteraan dan meminimalisasi paparan saat bekerja.
"Kita tahu banyak mereka perempuan banyak digaji dengan upah rendah. Bahkan bersentuhan langsung tanpa alat pelindung diri," jelasnya.
Lanjut Lestari, perempuan masih menjadi indikator keberhasilan pembangunan dengan angka kematian ibu dan bayi.
Kalau paparan bahan kimia berbahaya berpengaruh terhadap tumbuh kembang janin, Lestari menyebut bukan tidak mungkin akan lahir bayi dengan bayi yang bermasalah.
"Seperti berat badan yang kurang menjadi stunting akhirnya. Permasalahan nasional penurunan stunting tidak akan selesai-selesai," paparnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gresik Sri Subaidah, enggan memberikan tanggapan atas temuan mikroplastik yang mengontaminasi pekerja sampah perempuan di wilayahnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

