Volume Sampah di Kota Batu Melonjak hingga 50 Ton per Hari Selama Libur Lebaran
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mencatat produksi sampah harian yang pada kondisi normal berada di kisaran 30 ton, diproyeksikan melonjak hingga 50 ton per hari saat puncak libur.
KOTA BATU, SJP - Lonjakan aktivitas masyarakat dan wisatawan selama libur Lebaran 2026 berdampak signifikan terhadap peningkatan volume sampah di Kota Batu.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mencatat produksi sampah harian yang pada kondisi normal berada di kisaran 30 ton, diproyeksikan melonjak hingga 50 ton per hari saat puncak libur.
Kepala DLH Kota Batu, Dian Fachroni, pada Jumat (27/3/2026) menyebutkan bahwa kenaikan ini terutama terjadi di kawasan strategis, seperti 21 ruas jalan protokol dan sejumlah destinasi wisata yang menjadi pusat mobilitas pengunjung.
"Intensitas kunjungan yang tinggi berbanding lurus dengan peningkatan limbah, baik organik maupun nonorganik. Perhitungan lonjakan kenaikan sampah belum final karena masih ada besok dan lusa yang juga merupakan akhir pekan (weekend). Wisatawan lokal dari wilayah Kota Malang dan Kabupaten Malang masih berpotensi berkunjung ke Kota Batu," paparnya.
Untuk merespons lonjakan tersebut, DLH menerapkan pola kerja operasional tanpa henti selama tujuh hari penuh. Sistem pembagian kerja (shifting) 24 jam diberlakukan agar proses pengumpulan dan pengolahan sampah tetap berjalan optimal, termasuk saat Hari Raya Idulfitri.
Pada aspek pengolahan, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Tlekung menjadi titik utama penanganan. Fasilitas ini dioperasikan dengan skema tiga sif, masing-masing berdurasi enam jam, guna menjaga ritme pengolahan tetap stabil di tengah peningkatan volume sampah.
DLH juga mengandalkan sejumlah infrastruktur untuk menekan penumpukan. Big Composter dimaksimalkan untuk mengolah hingga 8 ton sampah organik per hari, sementara tiga unit insinerator di Tlekung serta masing-masing satu unit di Kelurahan Dadaprejo dan Sisir dioperasikan secara penuh.
"Dengan kapasitas pembakaran mencapai 2 ton setiap dua jam, DLH menargetkan sistem one day process, yakni sampah yang masuk dapat langsung dituntaskan dalam satu hari," imbuhnya.
Selain itu, distribusi pengangkutan diperkuat melalui sembilan unit truk jungkit (dump truck) yang beroperasi secara berkala di seluruh wilayah kota. Tim Reaksi Cepat "Sapu Jagat Sampah" juga dikerahkan untuk mengantisipasi pembuangan liar, terutama di wilayah perbatasan.
Meski terdapat pembatasan lembur bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), DLH tetap dapat mengoptimalkan kinerja petugas melalui kebijakan relaksasi khusus dari pemerintah daerah dalam kondisi darurat. Hal ini dinilai krusial untuk menjaga stabilitas pengelolaan sampah di tengah lonjakan beban kerja. (*)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

