Upaya Hari Subandono dalam Melestarikan Warisan Hijau di Kabupaten Malang

Pelestari lingkungan di Desa Pamotan, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang ini merawat kebun manggis dan durian warisan mertuanya

12 Mar 2025 - 12:02
Upaya Hari Subandono dalam Melestarikan Warisan Hijau di Kabupaten Malang
Drs Hari Subandono saat menunjukkan kebun manggis milik mertuanya di Dampit Malang (foto: Hafid/SJP)

MALANG, SJP — Di tengah pesatnya perubahan zaman, masih ada segelintir orang yang tetap teguh menjaga warisan lingkungan. Salah satunya Hari Subandono (64), petani asal Desa Pamotan, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang. 

Bukan sekadar merawat kebun warisan keluarganya, Hari juga mempertahankan nilai-nilai pelestarian lingkungan yang ditanamkan oleh mertuanya, Pak Kusdi, peraih penghargaan perintis lingkungan tahun 1982.

Nama Pak Kusdi mungkin tak lagi dikenal luas. Namun di Desa Pamotan, namanya tetap hidup sebagai pahlawan lingkungan. Dia meninggalkan warisan berharga, berupa kebun buah yang kini dikelola oleh menantunya. 

Hari Subandono tidak hanya mempertahankan kebun itu, tapi juga berupaya menjadikannya lebih bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat.

Di atas lahan seluas 1,4 hektare, Hari merawat 42 pohon manggis yang sudah berumur puluhan tahun serta 17 pohon durian yang ditanam sejak tahun 2002. 

Baginya, menanam tak hanya soal hasil panen, namun juga bagian dari sedekah yang akan terus memberi manfaat.

"Kalau kita menanam, itu sedekah terbaik. Pahalanya terus berjalan. Karena memberi manfaat bagi lingkungan dan orang lain," ujarnya.

Menurut Hari, menanam pohon bukan hanya tentang ekonomi. Dia menyadari, pohon-pohon yang ditanamnya berkontribusi untuk keseimbangan lingkungan, menyediakan oksigen, serta menjaga ekosistem.

Memang tidak mudah bagi Hari untuk mempertahankan kebun ini. Terlebih, banyak pihak yang menyarankan agar pohon-pohon tua ditebang untuk kemudian diganti dengan tanaman yang lebih cepat menghasilkan keuntungan. 

Namun, dia berpegang teguh pada prinsipnya. Bahwa warisan ini harus tetap lestari.

"Kalau saya menanam, lalu anak saya nanti menebang begitu saja, itu miris sekali. Ini amanah yang harus saya jaga," pesan Hari.

Da sadar, bahwa bertahan sebagai petani di era sekarang membutuhkan kreativitas. Manggis, durian, dan tanaman buah lain yang dia rawat bersifat musiman. 

Oleh karena itu, Hari mengembangkan strategi dengan menanam tanaman lain yang bisa dipanen lebih sering. Seperti sayur-sayuran.

Meski awalnya hanya berfokus pada pertanian, dia kemudian melihat potensi lain dari kebunnya. Yakni sebagai kebun edukasi. 

Dia ingin lahan ini tidak hanya berfungsi sebagai sumber penghasilan, tetapi juga sebagai tempat belajar bagi generasi muda tentang pentingnya pertanian dan pelestarian lingkungan.

"Sebenarnya ada keinginan menjadikan kebun ini sebagai kebun edukasi. Kalau ekonomi kita terbantu, kenapa tidak kita berbagi ilmu juga?" ujarnya.

Namun, mewujudkan hal itu bukan perkara mudah. Keterbatasan lahan untuk fasilitas tambahan, serta minimnya dukungan dari pihak luar masih menjadi kendala.

Selain kebun buah, Desa Pamotan juga memiliki aset alam lain yang sangat berharga. Namanya Sumber Umbulan di Dusun Umbulrejo. 

Sumber air alami ini bukan hanya menghidupi warga sekitar, tetapi juga menjadi salah satu pemasok utama air bersih untuk wilayah Kecamatan Dampit hingga Kecamatan Turen.

Memiliki debit 50 liter per detik (LPS), sumber ini dikelola oleh Perumda Tirta Kanjuruhan, bekerja sama dengan pemerintah desa dan Perhutani.

Airnya melayani lebih dari 5.918 sambungan rumah (SR), menjadikannya sumber kehidupan bagi ribuan warga.

Namun, kelestarian alam dan Sumber Umbulan kini menghadapi tantangan. Perubahan lingkungan, meningkatnya populasi tikus, serta kelangkaan pupuk menjadi permasalahan yang harus segera diatasi. 

Hari berharap, pemerintah lebih memperhatikan kondisi lingkungan. Terutama dalam hal ketersediaan pupuk yang ramah lingkungan.

"Saya mulai mengurangi penggunaan pupuk kimia. Belajar dari berbagai sumber, termasuk YouTube dan petani lain, saya mencoba pupuk alami untuk menjaga tanah tetap subur," katanya.

Sebagai pewaris perjuangan Pak Kusdi, Hari Subandono selalu optimistis. Dia ingin kebunnya terus berkembang. Bukan hanya sebagai sumber penghidupan, tapi juga sebagai warisan yang bisa diteruskan oleh generasi berikutnya.

"Ini semua anugerah Tuhan. Kalau saya bongkar, itu seperti menyia-nyiakan apa yang sudah diberikan," pungkasnya.

Melalui dedikasi dan kecintaannya terhadap lingkungan, Hari Subandono membuktikan bahwa menjaga alam bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau aktivis, tetapi juga bisa dimulai dari tangan seorang petani. 

Dia adalah sosok inspiratif yang menampilkan bukti nyata, bahwa satu pohon yang ditanam hari ini, akan menjadi naungan dan sumber kehidupan di masa mendatang. (*)

Editor: Ali Wafa

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow