Universitas Negeri Malang Jadi Tuan Rumah The 12th BWCF 2023

Tema besar dari pelaksanaan BWCF 2023 mengangkat "Tribute to Edi Sedyawati (1938-2022) Ganesa, Seni Pertunjukan, dan Repartriasi Benda-Benda Purbakala Indonesia".

21 Nov 2023 - 17:30
Universitas Negeri Malang Jadi Tuan Rumah The 12th BWCF 2023
BWCF 2023 kembali digelar di Universitas Negeri Malang (UM) mulai 23 hingga 27 November 2023 (Foto : Donny Maulana/SJP)

Kota Malang, SJP - Kembali dilaksanakan secara luring pasca pandemi covid-19, Borobudur Writers and Cultural Festival 2023 (BWCF 2023) kali ini digelar di Kota Malang, (23-27/11/2023).

Tema besar dari pelaksanaan BWCF 2023 mengangkat "Tribute to Edi Sedyawati (1938-2022) Ganesa, Seni Pertunjukan, dan Repartriasi Benda-Benda Purbakala Indonesia".

Almarhum Prof Dr Edi Sedyawati, mantan Direktur Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (1993-1998) adalah sosok intelektual yang memiliki banyak dimensi pemikiran.

Beliau adalah seorang arkeolog yang mumpuni, seorang pengamat tari (dan juga penari) yang luas pengetahuannya akan karya tari baik tradisi maupun modern, serta seorang birokrat kebudayaan yang memiliki pengaruh sangat besar dalam kebijakan- kebijakannya.

Di zamannya, seni dan kebudayaan seolah menjadi roh, bagian dari jiwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Edi Sedyawati wafat pada 11 November tahun lalu di usia ke 84 tahun. November tahun ini adalah peringatan setahun meninggalnya Edi Sedyawati

"Untuk memperingati setahun kepergian ibu Edi maka BWCF (Borobudur Writers and Cultural Festival) bermaksud menyelenggarakan sebuah festival yang merayakan pemikiran Edi Sedyawati," ujar Seno Joko Suyono, Founder & Kurator BWCF, Selasa (21/11/2023).

"Sejumlah acara mulai dari pidato kebudayaan, launching buku, dokumenter, lecture, bazar buku, serta workshop yang berkaitan dengan dunia arkeologi dan tari yang digeluti oleh Bu Edi, hingga pergelaran seni pertunjukan dan sastra akan dilaksanakan," sambungnya.

Sebagai informasi, BWCF adalah sebuah festival tahunan yang selalu berusaha menonjolkan relevansi pemikiran-pemikiran mengenai nusantara dalam kehidupan.

Dalam 12 tahun perjalanannya, BWCF selalu mengangkat kajian-kajian serius tentang topik tertentu dalam khazanah nusantara.

"Selalu dalam setiap penyelenggaraanya, BWCF mendatangkan puluhan pakar lintas disiplin dari arkeologi, sejarah, antropologi sampai filologi. Diharapkan dengan adanya forum ini, kekayaan pemikiran nusantara dapat terangkat kembali dan dikenali oleh khalayak luas termasuk generasi milenial," tambahnya

Ia melanjutkan jika salah satu strategi BWCF berkaitan dengan hal itu yakni berusaha mengangkat kembali disertasi atau buku monumental seorang ilmuwan yang mengkaji nusantara untuk dieksplorasi gagasan-gagasannya demi pemajuan kesenian dan kebudayaan kontemporer Indonesia.

"Di antaranya, BWCF pernah mengangkat tema Ratu Adil yang dibahas dalam disertasi milik sejarawan Peter Carey mengenai Diponegoro. Selain itu, BWCF sebelumnya juga pernah mengangkat disertasi milik Romo Zoetmulder tentang teologi Jawa yaitu Manunggaling Kawula Gusti. Serta pemikiran Claire Holt, peneliti Amerika yang di tahun 60-an menulis sebuah buku sangat berpengaruh di lingkungan akademis tentang sejarah seni di nusantara dengan judul Art in Indonesia: Continuities and Change," lanjutnya

Tahun 2022, BWCF mengangkat pemikiran almarhum arkeolog Hariani Santiko, rekan kerja Edi Sedyawati yang wafat lebih dahulu. 

Disertasi Hariani yang dipertahankan di Universitas Indonesia tahun 1987 berjudul Kedudukan Batari Durga di Jawa pada Abad X-XV Masehi.

"Disertasi tersebut kami anggap sangat penting dan langka karena menyajikan data dan dokumen mengenai salah satu heritage arkeologi kita yang hebat tetapi dilupakan dan jarang dibahas: arca-arca Durga. Tahun 2023, giliran spektrum pemikiran Edi Sedyawati yang kami pilih sebagai tema utama BWCF," tandasnya.

Lebih lanjut, seluruh acara akan dilaksanakan selama 5 hari di kampus Universitas Negeri Malang (UM).

Adapun alasan mengapa lokasi BWCF tahun ini dilaksanakan di Malang, pertama mengingat disertasi Edi Sedyawati berkenaan dengan arca-arca Ganesha yang ditemukan dari sekitar Malang, Kediri, dan Singosari.

Kedua, dengan diadakannya BWCF 2023 di Malang, tribute dan penghormatan terhadap almarhum Edi Sedyawati menjadi sangat kontekstual. (0)

editor: trisukma

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow