Turnamen MLBB Goes To School Digelar di Surabaya, Angkat Slogan 'Belajar Dulu Baru Mabar'

Turnamen itu tidak semata-mata soal kompetisi, melainkan sarana pembentukan karakter. Melalui esport, siswa diajarkan nilai sportivitas, kerja sama tim, disiplin, serta kemampuan mengendalikan emosi, yang relevan dengan kehidupan akademik maupun sosial.

10 Jan 2026 - 14:57
Turnamen MLBB Goes To School Digelar di Surabaya, Angkat Slogan 'Belajar Dulu Baru Mabar'
Pelajar SD dan SMP Surabaya mengikuti Grand Tournament Mobile Legends: Bang Bang Goes To School 2025 di Atrium Tunjungan Plaza 3.(Humas Pemkot Surabaya for SJP)

SURABAYA, SJP - Pola belajar anak-anak terus bergerak mengikuti zaman. Jika dulu ruang kelas identik dengan papan tulis dan buku pelajaran, kini pendidikan mulai merangkul dunia digital sebagai media pembelajaran. 

Evolusi itulah yang kini tampak nyata dalam gelaran Grand Tournament Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) Goes To School 2025 di Surabaya, ajang esport pelajar yang tak sekadar mempertandingkan keterampilan bermain, tetapi juga nilai-nilai pendidikan.

Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) Goes To School 2025 sendiri merupakan program yang digagas Moonton Games selaku pengembang, dengan tujuan mengintegrasikan gim sebagai media pembelajaran karakter, literasi digital, serta pengendalian diri.

Dengan melibatkan lebih dari 300 sekolah tingkat SD dan SMP di Surabaya, program tersebut juga merangkul para guru melalui program Teacher Ambassador, dimana para guru dibekali peran sebagai pengawas sekaligus pendamping agar aktivitas bermain gim tetap berada dalam koridor pendidikan.

Pendekatan itu kemudian diwujudkan lebih luas melalui ajang Grand Tournament MLBB Goes To School 2025 yang diselenggarakan di Atrium Tunjungan Plaza 3 Surabaya, sejak Kamis hingga Ahad, 8–11 Januari 2026.

Pemerintah Kota Surabaya pun memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut. Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Febrina Kusumawati menyoroti slogan dari acara tersebut yang berbunyi 'Belajar Dulu Baru Mabar' untuk benar-benar diterapkan agar minat bermain dan tanggung jawab akademik siswa busa seimbang.

"Saya ingin slogan tersebut benar-benar diresapi di dalam hati. Kalau tidak belajar, jangan boleh main bareng (mabar) dulu," ujar Febrina saat dikonfirmasi pada Sabtu (10/1/2026).

Dirinya juga menekankan bahwa peran guru menjadi kunci utama dalam memastikan pemanfaatan gim tetap sehat dan terkendali, terutama di tengah masifnya penggunaan gawai di kalangan pelajar.

"Kami menitipkan pesan ini kepada bapak dan ibu guru untuk membantu pengawasan agar anak-anak kita tetap sehat dalam menggunakan gadget," tuturnya.

Menurut dia, turnamen itu tidak semata-mata soal kompetisi, melainkan sarana pembentukan karakter. Melalui esport, siswa diajarkan nilai sportivitas, kerja sama tim, disiplin, serta kemampuan mengendalikan emosi, yang relevan dengan kehidupan akademik maupun sosial.

"Kami berharap kegiatan ini dapat membentuk generasi muda yang berprestasi dan berkarakter baik," harap Febrina.

Ia juga menilai turnamen tersebut sebagai langkah awal menuju jalur prestasi yang lebih tinggi, termasuk peluang berkarier secara profesional di dunia esport hingga level internasional.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengembangan Ekosistem Gim Moonton Games, Erina Tan, mengapresiasi tingginya antusiasme dunia pendidikan di Surabaya dan Jawa Timur terhadap program yang mereka gagas.

"Tidak hanya siswa tetapi guru juga antusias. Kita mulai program ini dari hanya 50 guru, dan sekarang sudah berkembang menjadi 328 guru di Surabaya dan sekitarnya," ungkap Erina.

Ia menegaskan bahwa Moonton berkomitmen membangun ekosistem esport yang aman, terstruktur, dan berorientasi pada pendidikan, dengan guru sebagai fondasi utamanya.

"Peran guru sangat krusial untuk memastikan esport berjalan selaras dengan nilai pendidikan," ujarnya.

Erina juga menekankan bahwa minat anak-anak terhadap gim tidak perlu dipatahkan, melainkan diarahkan agar menjadi aktivitas yang produktif dan berdampak positif.

"Kami ingin menunjukkan bahwa minat anak-anak bisa diarahkan tanpa mengesampingkan pendidikan formal," jelasnya.

Melalui turnamen tersebut, Moonton berharap para siswa tidak hanya tumbuh sebagai pemain gim, tetapi juga sebagai pribadi yang memiliki karakter, disiplin, dan semangat belajar yang kuat.

"Guru dan pihak sekolah adalah pelopor dan tonggak terpenting dalam membentuk program ini," pungkas Erina.

Dengan pendekatan kolaboratif antara pemerintah, sekolah, dan industri gim, Surabaya kini menunjukkan bahwa edukasi dan esport bukan dua kutub yang saling bertentangan, melainkan dapat berjalan beriringan dalam menyiapkan generasi masa depan. (*) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow