Tidak Ada Aksi Demo, Surabaya Terkendali Pasca Ricuh Akhir Pekan Lalu
Surabaya kembali kondusif pasca kerusuhan, patroli aparat, langkah antisipasi sekolah dan kampus, serta keputusan koordinator aksi menahan massa menjaga stabilitas kota.
SURABAYA, SJP - Situasi Kota Surabaya pasca kerusuhan akhir pekan lalu terus menunjukkan kondisi yang terkendali. Menurut pantauan hingga Senin (1/9/2025) pukul 17.00 WIB, aktivitas masyarakat berjalan normal dan arus lalu lintas berjalan lancar.
Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim) memastikan bahwa upaya pengamanan sudah diupayakan sejak Minggu (31/8/2025) malam. Aparat gabungan TNI dan Polri menggelar patroli skala besar yang melibatkan ratusan personel dengan puluhan kendaraan patroli.
Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Jules Abraham Abast menjelaskan bahwa operasi yang dilakukan menyasar jalur-jalur vital dan titik yang sebelumnya dianggap rawan konsentrasi massa, mulai dari kawasan Ahmad Yani, Raya Darmo, Urip Sumoharjo, hingga Tugu Pahlawan.
"Kita bisa laporkan untuk situasi Surabaya dan Jawa Timur masih relatif terkendali dan kondusif," jelas Kombes Pol Abast, Senin (1/9/2025)
Lebih lengkap, Ia merinci bahwa patroli gabungan yang melibatkan 265 personel Polri dan TNI serta 34 kendaraan roda dua dan roda empat sejak minggu malam menunjukkan bahwa arus lalu lintas sudah terkendali.
"Arus lalu lintas terkendali, pusat keramaian terpantau aman, dan seluruh kegiatan masyarakat berjalan lancar," ujarnya.
Langkah antisipasi juga datang dari berbagai pihak di luar aparat keamanan. Sekolah melalui Dinas Pendidikan Kota Surabaya dan sebagian kampus memilih mengalihkan kegiatan belajar mengajar ke rumah atau pembelajaran jarak jauh (PJJ).
Sedangkan beberapa instansi pemerintah dan kedinasan memperbolehkan pegawai tidak mengenakan seragam demi menjaga fleksibilitas situasi dan keamanan pegawai.
Koordinator aksi yang sebelumnya memobilisasi massa turut mengonfirmasikan bahwa tidak ada agenda turun ke jalan pada hari ini. Selain untuk menunggu kondisi Kota kembali kondusif, keputusan itu juga diambil akibat dirasa banyak provokator yang masuk dalam jajaran massa aksi.
Senada dengan pesan itu, Polda Jatim juga mengingatkan masyarakat untuk kedepan lakukan aksi demonstrasi tanpa anarkisme, dan tidak mudah terprovokasi isu yang beredar di media sosial, termasuk kabar penjarahan yang sempat ramai diperbincangkan.
"Karena nanti setiap pelaku kejahatan akan diproses sesuai hukum yang berlaku," tegas Kombes Pol Abast.
Ia juga menambahkan bahwa ketenteraman hanya bisa tercapai melalui sinergi seluruh pihak, mulai pemerintah daerah, tokoh masyarakat, tokoh agama, hingga kalangan pemuda.
"Hanya dengan kolaborasi semua pihak maka ketenteraman dan keamanan masyarakat akan terwujud. Komunikasi yang baik antara masyarakat dan aparat akan memutus mata rantai kejahatan serta menciptakan rasa aman," tukasnya. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

