Tertahan di Babak 32 Besar, Pelatih Persedikab Kediri Pilih Mundur

Pelatih Persedikab, Muslim Habibi memutuskan untuk mundur dari kursi kepelatihan sebagai sikap tanggung jawab seorang pelatih yang gagal memenuhi target tim

17 May 2024 - 21:15
Tertahan di Babak 32 Besar, Pelatih Persedikab Kediri Pilih Mundur
Pemain muda tim Persedikab Kediri di Liga 3 Nasional. (Foto : Persedikab Kediri/SJP)

Kabupaten Kediri, SJP - Persedikab Kediri lagi-lagi harus mengubur asa untuk tampil di Liga 2 musim depan. Langkah tim sepak bola Kabupaten Kediri itu terhenti di babak 32 besar Liga 3 Nasional.

Kenyataan pahit itu terjadi setelah tim berjuluk Bledug Kelud ditahan imbang NZR Sumbersari Malang. Laga terakhir Grup 8 yang berlangsung pada Kamis (16/5/2024) kemarin berakhir dengan skor 1-1.  

Atas hasil seri tersebut, Persedikab gagal lolos ke babak 16 besar nasional senasib dengan Tri Brata Rafflesia FC. Sementara NZR Sumbersari Malang berhak melaju ke babak 16 besar bersama Persekabpas Pasuruan.

Lebih menyakitkan lagi, Persedikab yang terhenti di posisi 3 klasemen nyatanya sama-sama mengoleksi 3 poin, hanya kalah selisih gol dari rivalnya NZR Sumbersari yang akhirnya menempati posisi 2 klasemen.

Atas kegagalan ini, Pelatih Persedikab, Muslim Habibi memutuskan untuk mundur dari kursi kepelatihan. Menurutnya, hal itu merupakan sikap tanggung jawab seorang pelatih yang gagal memenuhi target tim.

"Dengan ini saya juga menyatakan mengundurkan diri dari pelatih kepala Persedikab. Bagaimana tim ini dibentuk dengan dukungan dana yang minim. 17 pemain yang kami miliki masih kelahiran 2003-2004. Dua atau tiga tahun lagi kita bisa lebih kompetitif di Liga 3," ungkap Habibi, Jumat (17/5/2024).

Habibi mengakui sejumlah kendala yang dialami Persedikab di babak 32 besar Nasional ini. Salah satunya dari segi finishing. Anak-anak asuhannya sering mendominasi permainan, namun banyak peluang yang akhirnya gagal dikonversi menjadi gol.

Selebihnya, lanjut Habibi, pemain Persedikab kebanyakan masih berusia muda. Hal itu menjadi salah satu faktor yang membuat mental atau psikis para pemain sering tidak stabil, atau masih naik turun.

"Ini proses, secara tim memang gagal dan ini menjadi tanggung jawab saya. Tetapi secara individu saya yakin anak-anak kelahiran 2003-2004 memiliki prospek akan menjadi lebih baik," pungkas pelatih berusia 29 tahun itu.(*)

Editor: Tri Sukma

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow