Temuan MBG Jombang, Susu Kedaluarsa, Jeruk Berbelatung dan Nasi Goreng Basi

Benar saja, dalam monitoring Dewan Pendidikan Jombang di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 2 Jombang, mendapati menu MBG susu kadaluarsa, jeruk belatung dan nasi goreng basi.

03 Sep 2025 - 17:13
Temuan MBG Jombang, Susu Kedaluarsa, Jeruk Berbelatung dan Nasi Goreng Basi
Dewan pendidikan Jombang menunjukkan menu MBG Susu kadaluarsa, Jeruk berbelatung, dan nasi goreng basi. (Fredi/SJP)

JOMBANG, SJP - Proses distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada pelajar di Jombang menuai sorotan dari Dewan Pendidikan Jombang.

Hal itu menyusul adanya keluhan siswa atas sajian menu yang dihidangkan hingga adanya laporan wali murid jika ada siswa yang mengalami diare dan mual usai menyantap makanan program MBG. 

Benar saja, dalam monitoring Dewan Pendidikan Jombang di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 2 Jombang, mendapati menu MBG susu kadaluarsa, jeruk belatung dan nasi goreng basi. 

"Kami menggali informasi dari masukan warga, temuannya ada beberapa ada susu kadaluarsa, jeruk belatung dan nasi goreng basi, jeruknya ini kemarin," kata Ketua Dewan Pendidikan Jombang, Cholil Hasyim saat diwawancarai wartawan, Rabu (3/9/2025). 

Temuan itu, sambung Cholil Hasyim akan ditindaklanjuti guna perbaikan. Terlebih, program ini merupakan program Presiden Prabowo.

Dewan Pendidikan Jombang berkomitmen untuk terus mengawal keluhan masyarakat di bidang pendidikan untuk kemajuan Jombang. 

"Tindak lanjutnya kami bicarakan bersama tentang yang kami dapatkan, kemudian harus ada perbaikan, kalau tidak ada perbaikan kami rekomendasikan, kalau ada perbaikan ya sudah," terangnya.

Pantauan lapangan, sembari membawa bukti surat dokter, Dewan Pendidikan bertemu salah satu petugas dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyalurkan MBG di SMP Negeri 2 Jombang dan bertanya kepada petugas tentang jumlah porsi yang disalurkan, namun petugas itu mengaku tidak tahu. 

"Masa jumlahnya saja tidak tahu, ini program serius Presiden, jangan main-main," kata salah seorang anggota Dewan Pendidikan, Hari Sukemi. 

Tak berselang lama, Dewan Pendidikan ditemui oleh kepala sekolah dan sejumlah guru, dan meminta membuka satu persatu MBG yang telah dipacking. 

Sementara, Kepala SMPN 2 Jombang, Etik Nuroidah mengakui pihaknya sebagai penerima manfaat dari program itu. Namun, ada keterlambatan pengiriman dari Satuan Pelayanan Penuhan Gizi (SPPG). 

"Sekolah kami memang ada keterlambatan dari program MBG, akhirnya kurang, Selasa sudah diganti dan terlambat lagi," akunya. 

Menurut Etik Nuroidah keterlambatan itu sangat merugikan hingga memaksa wali kelas harus berkorban membelikan roti lantaran anak-anak tidak membawa bekal. 

"Harusnya hari senin mintanya dikirim jam 11, datangnya jam 1an (13.00 WIB), harus menunggu, anak-anak sempat kelaparan, bahkan wali kelas sampai membelikan roti," ungkapnya. 

Bahkan, saat hari kedua terlambat itu sampai anak-anak pulang. Bukan hanya keterlambatan kepala sekolah juga membenarkan adanya keluhan dari siswa. 

"Keluhan memang ada yang begitu nasinya tidak matang, kami mengimbau kepada siswa bagi yang menerima tidak layak akan kami tindak lanjuti," pungkasnya. 

Sebelumnya, program Presiden Prabowo Subianto, Makan Bergizi Gratis (MBG), dikeluhkan oleh sejumlah siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Jombang, Jawa Timur.

Makanan yang didistribusikan dinilai tidak layak konsumsi, dengan temuan lauk basi dan nasi yang kurang matang. Selain itu, pendistribusian yang terlambat juga menjadi persoalan.

Salah satu sekolah yang menerima program ini adalah SMPN 1 Jombang di Jalan Pattimura. Sebanyak 993 siswa di sekolah tersebut menerima manfaat dari program MBG.

Pada hari pertama distribusi, Senin (1/9/2025), kondisi makanan dinilai tidak layak. Sejumlah siswa menemukan lauk ayam yang basi dan masih berdarah, serta nasi yang keras karena kurang matang.

Pada hari kedua, Selasa (2/9/2025), kondisi sedikit membaik dengan menu berupa sepotong tahu, bakwan, sayur jagung, jeruk, dan saus.

Meski pada hari pertama makanan dalam kondisi tidak layak, siswa tetap menyantapnya karena menunggu terlalu lama dan merasa lapar. Beruntung, tidak ada siswa yang mengalami sakit perut atau keracunan.

“Kemarin hari Senin, enak cuma ayamnya ada yang basi, tahunya hambar. Ini tadi ada kayak bakwan, terus tahu, jeruk sama ada kayak sayur-sayurannya gitu,” ujar siswa inisial KB dalam pesan diterima wartawan, Rabu (3/9/2025)

“Perbedaannya sama kemarin lebih enak sekarang. Kalau kemarin ayamnya ada darahnya terus nasinya keras kurang matang, sekarang enak rasanya udah kayak biasanya. Kemarin tetep dimakan karena lapar, (perutnya) nggak apa-apa," ungkap M siswa lainnya. (*)

Editor: Rizqi Ardian 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow