Tape Ketan Hitam, Warisan Kuliner di Mojokerto yang Jadi Primadona Lebaran 2026
Kuliner fermentasi tradisional ini dianggap sebagai simbol identitas dan warisan keluarga yang terus terjaga secara turun-temurun.
MOJOKERTO, SJP — Di tengah beragamnya sajian kue modern saat Idulfitri 1447 Hijriah, tape ketan hitam tetap menjadi hidangan yang paling diburu oleh tamu di Desa Kembanganringgit, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto.
Kuliner fermentasi tradisional ini dianggap sebagai simbol identitas dan warisan keluarga yang terus terjaga secara turun-temurun.
Vivi Nur Rahmawati, salah satu warga yang rutin menyajikan hidangan tersebut, mengungkapkan bahwa tradisi ini merupakan kebiasaan yang diwariskan oleh orang tuanya.
Tingginya minat tamu membuat Vivi harus mengolah bahan baku dalam jumlah besar setiap tahunnya.
"Ya, karena memang ini turun-temurun. Biasanya ibu itu membuat tape ketan hitam. Saat momen Lebaran, saya mengolah hingga empat kilogram beras ketan hitam demi memenuhi permintaan para tamu," ujar Vivi, Ahad (22/3/2026).
Menurut dia, proses pembuatan tape ketan hitam membutuhkan ketelatenan tinggi, mulai dari tahap perendaman hingga fermentasi.
"Bikin sendiri, bahan dasar ketan hitam direndam semalam terus diberikan ragi hingga dua hari. Dan antusias tamu-tamu itu selalu yang ditanyakan tape ketan hitam ini," tambah dia.
Daya tarik tape ketan hitam ini diakui oleh para tamu, salah satunya Andini. Bagi dia, aroma dan rasa manis yang legit memberikan sensasi berbeda dibandingkan kue kering pada umumnya. Ia menilai cita rasa buatan warga Kembanganringgit memiliki keunikan tersendiri.
"Lebaran tahun ini sangat mengesankan karena di sini disuguhi tape ketan hitam. Sejak saya kecil dulu mesti disuguhi ini, biar terasa berbeda saja. Rasanya manis, berbeda dari ketan hitam yang biasa dijual," tandasnya.
Kelezatan sajian ini tidak hanya sekadar memanjakan lidah, namun juga menjadi sarana mempererat silaturahmi. Di Desa Kembanganringgit, setiap suapan tape ketan hitam menghadirkan kenangan masa lalu sekaligus menjadi bukti eksistensi warisan kuliner lokal yang mampu bertahan melintasi generasi. (*)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

