Tanpa Solusi, Warga Keluhkan Langganan Macet di Perlintasan Kereta Api Cerme Gresik
Perlintasan dekat stasiun KAI Cerme tersebut dikeluhkan warga lantaran menjadi biang kemacetan panjang kendaraan mulai pagi hingga sore, terutama saat jam-jam sibuk. Apalagi saat palang pintu tertutup adanya kereta api melintas, kemacetan terjadi hingga ratusan meter.
GRESIK, SJP — Penyempitan jalur di perlintasan sebidang milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang berlokasi di Jalan Raya Cerme Lor, Kabupaten Gresik, menuai keluhan dari pengguna jalan.
Perlintasan yang berada di dekat Stasiun Cerme tersebut dinilai menjadi pemicu kemacetan panjang sejak pagi hingga sore hari, terutama pada jam sibuk.
Berdasarkan pantauan di lapangan, antrean kendaraan hampir setiap hari mengular di area perlintasan tersebut. Kemacetan dilaporkan mencapai ratusan meter, terutama saat palang pintu ditutup untuk memprioritaskan perjalanan kereta api. Penyempitan badan jalan di sekitar rel ditengarai warga sebagai penyebab utama penumpukan volume kendaraan.
“Pada pagi hari sekitar pukul 06.00 hingga 08.00 WIB pasti padat. Sore hari puncaknya antara pukul 16.00 hingga 18.00 WIB. Begitu palang pintu tertutup, kendaraan langsung menumpuk panjang karena badan jalan menyempit tepat di perlintasan rel,” ujar salah satu pengguna jalan asal Kecamatan Benjeng, Putra, Kamis (12/2/2026).
Putra mengaku kerap terjebak kemacetan saat berangkat maupun pulang bekerja. Menurutnya, durasi kemacetan bertambah lama apabila truk bermuatan besar melintas di jam padat, ditambah frekuensi jadwal kereta api yang berdekatan.
"Seringkali palang pintu baru dibuka sebentar, namun sudah ditutup kembali karena ada kereta susulan. Hal itu yang membuat antrean semakin memanjang," imbuhnya.
Keluhan serupa disampaikan Ismanto, warga Cerme. Ia menilai kapasitas jalan di perlintasan tersebut sudah tidak sebanding dengan volume kendaraan yang melintas setiap hari, khususnya kendaraan pekerja dan truk industri.
Ismanto berharap adanya solusi konkret dari pihak terkait, seperti pelebaran jalan atau pembangunan jembatan layang (flyover) guna mengurai kemacetan.
Keberadaan Tol Krian–Bunder yang sebelumnya diproyeksikan sebagai solusi kemacetan di area tersebut dinilai warga belum memberikan dampak signifikan.
"Tarif tol cukup mahal, namun akses keluarnya berada sebelum perlintasan kereta api. Harusnya titik keluar kendaraan diarahkan ke daerah Boboh atau Domas agar lebih efektif," keluh Ismanto.
Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Gresik bersama instansi terkait segera melakukan evaluasi terhadap kondisi perlintasan tersebut. Langkah ini dinilai mendesak agar titik tersebut tidak terus menjadi area kemacetan kronis yang merugikan produktivitas pengguna jalan.
"Semoga ada solusi agar perjalanan kerja tidak terganggu. Kondisi macet ini sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa ada perubahan," pungkasnya. (*)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

