Syekh Malik Al-Athos: Guru Sunan Kalijaga yang Menyebarkan Islam di Nganjuk
NGANJUK, SJP – Di sebuah sudut Desa Ngetos, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk, tersembunyi makam tokoh sufi besar yang berjuluk Sunan Ngatas Angin atau Syekh Malik Al‑Athos. Sosok ini dikenal sebagai pelopor penyebaran agama Islam di kawasan Nganjuk yang juga salah satu guru Sunan Kalijaga.
Makam Syeikh Maliki ini tepatnya terletak di selatan Masjid Assyafi’iyah, Ngetos. Panjang makam sekitar 4 meter sebagai notasi kehormatan atas jasa beliau. Kompleks makam dan masjid dikelilingi pepohonan rindang, menciptakan suasana tenang mendukung kekhusyukan ibadah. Makamnya tak pernah sepi, terutama saat bulan suci Ramadan, dengan peziarah datang dari berbagai penjuru Nganjuk dan luar daerah.
Syekh Malik hidup di Ngetos wilayah yang dahulu bernama Tajum atau Kadipaten Ngatas Angin. Dahulu kala, Ngetos dikenal bernama Tajum atau Tajung. Penamaan yang disematkan pada masa kerajaan Majapahit. Tajum memiliki keistimewaan. Kawasan yang menjadi pusat agama Hindu. Dipimpin pemuka agama bernama Pu Tajum.
Juru kunci makam Syekh Malik Al‑Athos, Aries Trio Effendi menjelaskan, pada akhir abad ke-14, Syeikh Maliki datang ke Ngetos bertujuan menyebarkan agama Islam. Bukan tanpa alasan, sang ulama' memilih Ngetos. Dia memang gemar mendatangi pusat peradaban Hindu untuk berdakwah.
Syeikh Maliki dikenal sabar dan tidak memaksakan. Cara-cara yang dipakai sangat santun. Dia juga menggunakan pendekatan spiritual dan makrifat dalam mengajak penduduk berpindah ke Islam.
“Penyebaran agama Islam secara pelan-pelan. Apalagi, beliau (Syeikh Maliki) dikenal sabar,” ujar pria paru baya yang juga pemerhati sejarah Nganjuk ini.
Syeikh Maliki memanfaatkan situs Majapahit seperti candi Ngetos sebagai penanda waktu salat, serta sendang kuno sebagai tempat wudu. Simbol-simbol lama diubahnya menjadi sarana ibadah Islam.
Memang ada dua sendang yang dulunya diyakini menjadi tempat menyucikan diri oleh Syeikh Maliki. Salah satunya adalah sendang yang berada di bawah masjid yang berada di dekat Candi Ngetos. “Tempat di sini dulunya Beliau (Syeikh Maliki) kalau berwudu,” ujar Aries
Aris pernah didatangi rombongan dari Baalawi yang mengaku memiliki data terkait Syekh Malik Al‑Athos. Namun, juru kunci asli Ngetos yang ada trah penerus makam sepuh ini menyampaikan kepada rombongan Baalawi, bahwa makam Syeikh Maliki bukan keturunan yang disampaikan dalam data. Dia juga menjelaskan nama belakang 'Al Atos' bukan nama marga, tapi singkatan Ngetos, nama kawasan itu.
Perihal silsilah Syeikh Maliki Al Athos, menurut Aries Trio Effendi, asal-usul dan keluarganya dari wilayah Timur Tengah. Dia diyakini sebagai adik dari Syekh Jumadil Kubro, salah satu wali di Jawa.
Syekh Maliki dikenal memiliki ilmu tasawuf tinggi. Dia menjadi ajang ziarah para-wali muda, termasuk Sunan Kalijaga yang dikabarkan menimba ilmu darinya. Bukan itu saja, Syeikh Maliki yang akhirnya membuat namanya semakin disegani. Hingga akhirnya, warga menyebutnya dengan sebutan Sunan Ngatas Angin. Pasalnya, daerah tersebut dahulu kala juga diyakini ada sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Ngatas Angin.
Syekh Malik Al‑Athos menjadi figur penting dalam proses transisi spiritual dari era Hindu ke Islam di Nganjuk. Dengan pendekatan ilmu tasawuf dan penghormatan terhadap budaya lokal, beliau berhasil membuka jalan bagi dakwah Islam secara damai dan penuh magis. Kini, makam beliau menjadi simbol religiusitas dan spiritualitas yang terus dikenang lewat ziarah dan kehadiran umat. (*)
Editor : Danu S
What's Your Reaction?

