Sumur Jobong, Jejak Sejarah Majapahit yang Menjadi Tempat Wisata Edukatif di Surabaya
Sumur Jobong di Surabaya diduga peninggalan Majapahit abad ke-15, ditemukan pada 2018, kini jadi tujuan wisata edukatif.
SUARAJATIMPOST.COM - Mengisi waktu libur sekolah tidak harus selalu diisi dengan kegiatan hiburan semata. Mengajak anak-anak berkunjung ke tempat bersejarah seperti museum atau situs budaya bisa menjadi pilihan yang mendidik.
Di Kota Surabaya, Jawa Timur, terdapat sebuah peninggalan sejarah yang menarik untuk dikunjungi, yaitu Sumur Jobong yang berada di Jalan Pandean, Kampung Peneleh.
Sumur kuno ini dipercaya sebagai salah satu peninggalan dari masa Kerajaan Majapahit dan diperkirakan sudah ada sejak abad ke-15, sekitar tahun 1430-an.
Keberadaannya kini menjadi perhatian masyarakat, terutama bagi para pelajar yang ingin mengenal sejarah secara langsung.
Pada Jumat (4/7/2025), sekelompok anak terlihat mengunjungi lokasi tersebut. Salah satunya adalah Muhammad Samma (11 tahun), yang datang bersama teman-temannya untuk melihat langsung sumur tua yang masih mengeluarkan air jernih.
“Ini tadi habis lihat-lihat sumur tua yang katanya peninggalan Kerajaan Majapahit. Tadi juga sempat cuci muka dan cuci tangan pakai air sumur ini, ternyata segar,” ujarnya kepada Beritasatu.com.
Menurut keterangan Agus Santoso, anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sumur Jobong, sumur ini pertama kali ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 2018, saat Pemerintah Kota Surabaya melakukan proyek perbaikan saluran air di kawasan tersebut.
“Semua awalnya aman-aman saja sampai salah satu sekop milik pekerja bernama Gandhi menemukan rangka-rangka manusia. Kemudian pada kedalaman 100 cm, disekop lagi dan ia menemukan patahan-patahan benda besar yang berjajar di atas sumur itu,” papar Agus.
Mengetahui temuan tersebut, Agus segera menghentikan proses penggalian dan melaporkannya kepada ketua RW serta pihak kelurahan.
Penemuan ini kemudian diteliti oleh para arkeolog dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) IX Jawa Timur dan tim akademik dari Universitas Airlangga.
Berdasarkan hasil kajian, bentuk fisik sumur ini sangat mirip dengan sumur-sumur era Majapahit yang ditemukan di situs Trowulan, Mojokerto.
Sumur Jobong memiliki diameter sekitar 83 cm, tinggi 48 cm, dan kedalaman sekitar 1 meter. Sumur ini ditemukan pada hari Rabu Wage, 31 Oktober 2018 pukul 18.20 WIB.
Selain sumur, para pekerja juga menemukan sisa-sisa tulang manusia. Fosil tersebut kemudian dikirim ke Australian National University (ANU) untuk diuji menggunakan metode karbon oleh tim dari Cagar Budaya Provinsi Jawa Timur.
“Hasilnya, fosil-fosil tersebut adalah tulang manusia yang hidup sekitar tahun 1430-an dan genetikanya serupa dengan para penduduk di Kampung Peneleh yang DNA-nya juga dikirimkan kepada tim peneliti Australian National University di Canberra,” ucap Agus.
Saat ini, Sumur Jobong telah dijadikan sebagai salah satu tujuan wisata sejarah yang bersifat edukatif di Surabaya. Keberadaan situs ini memberikan kesempatan bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengenal dan memahami warisan budaya yang masih bertahan di tengah modernisasi kota. (**)
Editor: Rizqi Ardian
Sumber : Beritasatu.com
What's Your Reaction?

