“Stop Tot-Tot Wuk Wuk”: Gaya Protes Masyarakat Terhadap Pejabat Jalanan

Fenomena “Stop Tot-Tot Wuk Wuk” tengah viral sebagai bentuk protes warga terhadap arogansi pengguna sirine dan strobo di jalan. Gerakan spontan ini lahir dari kejenuhan masyarakat urban atas budaya “minta jalan” seenaknya.

06 Oct 2025 - 10:02
“Stop Tot-Tot Wuk Wuk”: Gaya Protes Masyarakat Terhadap Pejabat Jalanan
Ilustrasi Aksi Protes Masyarakat Terhadap Pejabat di Jalanan (Foto: suarajatimpost.com/Putri Diva)

SUARAJATIMPOST.COM — Fenomena unik tengah ramai di jagat media sosial Indonesia. Aksi “Stop Tot-Tot Wuk Wuk” menjadi bentuk protes masyarakat urban terhadap perilaku sejumlah pengguna jalan yang kerap menyalakan sirine dan strobo secara semena-mena. Gerakan ini lahir dari kejenuhan masyarakat terhadap budaya “minta jalan” yang dianggap berlebihan.

Istilah “Tot-Tot Wuk-Wuk” berasal dari tiruan suara sirine dan strobo kendaraan pengawalan. Aksi ini pertama kali muncul di Yogyakarta, lalu menyebar cepat ke kota-kota besar seperti Surabaya, Sidoarjo, dan Malang. Masyarakat, terutama anak muda, menirukan suara sirine saat rombongan kendaraan lewat sebagai bentuk sindiran terbuka.

Fenomena ini mendapat sambutan luas di berbagai platform media sosial. Ribuan video pendek memperlihatkan warga menirukan bunyi sirine sambil berdiri di pinggir jalan. Meski terkesan lucu, aksi tersebut menyampaikan pesan serius: jalan raya adalah ruang publik bersama, bukan milik kelompok tertentu.

Secara hukum, penggunaan sirine dan strobo diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009. Kendaraan yang berhak menggunakan alat isyarat tersebut hanya kendaraan prioritas seperti ambulans, pemadam kebakaran, dan kendaraan polisi dalam keadaan darurat. Namun dalam praktiknya, banyak kendaraan pribadi dan rombongan non-darurat yang ikut menggunakannya.

Di sejumlah titik jalanan utama Surabaya, fenomena ini mulai terlihat nyata. Beberapa kelompok masyarakat dengan sengaja menirukan sirine ketika rombongan kendaraan melintas. Aksi ini menjadi bentuk protes gaya baru masyarakat urban, memadukan ekspresi budaya populer dengan kritik sosial.

Gerakan “Stop Tot-Tot Wuk Wuk” menunjukkan cara masyarakat perkotaan menanggapi ketimpangan di ruang publik dengan gaya yang ringan namun tajam. Tanpa spanduk atau demonstrasi, sindiran yang viral ini berhasil menarik perhatian luas dan menjadi perbincangan nasional. (*)

Editor: Rizqi Ardian 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow