SLBN Kota Batu Terpaksa Satukan Tiga Jenjang Pendidikan dalam Satu Kelas karena Krisis Guru
Rasio tidak seimbang membuat satu guru harus mengampu hingga 11 siswa sekaligus, jumlah yang jauh melampaui ketentuan ideal pendidikan khusus yang seharusnya satu guru mendampingi satu hingga dua siswa.
KOTA BATU, SJP – Krisis tenaga pendidik di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Kota Batu kian memaksa sekolah mengambil langkah-langkah yang jauh dari standar ideal pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus (ABK). Kekurangan guru membuat SLBN harus menggabungkan proses belajar mengajar dari jenjang SDLB, SMPLB, hingga SMALB dalam waktu yang bersamaan.
Kepala SLBN Kota Batu, Siti Muawanah pada Sabtu (15/11/2025) mengatakan, kondisi ini terjadi karena sekolah hanya memiliki 11 guru untuk menangani total 140 siswa.
"Penggabungan tiga jenjang dalam satu waktu sebenarnya bukan pilihan pedagogis, melainkan bentuk bertahan hidup di tengah terbatasnya sumber daya. Dengan jumlah guru yang ada, kami tidak punya opsi lain. Kegiatan belajar terpaksa dilakukan bersamaan dari SD sampai SMA,” ujarnya.
Kondisi ini membuat perhatian guru terhadap siswa menjadi tidak merata, terutama bagi anak-anak dengan kebutuhan pendampingan intensif. Meski metode belajar sudah disesuaikan berdasarkan jenis ketunaan, Siti menegaskan bahwa hal tersebut tetap tidak mampu mengimbangi kebutuhan individual tiap siswa.
SLBN Kota Batu yang berdiri sejak sembilan tahun lalu di Dusun Banaran, Kecamatan Bumiaji, ini membutuhkan tambahan minimal 8 hingga 9 guru baru untuk menormalkan kembali sistem pembelajaran. Baik tenaga ASN maupun PPPK dinilai mendesak untuk menjamin keberlangsungan layanan pendidikan yang layak bagi ABK.
“Keterbatasan tenaga pendidik membuat pendampingan tidak bisa optimal. Ini situasi yang harus segera ditangani,” tandasnya. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

