Sering Dianggap Lebih Aman dari Rokok, Ahli Kesehatan Beberkan 7 Kandungan Bahaya Vape
Cairan (liquid) serta uap yang dihasilkan vape terbukti mengandung beragam bahan kimia berbahaya yang berisiko memicu kerusakan organ tubuh hingga penyakit kronis.
SUARAJATIMPOST.COM — Anggapan bahwa rokok elektrik atau vape lebih aman dibandingkan rokok tembakau atau kretek ditepis oleh para ahli medis.
Cairan (liquid) serta uap yang dihasilkan vape terbukti mengandung beragam bahan kimia berbahaya yang berisiko memicu kerusakan organ tubuh hingga penyakit kronis.
Berbeda dari persepsi umum yang menganggap uap vape sekadar air biasa, zat cair yang dipanaskan dalam perangkat elektrik ini menghasilkan aerosol berukuran mikroskopis. Partikel halus tersebut berpotensi masuk dan mengendap jauh ke dalam paru-paru.
Berdasarkan tinjauan medis, terdapat sedikitnya tujuh kandungan berbahaya di dalam cairan dan uap vape yang wajib diwaspadai.
1. Nikotin
Meskipun kadarnya bervariasi tergantung merek, nikotin tetap menjadi zat adiktif utama dalam cairan vape.
Dampaknya bisa mengakibatkan ketergantungan dan berpotensi menghambat perkembangan sel otak, khususnya pada remaja serta dewasa muda di bawah usia 25 tahun.
Konsumsi nikotin selama masa kehamilan berisiko memicu kelahiran prematur dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) pada bayi.
2. Senyawa Organik Mudah Menguap (VOC)
Salah satu bentuk VOC yang sering digunakan adalah propilen glikol, yaitu zat pelarut yang ditambahkan agar vape dapat menghasilkan asap tebal.
Paparan berlebih dapat memicu iritasi pada mata, hidung, tenggorokan, dan saluran pernapasan, serta berisiko merusak sistem saraf, hati, dan ginjal.
3. Gliserin (Vegetable Glycerin)
Gliserin berfungsi memberi rasa manis dan mempertebal uap yang dihasilkan. Meskipun kerap digunakan dalam industri makanan, uap gliserin yang dihirup secara terus-menerus tetap berpotensi menimbulkan iritasi pada saluran pernapasan.
4. Perasa Tambahan (Diacetyl dan Acetylpropionyl)
Cairan vape menyediakan beraneka ragam aroma dan rasa. Namun, bahan kimia perasa seperti diacetyl dan acetylpropionyl menyimpan bahaya serius.
Paparan bahan perasa ini dapat memicu bronchiolitis obliterans (paru-paru popcorn), yaitu kondisi penyempitan permanen pada saluran udara terkecil di dalam paru-paru akibat terbentuknya jaringan parut.
5. Senyawa Karbon (Formaldehyde, Acetaldehyde, dan Glycidol)
Senyawa karbon muncul saat cairan vape dipanaskan pada suhu tinggi. Formaldehyde dan acetaldehyde telah dikategorikan sebagai zat karsinogen (pemicu kanker) oleh badan riset kanker internasional (IARC). Selain itu, senyawa ini juga dapat merusak organ pencernaan dan jaringan kulit.
6. Akrolein (Acrolein)
Akrolein sebenarnya merupakan bahan kimia herbisida yang biasa digunakan untuk membasmi gulma. Kehadirannya dalam uap vape dapat memicu kerusakan paru-paru secara permanen yang tidak dapat disembuhkan.
7. Partikel Logam Beracun
Prosedur pemanasan komponen perangkat vape berpotensi meluruhkan material logam ke dalam uap yang dihirup. Logam berbahaya yang kerap ditemukan antara lain nikel, timah, kadmium, dan kromium.
Selain memicu reaksi alergi, paparan kromium dan nikel dalam jangka panjang terbukti meningkatkan risiko kanker paru-paru.
Langkah Terbaik: Berhenti Total
Mengingat bahaya sistemik yang ditimbulkan oleh zat-zat kimia di atas, beralih dari rokok konvensional ke vape bukanlah solusi kesehatan yang tepat. Para tenaga medis mengimbau masyarakat untuk mengambil langkah berhenti merokok secara total demi menjaga kualitas hidup.
Proses berhenti mengonsumsi nikotin dapat dilakukan secara mandiri melalui pola hidup sehat, atau dengan berkonsultasi kepada fasilitas kesehatan untuk mendapatkan Terapi Pengganti Nikotin (NRT) serta pendampingan medis yang tepat. (**)
Sumber: Hallosehat.com
Editor: Syaifuk Aries
What's Your Reaction?

