Seorang Arkeolog Temukan Homo Erectus di Selat Madura, Ungkap Kebenaran Sundaland

Situs ini mengungkap bukti kuat tentang keberadaan Sundaland, benua purba yang tenggelam akibat naiknya permukaan air laut pada akhir zaman es.

10 Jun 2025 - 10:17
Seorang Arkeolog Temukan Homo Erectus di Selat Madura, Ungkap Kebenaran Sundaland
Peta wilayah Sundaland. (X.com/Potret Lawas)

SUARAJATIMPOST.COM—Arkeologis luar biasa ditemukan di perairan Selat Madura yang memisahkan Pulau Jawa dan Madura. Sebuah situs fosil hominid bawah laut ditemukan di wilayah ini. Penemuan ini berpotensi mengubah pemahaman kita tentang sejarah umat manusia dan planet bumi.

Situs ini mengungkap bukti kuat tentang keberadaan Sundaland, benua purba yang tenggelam akibat naiknya permukaan air laut pada akhir zaman es.

Seorang arkeolog dari Universitas Leiden, Harold Berghuis yang memimpin penelitian ini menemukan dua fragmen tengkorak Homo erectus berusia antara 119.000 hingga 162.000 tahun.

Fosil manusia purba tersebut ditemukan bersama lebih dari 6.000 fosil vertebrata lainnya. Termasuk komodo, kerbau, rusa, dan Stegodon, gajah purba yang telah punah.

Tanda-tanda pada fosil menunjukkan bahwa Homo erectus saat itu telah menggunakan senjata untuk berburu, sebuah fakta yang dapat mengubah perspektif tentang kemampuan kognitif spesies ini.

Berghuis menjelaskan, hilangnya daratan Sundaland terjadi akibat mencairnya gletser sekitar 14.000 hingga 7.000 tahun yang lalu. Riset ini dipublikasikan melalui jurnal ilmiah ScienceDirect, meskipun masih dalam tahap pengembangan lebih lanjut.

"Periode ini menunjukkan keragaman morfologi dan tingginya mobilitas populasi hominid di wilayah tersebut," jelas Berghuis sebagaimana dilansir Beritasatu.com pada Selasa (10/6/2025).

"Sungai-sungai besar yang mengalir sepanjang tahun di Sundaland kemungkinan besar menyediakan lingkungan ideal bagi Homo erectus. Khususnya di akhir Pleistosen Tengah dengan iklim yang relatif kering," lanjutnya.

Dia juga mengungkapkan temuan lainnya yang memperkuat dugaan perilaku berburu dan konsumsi makanan kompleks, termasuk bekas potongan pada tulang kura-kura air dan banyaknya tulang sapi yang patah. Hal ini menunjukkan Homo erectus tidak hanya berburu tetapi juga mengonsumsi sumsum tulang.

Temuan ini berbeda dengan populasi Homo erectus awal di Jawa, yang belum menunjukkan praktik serupa. Berghuis menduga perilaku ini ditiru dari spesies manusia modern dari daratan Asia, yang mengindikasikan kemungkinan adanya kontak antarkelompok hominid atau bahkan pertukaran genetik.

"Kami menyajikan hasil penelitian dalam empat artikel bergambar yang komprehensif, membuka jendela unik ke dalam sejarah Sundaland yang tenggelam sekitar 140.000 tahun lalu," ujarnya.

Fosil-fosil tersebut berasal dari lembah sungai yang tergenang dan lama-kelamaan tertutup oleh endapan pasir. Tim peneliti berhasil memperkirakan usia lapisan material tersebut berasal dari periode glasial kedua terakhir, ketika sebagian besar belahan bumi utara tertutup es.

Saat itu, permukaan laut global berada 100 meter lebih rendah dari sekarang karena sebagian besar air tersimpan di lapisan es kutub. (**)

Editor: Ali Wafa

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow