Seni Hitam Putih Mendaki ke Batu: Komunitas Ilustrasi Idiom Gelar Pameran Black & White di Galeri Raos

Komunitas Ilustrasi Idiom membawa Black & White Season 2 ke Batu, mempertemukan perupa era 90-an dan 2000-an dalam dialog visual hitam putih lintas generasi.

11 Jul 2025 - 17:38
Seni Hitam Putih Mendaki ke Batu: Komunitas Ilustrasi Idiom Gelar Pameran Black & White di Galeri Raos
Pengunjung mengamati karya hitam putih yang menampilkan detail emosional hanya lewat permainan terang-gelap dan garis. (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP—Setahun setelah gelaran pertamanya di Sidoarjo, gerakan seni rupa hitam putih dari komunitas seni rupa asal Surabaya "Ilustrasi Idiom" kini bergerak ke arah lebih tinggi, tidak hanya secara geografis namun juga secara gagasan yang dibawa.

Dihelat di Galeri Raos, Kota Batu, edisi kedua dari pameran Black & White kini mengangkat tajuk “2 Dimension”, menandai babak baru dari inisiatif komunitas Ilustrasi Idiom untuk membangun jembatan lintas generasi dalam dunia seni lukis hitam putih Indonesia.

Ketua Komunitas Ilustrasi Idiom yakni Roman Chuza, menjelaskan bahwa makna dari tajuk 2 Dimension itu bukan sekedar soal teknis dua dimensi seni rupa yang meliputi cahaya dan ruang, tetapi lebih dari itu. 

"2 Dimensions bisa diartikan dua ekspektasi sosial dalam silaturahmi seni lukis, antara pelaku seni sepuh era 90-an sebagai penggagas, dengan generasi di era 2000-an sebagai penerus," jelas Roman, Jumat (11/7/2025). 

"Karena dua era ini saling mengisi serta saling bercerita dalam karya-karya hitam putih," imbuhnya.

Bagi Roman, Black & White bukan sekadar pameran, melainkan pergerakan yang membawa semangat penyelarasan antara pola pikir dan penilaian estetika di antara generasi. Karena itu, di setiap gelarannya selalu menghadirkan seniman senior dan karya para maestro lukisan hitam putih.

"Di edisi pertama tahun lalu kita menghadirkan karya mendiang ayah saya, almarhum Achmad Chusnan. Sedangkan sekarang kita menghadirkan karya dari almarhum Liem Keng, pelukis kondang lain asal Surabaya," ungkap Roman.

Tujuannya bukan untuk mengadu era atau teknik, tapi justru mempertemukan ide-ide dari masa yang berbeda dalam medan yang sama, dinding yang sama, dan momen yang bersamaan pula. 

Misi Menghidupkan Kembali Seni Hitam Putih

Sementara itu, Ridwan SS selaku wakil ketua dari komunitas Ilustrasi Idiom, menjelaskan kembali misi mereka, yakni lahir dari keresahan terhadap kecenderungan seni rupa hari ini yang terlalu bergantung pada warna dan material mahal. Baginya, kekuatan ide dan garis harusnya bisa berdiri sendiri.

"Selama ini kita memahami lukisan dari warnanya. Padahal dalam literatur seni, banyak pelukis besar menciptakan lukisan hanya dengan tinta, bolpoin, atau pensil di atas kertas," ujar Ridwan.

Jika pada edisi pertama tahun 2024 lalu para peserta masih acak dan boleh membawa karya lama, di edisi 2 ini para peserta diminta membuat karya baru, berukuran besar, dan dipilih berdasarkan kesiapan mereka memenuhi tantangan tersebut. 

"Bisa dibandingkan untuk edisi kedua ini jumlah pesertanya lebih sedikit, sekitar 20 peserta, hampir setengah dari tahun lalu yang jumlahnya mencapai 40 peserta," terang Ridwan.

Dari 25 karya yang menghiasi dinding Galeri Raos, adapun diantaranya penampilan karya maestro Liem Keng sebagai supporting art. Karya Liem Keng sendiri kerap memantik perbincangan dikalangan seniman, yakni tentang penyebutan karya Liem Keng yang merupakan sebuah lukisan atau sketsa.

"Kalau menurut saya, karya Liem Keng itu bukan sketsa. Dia menangkap momen, menangkap gerak, dan ketika garisnya selesai, itu berarti sudah lukisan. Bukan rancangan, tapi karya jadi," tegas Ridwan.

Secara keseluruhan, seniman yang berpartisipasi dalam pameran kali ini meliputi: Liem Keng (alm), Setyoko, Rahmat Widadi, Roman C, Ali Taufan, Citra RSD Dharma Aji, Agus Salim, Velita At, Aszmy, Atya, Nining Zaro, Tomo, Gustaf Esupriyono76, Hadie G, Ridwan SS, Tri T Wibowo, Ratih Nawang Wulan, Webeech, Anthoock Batubeling, Buggy, Dona R, Hyank Welldo, dan Yang Bo.

Sarasehan; Ruang Bertemu Dua Era

Serupa seperti edisi pertama, Pameran Black & White kali ini juga menghadirkan sesi Sarasehan, yakni sesi diskusi antar perupa dari berbagai kalangan untuk saling berbagi ilmu. Edisi kali ini menghadirkan dua seniman Kondang dari Kota Batu, yakni Koeboe Sarawan dan Slamet Henkus.

Koeboe selaku seniman senior, mengaku terkesan dengan semangat generasi mulenial yang tampil di Black & White Season 2. Menurutnya, para pelukis milenial hari ini memiliki progres luar biasa berkat kebebasan eksplorasi yang terbuka lebar oleh teknologi dan akses informasi. 

"Sekarang itu seniman bebas merdeka. Mereka bisa masuk ke dunia seni tanpa harus lewat akademi. Bisa dari disiplin lain, bahkan otodidak. Itu luar biasa dan tak bisa temukan di generasi saya yang dibesarkan dalam pendekatan klasik dan akademik,” kata Koeboe.

Lebih dari sekadar pujian, ia juga memberi tantangan, yaitu memperbesar skala karya untuk meningkatkan intensitas pengalaman visual yang ditawarkan lukisan hitam putih. Namun ia juga mengingatkan, bahwa kesederhanaan warna bukan berarti kesederhanaan emosi.

"Hitam putih itu proses yang elegan. Untuk menyampaikan emosi hanya lewat dua warna itu tantangan. Bagaimana caranya ekspresi tetap terasa, aura tetap kuat, padahal hanya hitam dan putih," pesan Koeboe.

Gerakan komunitas Ilustrasi Idiom memang terus bergerak. Setelah pertama kali terbentuk dalam pameran Kolaborasi di Galeri DKS di Surabaya (2023), lalu paneran perdana di Dewan Kesenian Daerah Sidoarjo (Dekesda) (2024) lalu edisi kedua sekarang di Galeri Raos, Batu.

Mereka berencana menggelar pameran rutin setiap enam bulan sekali di berbagai kota. Bahkan mereka sudah memiliki rencana untuk menggelar edisi ketiga dengan dua pilihan lokasi, yakni Pendopo Keraton Yogyakarta dan Kota Madiun.

Target jangka panjangnya bukan hanya tur keliling nusantara, tapi juga menanam jejak sejarah bagi pendekatan hitam putih dalam seni rupa Indonesia, sebuah ekspresi visual yang kuat, sederhana, namun mendalam.

Dalam dunia seni rupa yang semakin ramai dengan warna, Black & White justru memilih langkah berani untuk menyaring ulang esensi karya visual. Di ruang sempit antara garis dan gelap terang itulah mereka membuka dimensi ke-dua, bukan hanya bagi karya, tapi juga bagi regenerasi pelukis Indonesia. (*)

Editor: Ali Wafa

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow