Sebulan, Kematian Sapi Karena PMK di Kota Batu Bertambah
DPKP Kota Batu selama ini sudah berupaya melakukan pencegahan melalui vaksin gratis kepada para peternak, agar PMK ini tidak bertambah.
KOTA BATU, SJP - Kota Batu kembali dihadapkan pada ancaman Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak. Dalam kurun waktu satu bulan, jumlah sapi yang mati akibat virus ini meningkat dari 3 ekor menjadi 9 ekor.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kota Batu, Heru Yulianto menyampaikan, pada Jumat (7/2/2025), bahwa data tersebut dihimpun sejak Januari hingga 5 Februari 2025.
"Selain itu, sebanyak 31 sapi dilaporkan sakit, dua ekor terpaksa dipotong paksa, dua ekor dimusnahkan, dan dua lainnya masuk kategori berisiko tinggi terinfeksi PMK," ungkapnya.
Pihaknya selama ini sudah berupaya melakukan pencegahan melalui vaksin gratis kepada para peternak, agar PMK ini tidak bertambah.
"Berbagai langkah telah dilakukan untuk mengendalikan penyebaran penyakit mulai dari vaksinasi, distribusi obat-obatan, hingga sosialisasi kepada peternak tentang cara pencegahan sudah kami lakukan,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengaku pihaknya telah menerima 3.525 dosis vaksin PMK dari Kementerian Pertanian melalui Dinas Peternakan Jawa Timur. Namun, baru 923 dosis yang berhasil diberikan kepada sapi di berbagai desa terdampak.
Tak hanya pemberian vaksin, DPKP Kota Batu jiga mengintensifikasi penyemprotan disinfektan di kandang peternak dan pasar hewan, serta bekerja sama dengan petugas kesehatan hewan untuk pemantauan rutin termasuk penanganan langsung pada kandang yang terindikasi PMK.
DPKP bahkan juga membentuk tim reaksi cepat untuk merespons laporan peternak yang menemukan gejala PMK pada ternaknya. Sosialisasi nomor kontak layanan darurat PMK juga telah dilakukan agar penanganan bisa lebih cepat.
Namun, tantangan besar masih dihadapi. Jumlah vaksin yang tersedia belum mencukupi kebutuhan untuk populasi sapi perah dan sapi potong yang mencapai lebih dari 11 ribu ekor di Kota Batu.
"Untuk memenuhi kekurangan itu, kami terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan mengupayakan alokasi dana dari Anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk pembelian vaksin tambahan serta obat-obatan," pungkas Heru. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

