Sampah di Wisata Gantangan Satu Titik Masih Jadi PR Pemkot Malang

Tentunya harus ada satu treatment atau prosesi sehingga lahan tersebut layak dan memenuhi keinginan Disporapar sebagai pengembang

28 Feb 2024 - 02:00
Sampah di Wisata Gantangan Satu Titik Masih Jadi PR Pemkot Malang
Plakat Gantangan Burung Pemkot Malang di depan tumpukan sampah (Hafid/SJP)

Kota Malang, SJP – Arena gantangan burung atau tempat perlombaan kicau burung yang sedianya sudah dipersiapkan Pemerintah Kota (Pemkot) Malang di Jalan Lowokdoro, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Jawa Timur masih butuh perlakuan khusus dalam perkembangannya.

Resmi dibuka mantan Wali Kota Malang Sutiaji pada tanggal 17 September 2023 tahun lalu, Tempat Pembuangan Sampah (TPS) dan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah bergeser menjadi 'Wisata Gantangan Satu Titik' yang hingga hari ini menyisakan Pekerjaan Rumah (PR) Pemkot Malang.

Diperlukan usaha secara detail bagi Pemkot Malang khususnya sisa sampah yang tampak masih menumpuk dan menyisakan bau.

Meski masyarakat perlahan sadar tidak membuang sampah lagi usai terpasang plakat peringatan dan adanya sekuriti di area ini.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Noer Rahman Wijaya katakan bahwa secara aset, bekas TPA di area tersebut dialihkan ke Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar). 

"Secara garis besar, peralihan hak aset dari DLH yang dulu TPA dialih fungsikan ke Disporapar Kota Malang, artinya peralihan aset sudah menjadi kewenangan Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Kota Malang (Disporapar) sebagai pengampu, makanya di sana sesuai dengan program Disporapar termasuk dibuatnya gantangan burung untuk Kota Malang," terangnya saat dikonfirmasi Suarajatimpost.

Namun begitu, tentunya masih banyak bekas sampah-sampah yang berada di TPA tersebut, maka secara perlakuan (sampah) harus dilakukan proses pemadatan, sehingga pengembangan pada lahan bekas TPA tersebut mudah dilakukan.

"Ada pengembangan dibeberapa lokasi, yang saya denger ya, tapi pastinya terkait dengan perencanaan dan proses pengembangan tidak tahu persisnya, kalau untuk anggaran dan pendanaanya sudah ada di tahun 2024 namun untuk teknis kurang tahu secara detail," imbuhnya.

Terkait sisa sampah yang berada di ex TPA ini, Noer Rahman perkirakan bakal diperlukan proses pemadatan jika nantinya bakal ada bangunan di atas tanah diarea bekas sampah tersebut. 

Hal itu sebagai cara agar lahan siap bangun sebagimana mestinya termasuk metode CBR yang merupakan suatu perbandingan antara beban percobaan (test load) dengan beban Standar (Standard Load) dan dinyatakan dalam persentase. 

Diketahui metode CBR dikembangkan untuk mengukur kapasitas daya dukung, beban tanah dan beban perkerasan jalan.

Nilai CBR dapat diketahui dengan 2 metode yaitu Lapangan dan juga bisa di uji Laboratoriumkan.

"Nanti untuk khusus pemadatan agar menjadi fungsional sebagai lahan, ada sistem urukan, terus nanti juga ada CBR, karena kalau langsung ditumpangi kondisinya rawan ya, jadi memang harus ada mekanisme pemadatan seperti yang saya sampaikan tadi," paparnya.

Noer Rahman berharap hal ini masuk dalam perencanaan, sebab karakteristik TPA yang lama dibutuhkan perlakuan khusus agar tanah bekas sampah dapat dipergunakan dengan baik.

"Ini tentunya harus ada satu treatment atau prosesi sehingga lahan tersebut layak dan memenuhi keinginan Disporapar sebagai pengembang," tandasnya.

Lebih lanjut Noer Rahman katakan jika untuk Proses pemadatan banyak metode yang bisa dilakukan seperti Sanitary Renville yang merupakan sistem penyaringan air sampah dengan membuat sejumlah kolam dimana kolam terakhir ikan bisa hidup sehingga air tersebut layak untuk dibuang ke sungai.

Dengan sistem tersebut, air sampah tidak dilangsung terserap tanah dan mencemarinya namun disaring terlebih dahulu.

"Kalau yang di Supiturang (Malang) pemadatan ada 4 tahapan atau 4 sub sel jadi ada membran, setelah membran ada bukaan awal, kemudian sampah diuruk, sampai tahapan tutupan akhir namanya. Tentunya, ada perilaku-perilaku khusus, terkait bagaimana treatment yang awalnya TPA digunakan atau difungsikan sebagai lahan. Mau dikasih bangunan, atau apa sajalah makanya diperlukan proses pemadatan agar bangunan diatasnya dapat stabil," pungkasnya.

Sementara, sekuriti yang berada di arena gantangan burung bernama Rafael katakan bahwa diperkirakan lahan yang masih ada tumpukan sampah disebelah bangunan bakal dibangun lahan parkir.

Sebab peminat gantangan mengeluhkan bau sampah yang berdekatan dengan arena dan lahan parkir dan fasilitas yang kurang memadai.

"Mungkin bulan depan mau dibangun parkiran, soalnya banyak peminat lomba gantangan burung mengeluhkan kurangnya parkir dan masih adanya sampah juga beberapa bulan awal dibangun belum ada atapnya di tempat gantungan kurungan burung," katanya saat dikonfirmasi.

Menurutnya peminat lomba kicau burung juga banyak dari berbagai daerah dari luar Kota Malang dan terkadang menggunakan transportasi bus. 

Rafael juga katakan kegiatan lomba belum terlalu padat, menurutnya kemungkinan menunggu bakal diluaskan dan ada penambahan arena gantangan.

"Sementara belum digunakan secara rutin, mungkin masih menunggu dibangun lagi tempat parkir dan ada tambahan buat tempat gantungan burung, untuk pemainnya dari luar kota Malang ada dari Surabaya bahkan dari Bandung mas" pungkasnya.(*)

Editor: Tri Sukma

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow