Ribuan Kue Kucur Alirkan Doa: Kadhisah Jurang Sapi Bondowoso Jaga Persaudaraan Jelang Ramadan

Tradisi selamatan desa Kadhisah di Jurangsapi kembali digelar dengan Festival Kucur ketiga, menghadirkan ribuan kue kucur sebagai simbol persatuan sepuluh pedukuhan dan doa keselamatan menjelang Ramadhan.

14 Feb 2026 - 21:33
Ribuan Kue Kucur Alirkan Doa: Kadhisah Jurang Sapi Bondowoso Jaga Persaudaraan Jelang Ramadan
Replika sapi yang dihias kue kucur, menjadi sarat makna dan filosofi yang menggambarkan letak geografis Desa Jurang Sapi (Foto : Rizqi/SJP)

BONDOWOSO, SJP – Sore ini, Sabtu 14 Februari 2026, aroma gula merah dan santan menyeruak di antara derap langkah warga yang berbaris membawa gunungan. Di tangan mereka, kue-kue cucur tersusun rapi, menghias gunungan dan replika hewan seperti sapi yang dihias dengan ratusan kue cucur beraneka warna.

Bukan sekadar jajanan pasar, kue tradisional cucur atau yang karib disebut kue kucur oleh masyarakat, menjadi pusat perhatian dalam Kadhisah atau selamatan desa yang telah mengakar kuat di Desa Jurang Sapi Kecamatan Tapen, Kabupaten Bondowoso.

Tahun ini, Kadhisah terasa berbeda. Untuk ketiga kalinya 'Festival Kucur' digelar, namun kini memiliki lokasi yang lebih bermakna, yakni, lahan aset desa yang tengah dibangun kantor koperasi desa merah putih (KDMP)

Arak-arakan gunungan kue kucur bermuara di lahan aset desa yang bersebelahan dengan pembangunan KDMP. Usai arak-arakan, ribuan warga berdesakan berebut kue kucur untuk dibawa pulang.

Festival tahunan ini menjadi denyut utama perayaan Kadhisah. Setiap pedukuhan, yang jumlahnya sepuluh dusun, mengirimkan perwakilan dengan membawa lima hingga delapan gunungan. Jika dihitung, ribuan kue kucur tersaji hari itu. Jumlahnya mungkin tak terhitung pasti, namun semangatnya terasa melimpah.

Di balik bentuknya yang sederhana, kue kucur menyimpan filosofi mendalam. Bagian tengah yang menonjol dimaknai sebagai pusat pemerintahan desa. Sementara lingkaran bundarnya melambangkan sepuluh pedukuhan yang mengitari dan menguatkan satu sama lain.

“Ini simbol bahwa kita satu. Sepuluh pedukuhan melingkar, bersatu mendukung kebijakan desa dan kabupaten,” tutur H Hasbi Hasidi, Kepala Desa Jurang Sapi, usai acara, Sabtu (14/2/2026) kepada suarajatimpost.com.

Tradisi ini bukan sekadar seremoni tahunan. Kadhisah adalah doa bersama yang dirawat turun-temurun. Sejak malam sebelumnya, warga telah berkumpul di balai desa untuk rokat dan pembacaan doa.

Puncaknya adalah Festival Kucur dan selamatan bersama, memohon keselamatan desa serta kelancaran menyongsong bulan suci Ramadan.

“Intinya untuk keselamatan desa dan kebersamaan demi kemajuan,” kata Hasbi singkat, namun sarat makna.

Festival Kucur juga menjadi upaya menyelamatkan warisan kuliner yang mulai jarang ditemui. Kue kucur, yang dahulu akrab di setiap hajatan, kini semakin sedikit pembuatnya.

"Melalui festival ini, desa berusaha menghidupkan kembali keterampilan yang hampir punah ini," sebut Hasbi.

Tak hanya tradisi, denyut ekonomi warga pun ikut bergerak. Sebanyak 13 tenda UMKM asli Desa Jurang Sapi turut meramaikan acara.

"Pemerintah desa bahkan telah menyiapkan agenda lanjutan Pasar Ramadan yang akan berlangsung selama sebulan penuh," terangnya.

Kadhisah di Desa Jurang Sapi lebih dari sekadar pesta rakyat. Kegiatan ini, adalah cara masyarakat merawat ingatan kolektif, mengikat persaudaraan, dan menanamkan harapan.

"Di antara manisnya kue kucur dan gemuruh arak-arakan, terselip doa agar desa tetap rukun, makmur, dan selamat dari segala mara bahaya. Itu yang terpenting," tandasnya.

Selain itu, Kadhisah kali ini digelar di lokasi yang baru. Tempat itu bukan dipilih tanpa alasan. Pemerintah desa ingin menyampaikan pesan bahwa Desa Jurang sapi sedang melangkah maju, menguatkan fondasi ekonomi dari desa sendiri.

“Supaya warga tahu, desa kita sudah punya kantor koperasi merah putih,” pungkasnya.

Sementara itu, Camat Tapen, Sidik Waluyo menerangkan, tradisi ini mungkin sederhana. Namun di sanalah kekuatannya: pada kebersamaan yang dirawat, pada warisan yang dijaga, dan pada keyakinan bahwa kemajuan desa berawal dari persatuan warganya.

"Ini perlu dirawat, dilestarikan dan terus dilaksanakan agar memberikan dampak positif bagi masyarakat, khususnya Desa Jurang Sapi," tandasnya singkat. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow