Rever Academy Dorong Siswa Jadi Trendsetter Lewat Karya Berbasis Budaya Indonesia

Melalui gelaran Live Art Thalassie 2026, sebanyak 10 Future Artist River Academy menampilkan karya berbasis budaya dan alam Nusantara sebagai upaya mencetak kreator yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga mampu menjadi trendsetter di tengah arus tren kecantikan global.

04 Jun 2026 - 22:35
Rever Academy Dorong Siswa Jadi Trendsetter Lewat Karya Berbasis Budaya Indonesia
Live Art Thalassie 2026: Ajang unjuk karya siswi River Academymemilih konsep yang ingin mereka tonjolkan sesuai karakter dan kreativitas masing-masing. (Foto: Jefri Yulianto/suarajatimpost.com)

SURABAYA, SJP - Kekayaan budaya Indonesia menjadi fondasi utama yang ditanamkan Rever Academy kepada para siswanya untuk membangun identitas di industri kecantikan.

Melalui gelaran Live Art Thalassie 2026, sebanyak 10 Future Artist menampilkan karya berbasis budaya dan alam Nusantara sebagai upaya mencetak kreator yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga mampu menjadi trendsetter di tengah arus tren kecantikan global.

Di saat industri kecantikan dunia banyak dipengaruhi budaya populer Korea Selatan dan Barat, Rever Academy justru mendorong para siswa untuk menggali inspirasi dari lingkungan, tradisi, serta kekayaan budaya Indonesia yang dekat dengan kehidupan mereka. 

Hasilnya, lahir beragam karya yang tidak sekadar menonjolkan estetika, tetapi juga mengandung cerita, filosofi, dan identitas yang kuat.

Art Director Rever Academy, Marina Adia, mengatakan Live Art Thalassie merupakan ruang bagi para siswa untuk menampilkan hasil pembelajaran sekaligus mengekspresikan kreativitas sesuai karakter masing-masing.

“Ini adalah ajang unjuk karya. Kami memberikan kebebasan kepada setiap peserta untuk memilih konsep yang ingin mereka tonjolkan sesuai karakter dan kreativitas masing-masing,” ujar Marina, Kamis (3/6/2026).

Menurut Marina, kebebasan tersebut menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran karena setiap seniman perlu memiliki ciri khas agar mampu bertahan dan berkembang di industri kreatif yang kompetitif.

Karena itu, para peserta tidak hanya menampilkan kemampuan tata rias dan tata rambut, tetapi juga menghadirkan interpretasi personal terhadap berbagai tema yang dekat dengan budaya dan kehidupan masyarakat Indonesia. Ada yang terinspirasi dari laut, alam, perjalanan hidup, hingga proses transformasi diri.

Salah satu karya yang menarik perhatian adalah “Whisper of the Ocean” karya Margaretha Johanna. 

Melalui permainan bentuk dan tekstur rambut, sentuhan kombinasi yang dibua Margaretha menghadirkan visual ombak yang menggambarkan ketenangan sekaligus kekuatan laut. 

Karya tersebut mengingatkan pada hubungan panjang masyarakat Indonesia dengan lautan yang selama berabad-abad menjadi sumber kehidupan dan peradaban.

Inspirasi dari alam juga terlihat pada sejumlah karya hair design lainnya. Bagi para peserta, alam bukan sekadar objek visual, melainkan sumber nilai yang mengajarkan keseimbangan, keteguhan, dan harmoni dalam kehidupan.

Sri Wahyuni, misalnya, menghadirkan “Celestial Woven Crown”, sebuah karya hair art berbentuk mahkota imajinatif yang merepresentasikan kekuatan dan kebebasan berekspresi. 

Sementara Thesalonica Rajagukguk menampilkan “Rising From The Ashes”, karya yang menggambarkan keberanian seseorang bangkit dari kegagalan dan menemukan kembali kekuatan dalam dirinya.

“Kalau semua orang mengikuti tren yang sama, hasilnya akan seragam. Padahal setiap orang harus memiliki ciri khas agar bisa bertahan dan berkembang dalam industri kreatif,” kata Marina.

Pendekatan serupa juga terlihat pada kategori Professional Make up Artistry bertema Beauty Bridal. Evangeline Santoso menghadirkan konsep “Modern Gorgeous Bride” yang memadukan kecantikan alami dengan sentuhan glamor modern.

Genevieve Elleonora Yohans menampilkan “Sparkling Glam” yang merepresentasikan kemewahan dan kepercayaan diri perempuan melalui permainan kilau dan detail artistik.

Sementara itu, Irma Maulana Wulandari mengusung “Glimpse of Silver Dust” yang menghadirkan karakter kuat melalui dominasi warna perak dan detail kristal.

Dilanjutkan, dari karya artistik seni merias wajah dari Ledy Sesilia Limber menampilkan “The Sculpted Bride” dengan penekanan pada struktur wajah yang tegas, sedangkan Novita Maulana memperkenalkan “The Golden Ratio Glow” yang mengedepankan keseimbangan proporsi wajah dan kesan elegan.

Marina menjelaskan bahwa seluruh karya tersebut menunjukkan bahwa dunia kecantikan tidak hanya berbicara tentang keterampilan teknis. 

Lebih dari itu, tutur Marina bagi seorang makeup artist maupun hair stylist harus mampu membaca budaya, memahami emosi, dan menerjemahkan inspirasi menjadi karya yang memiliki makna.

“Indonesia memiliki begitu banyak budaya yang bisa diangkat. Kami ingin siswa menjadi inspirator dan trendsetter, bukan hanya mengikuti tren yang sedang populer,” ujarnya.

Marina meyakini dan optimia untuk mewujudkan tujuan tersebut, Rever Academy membekali para siswa dengan kemampuan teknis sekaligus kebebasan bereksplorasi. 

"Mereka tidak hanya dilatih menguasai teknik dasar tata rias dan tata rambut, tetapi juga diajak mengembangkan konsep, filosofi, dan identitas artistik yang menjadi pembeda setiap karya," jelasnya.

Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil, tambahnya. Sejumlah alumni Rever Academy telah berkarier di industri kecantikan internasional, bahkan salah satunya berhasil membuka salon di Sydney, Australia. 

Selain itu, Marina jugamengungkapkan untuk karya-karya siswi juga pernah mendapat perhatian komunitas kecantikan global dan tampil dalam majalah kecantikan ternama, Estetica Italia.

Bagi Marina, pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa kreativitas yang berakar pada budaya Indonesia memiliki daya saing tinggi di tingkat internasional. Karena itu, ia berharap para siswa terus percaya pada identitas dan karakter yang mereka miliki.

“Kami ingin siswa berkembang dengan kemampuan dan ciri khas mereka sendiri. Ketika mereka sukses, itu menjadi kebanggaan bagi Indonesia sekaligus membuktikan bahwa karya kreatif berbasis budaya lokal mampu diterima dunia,” pungkasnya. (**)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow