Rencana Alih Fungsi Gedung Kesenian Probolinggo Dikritik Pemuda Muhammadiyah

Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kota Probolinggo menilai, wacana alih fungsi Gedung Kesenian yang telah beberapa tahun bergulir tiba-tiba tanpa adanya ruang dialog yang memadai dengan para pegiat seni dan budaya.

26 Aug 2025 - 07:05
Rencana Alih Fungsi Gedung Kesenian Probolinggo Dikritik Pemuda Muhammadiyah
M. Fendik, Ketua Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kota Probolinggo dalam sebuah kesempatan (Arsip PDPM/SJP)

KOTA PROBOLINGGO, SJP — Rencana Pemerintah Kota Probolinggo untuk mengalihfungsikan Gedung Kesenian menjadi gedung tenis indoor menuai kritik dari sejumlah kalangan, termasuk Pemuda Muhammadiyah. 

Kebijakan yang dinilai terburu-buru dan tidak melibatkan dialog tersebut dianggap mengancam ruang berkembangnya kesenian lokal.

Kritik ini disampaikan oleh M. Fendik, Ketua Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kota Probolinggo. 

Menurutnya, wacana alih fungsi yang telah beberapa tahun bergulir tiba-tiba telah dianggarkan tanpa adanya ruang dialog yang memadai dengan para pegiat seni.

“Kebijakan ini terkesan terburu-buru dan tanpa dialog. Isu ini sudah sering digaungkan tahun ke tahun tetapi baru kali ini langsung dianggarkan, sementara pemerintah belum bisa memberikan ruang pengganti yang layak bagi kesenian di Probolinggo,” kata Fendik, Senin, 25/08/2025).

Fendik menegaskan bahwa Gedung Kesenian memainkan peran krusial sebagai penopang pelestarian budaya, terlebih letaknya bersebelahan dengan Museum Probolinggo. 

Keberadaan kedua gedung tersebut memudahkan masyarakat dalam mengakses dan mempelajari kesenian serta kebudayaan kota.

“Pemerintah perlu banyak membaca Roadmap Kesenian Kota Probolinggo. Kebijakan harusnya bukan soal untung-rugi semata, tapi bagaimana membuat masyarakat mencintai sejarah dan kesenian asli Probolinggo,” imbuhnya.

Ia mengkhawatirkan nasib puluhan pegiat seni dan masyarakat yang selama ini menggantungkan aktivitasnya di gedung tersebut. 

Setiap hari, gedung itu digunakan untuk melatih bakat anak-anak serta menjadi tempat pertunjukan dan pagelaran budaya.

“Lantas, perjuangan para pegiat seni ini akan digantikan oleh kegiatan latihan tenis yang mungkin hanya dinikmati segelintir orang, sangat disayangkan,” ujarnya.

Fendi mengusulkan beberapa alternatif, seperti merehabilitasi Gor Ayani atau Gor Mastrip yang sudah ada untuk dijadikan lapangan tenis indoor, atau mengoptimalkan Gedung Kesenian untuk pagelaran yang dapat mendatangkan pendapatan daerah.

“Kecuali memang ada agenda political self interest, yaitu politik yang dipraktikkan untuk keuntungan individu atau kelompok tertentu, bukan untuk kepentingan publik yang lebih luas. Kesenian Kota Probolinggo butuh diperhatikan, bukan malah dibatasi ruang geraknya,” tandas Fendi.

Sebelumnya, persoalan ini mencuat saat rapat Panitia Khusus (Pansus) DPRD terkait Raperda Pajak dan Retribusi Daerah. 

Pemkot Probolinggo mengusulkan gedung kembali menjadi tenis indoor, lengkap dengan tarif retribusi baru.

Nantinya gedung akan dikembalikan ke fungsi awal sebagai lapangan tenis dan dikelola Dispopar.

Sementara untuk gedung kesenian, akan dipindah ke Komplek Kampung Seni di samping TRA Jalan Hayam Wuruk, yang dikelola Disdikbud. (*)

Editor: Rizqi Ardian 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow