Relawan Muda UIN Malang Siap Terjun Tangani Bencana Alam
Untuk keperluan simulasi Lapangan utama Kampus I disulap menjadi area bencana. Mahasiswa mempraktikkan penggunaan radio komunikasi, evakuasi korban, hingga penanganan medis cepat laiknya tim SAR profesional.
Kota Malang, SJP - Tidak diragukan lagi, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sangat peduli terkait dengan penanganan kebencanaan.
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang , menggembleng para relawan muda tangguh melalui Pelatihan dan Simulasi Mitigasi Bencana berskala komprehensif, Sabtu (22/11/2025) guna menjadikan mahasiswa tidak hanya cerdas akademik, tetapi juga siap terjun sebagai garda terdepan penyelamat saat musibah datang.
Kegiatan yang berlangsung seharian penuh ini dirancang untuk memperkuat pengetahuan, ketangkasan, serta ketahanan mental mahasiswa dalam menghadapi berbagai situasi darurat.
Dibuka secara resmi di Aula HTQ Masjid Ulul Albab oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Triyo Supriyatno, acara kemudian berlanjut hingga lapangan utama kampus untuk praktik lapangan intensif.
Ketua Panitia sekaligus Ketua Pokja Kemahasiswaan, Romi Faslah, menegaskan bahwa pelatihan ini adalah bagian dari komitmen kampus untuk melahirkan mahasiswa yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga memiliki jiwa kemanusiaan tinggi.
“Pelatihan ini penting untuk memberikan pengetahuan, keterampilan praktis, dan kesiapan mental kepada mahasiswa dalam menghadapi situasi darurat,” tegasnya.
Adapun peserta pelatihan bukan mahasiswa sembarang mahasiswa. Mereka merupakan utusan dari UKM Menwa, Mapala, Pramuka, KSR PMI, serta musyrif dan musyrifah Ma’had Al-Jami’ah—semua dikenal sebagai kelompok dengan disiplin dan kemampuan fisik yang mumpuni.
Untuk memperkuat akurasi dan kualitas materi, UIN Malang menggandeng langsung para ahli dari:
RAPI Kota Malang, BPBD Kota Malang dan Kota Batu, praktisi medis kebencanaan dari FKIK UIN Malang
Pada sesi indoor, peserta digembleng dengan materi manajemen kedaruratan gedung, mitigasi bencana, teknik komunikasi bencana, hingga first aid dalam kondisi kedaruratan.
Untuk keperluan simulasi Lapangan utama Kampus I disulap menjadi area bencana. Mahasiswa mempraktikkan penggunaan radio komunikasi, evakuasi korban, hingga penanganan medis cepat laiknya tim SAR profesional.
Menurut Romi Faslah, simulasi ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa untuk menguji mental dan kemampuan teknis yang telah mereka pelajari.
Romi menambahkan, ia berharap para mahasiswa yang terlibat nantinya mampu menjadi garda terdepan dalam edukasi kebencanaan dan bahkan bergabung dalam barisan relawan ketika terjadi bencana sesungguhnya.
“Bekal ini diharapkan menjadikan mahasiswa tidak hanya mampu menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga orang lain, serta menjadi bagian aktif dari penanggulangan bencana,” pungkasnya.
What's Your Reaction?

